DIPANGKAS : Jam belajar di MAN 2 Bungo dipangkas selama kabut asap

Kabut Asap Mencekik Bungo, MAN 2 Pangkas Jam Belajar Demi Keselamatan Siswa

MUARO BUNGO, bungopos.com — Kabut asap yang kian pekat di Kabupaten Bungo mulai mengubah ritme pendidikan. Di tengah memburuknya kualitas udara akibat kebakaran hutan dan lahan, Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Bungo mengambil langkah antisipatif dengan mempercepat jam pelajaran agar kegiatan belajar mengajar selesai lebih awal.

Keputusan tersebut diambil menyusul kondisi udara yang dalam beberapa hari terakhir semakin mengkhawatirkan. Asap yang menyelimuti sejumlah wilayah tidak hanya mengurangi jarak pandang, tetapi juga meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi anak-anak dan kelompok rentan terhadap masalah pernapasan.

Alih-alih menghentikan kegiatan pendidikan, pihak madrasah memilih menyesuaikan jadwal sebagai bentuk kompromi antara keberlangsungan proses belajar dan perlindungan kesehatan warga sekolah. Dengan demikian, aktivitas akademik tetap berjalan tanpa mengabaikan situasi lingkungan yang sedang memburuk.

Kepala MAN 2 Bungo, Dra. Hj. Masniah, S.Pd., mengatakan penyesuaian jam pelajaran merupakan langkah pencegahan untuk melindungi siswa dan tenaga pendidik dari paparan kabut asap yang berlebihan.

“Kami menyesuaikan jam pelajaran agar kegiatan belajar tetap berjalan, namun tetap memperhatikan aspek kesehatan dan keselamatan semua warga madrasah,” ujarnya.

Pihak madrasah juga mengimbau siswa dan orang tua agar meningkatkan kewaspadaan. Penggunaan masker ketika berada di luar ruangan, membatasi aktivitas di tengah kabut asap tebal, serta menjaga kondisi kesehatan menjadi bagian penting dari langkah perlindungan yang dianjurkan.

Penyesuaian serupa juga mulai dilakukan sejumlah sekolah lain di Kabupaten Bungo. Langkah ini menunjukkan bahwa dampak kebakaran hutan dan lahan tidak berhenti pada persoalan lingkungan, tetapi telah merembet ke sektor pendidikan, kesehatan, dan aktivitas sosial masyarakat.

Di sisi lain, pemerintah daerah terus memantau perkembangan kualitas udara dan berkoordinasi dengan instansi terkait untuk menangani sumber asap serta mengurangi dampaknya terhadap masyarakat.

Kabut asap yang menyelimuti Bungo menjadi pengingat bahwa krisis lingkungan memiliki konsekuensi langsung terhadap kehidupan sehari-hari. Ketika ruang kelas harus menyesuaikan diri dengan kondisi udara, persoalan kebakaran hutan dan lahan bukan lagi sekadar isu ekologis, melainkan ancaman nyata terhadap hak masyarakat untuk belajar, bekerja, dan hidup dalam lingkungan yang sehat. (***)

Editor: Arya Abisatya
Sumber: https://man2bungo.mdrsh.id/