BUNGO, bungopos.com — Kabut asap yang menyelimuti wilayah Bungo tidak memadamkan semangat keluarga besar MTsN 1 Bungo untuk menjaga kebersihan dan kenyamanan lingkungan pendidikan. Meski kegiatan belajar mengajar berlangsung melalui Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), kepedulian terhadap madrasah tetap diwujudkan melalui aksi nyata: membersihkan dan merawat lingkungan sekolah.
Di tengah penyesuaian aktivitas akibat kondisi udara yang kurang mendukung, sejumlah staf MTsN 1 Bungo memanfaatkan waktu untuk membersihkan halaman, merapikan pekarangan, serta menjaga area di sekitar bangunan madrasah agar tetap bersih dan terawat.
Kegiatan ini menegaskan bahwa tanggung jawab terhadap lingkungan pendidikan tidak berhenti ketika ruang kelas sementara ditinggalkan. Merawat fasilitas madrasah juga merupakan bagian dari upaya menciptakan lingkungan belajar yang sehat, nyaman, dan siap digunakan kembali ketika pembelajaran tatap muka berlangsung.
Salah satu staf MTsN 1 Bungo, Hendra Saputra, menegaskan bahwa menjaga kebersihan merupakan tanggung jawab bersama yang perlu terus dilaksanakan dalam berbagai situasi.
“Walaupun saat ini pembelajaran dilaksanakan dari rumah karena kondisi kabut asap, kebersihan madrasah tetap menjadi perhatian kita. Lingkungan yang bersih perlu dijaga agar ketika kegiatan pembelajaran tatap muka kembali berlangsung, madrasah sudah dalam keadaan rapi dan nyaman,” ungkap Hendra.
Apresiasi juga disampaikan Kepala MTsN 1 Bungo, Khairul Fahmi, S.Pd.I. Ia menilai semangat para staf dalam merawat lingkungan madrasah mencerminkan kedisiplinan, kepedulian, dan tanggung jawab yang perlu dipelihara di lingkungan pendidikan.
Menurutnya, produktivitas tidak hanya diukur melalui aktivitas pembelajaran di dalam kelas, tetapi juga melalui kontribusi nyata dalam menjaga fasilitas dan mendukung keberlangsungan pendidikan.
“Dalam kondisi kabut asap seperti ini, kesehatan dan keselamatan warga madrasah tetap menjadi prioritas. Namun, kepedulian terhadap kebersihan lingkungan juga tidak boleh diabaikan. Kita harus tetap produktif dengan menyesuaikan aktivitas terhadap kondisi yang ada, tanpa mengabaikan faktor kesehatan,” tutur Khairul Fahmi.
Komitmen tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya membangun budaya peduli lingkungan di lembaga pendidikan. Kebersihan bukan semata-mata persoalan estetika, melainkan bagian dari kedisiplinan, kenyamanan, dan tanggung jawab kolektif dalam menjaga fasilitas publik.
Meski demikian, kondisi kabut asap menuntut kewaspadaan. Aktivitas di luar ruangan perlu disesuaikan dengan kualitas udara dan kondisi kesehatan. Upaya menjaga lingkungan harus tetap berjalan dengan mengutamakan keselamatan seluruh warga madrasah.
Bagi MTsN 1 Bungo, menjaga madrasah tetap bersih dan terawat merupakan bentuk kesiapan menyambut kembali kegiatan pembelajaran tatap muka. Lebih dari itu, aksi sederhana ini menjadi teladan bahwa kepedulian tidak harus menunggu keadaan ideal untuk diwujudkan.
Kabut asap boleh membatasi ruang gerak, tetapi semangat menjaga lingkungan pendidikan tetap menyala. Di MTsN 1 Bungo, kepedulian diwujudkan melalui tindakan nyata demi menciptakan madrasah yang bersih, nyaman, dan mendukung masa depan generasi muda. (***)