JUARA I NASIONAL : Tim dari Universitas Jambi

Olah Limbah Nanas Jadi Peluang Ekonomi Hijau, Mahasiswa UNJA Raih Juara 1 dan Best Presentation Nasional

JAMBI, bungopos.com  — Inovasi yang menghubungkan pelestarian lingkungan dengan penguatan ekonomi masyarakat mengantarkan Tim Trikarsa Universitas Jambi (UNJA) meraih Juara 1 sekaligus penghargaan Best Presentation dalam Lomba Esai Nasional pada ajang National Agricultural Competition (NAC) Week 2026. Prestasi ini menjadi bukti bahwa kolaborasi lintas disiplin ilmu dapat melahirkan gagasan yang relevan bagi tantangan pembangunan berkelanjutan.

Penghargaan tersebut diserahkan dalam rangkaian Seminar Nasional dan Awarding NAC Week 2026 di Gedung UNIFAC Lantai 1, Kampus UNJA Mendalo, Sabtu (3/10/2026). Kompetisi ini diselenggarakan oleh Fakultas Pertanian (Faperta) UNJA dengan mengangkat tema “Sinergi Generasi Muda dalam Mengembangkan Kreativitas dan Inovasi Berbasis Teknologi untuk Transformasi Pertanian yang Berkelanjutan”.

Tim Trikarsa terdiri atas tiga mahasiswa dari dua fakultas. Nabila Destiani dari Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), bertindak sebagai ketua tim. Ia berkolaborasi dengan Fakhri Arkan Mubarok dan Najla Aulia Sandri dari Program Studi Bisnis Digital, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB).

Ketiganya mengusung esai berjudul “Strategi N.A.N.A.S: Hilirisasi Pertanian Bebas Asap melalui Pengolahan Serat Nanas Berkelanjutan guna Mendorong Daya Saing UMKM Tangkit Baru”. Gagasan tersebut menawarkan pendekatan ekonomi sirkular dengan mengubah limbah pertanian yang selama ini menjadi persoalan lingkungan menjadi bahan baku produk bernilai ekonomi.

NAC Week 2026 mempertemukan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia melalui tiga cabang kompetisi, yakni Business Plan Competition (BPC), esai, dan infografis. Dari 70 tim peserta, sebanyak 27 tim berhasil melaju ke babak final, dengan total 81 peserta yang berasal dari tujuh perguruan tinggi: Universitas Jambi, Universitas Sriwijaya, Universitas Brawijaya, Universitas Riau, Universitas Sumatera Utara, Universitas Andalas, dan Universitas Halu Oleo.

Pada cabang esai, Tim Trikarsa harus bersaing dengan sembilan tim finalis lainnya dalam babak final yang berlangsung di Gedung UNIFAC Lantai 3 pada hari yang sama.

Saat membuka rangkaian kegiatan, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Faperta UNJA, Dr. Fuad Muchlis, S.P., M.Si., menegaskan pentingnya kompetisi sebagai ruang pembelajaran untuk membangun kapasitas dan daya saing mahasiswa.

Ia mendorong mahasiswa agar tidak membatasi orientasi prestasi pada tingkat lokal maupun regional, tetapi berani membangun perspektif nasional dan global. Menurutnya, pengalaman berkompetisi menjadi bekal penting bagi lulusan untuk menghadapi persaingan di dunia kerja dan lingkungan profesional.

Mengubah persoalan lingkungan menjadi peluang ekonomi

Gagasan Tim Trikarsa berangkat dari persoalan limbah daun nanas di Desa Tangkit Baru, Kecamatan Sungai Gelam, Kabupaten Muaro Jambi, yang dikenal sebagai salah satu sentra produksi nanas di Provinsi Jambi.

Dalam kajian yang mereka susun, limbah daun nanas di wilayah tersebut diperkirakan mencapai 150 ton per minggu, sementara kurang dari 2 persen yang telah diolah. Daun nanas yang sulit terurai dan tingginya biaya pembersihan lahan secara manual membuat sebagian petani memilih membakarnya.

Praktik pembakaran tersebut berpotensi memperburuk pencemaran udara, meningkatkan risiko gangguan pernapasan, serta menimbulkan persoalan hukum dan lingkungan, terutama ketika dilakukan di kawasan gambut.

Bagi Tim Trikarsa, persoalan tersebut tidak cukup diselesaikan melalui larangan pembakaran semata. Diperlukan alternatif yang praktis, memberikan insentif ekonomi kepada petani, dan melibatkan masyarakat dalam rantai pengolahan limbah.

Atas dasar itu, mereka memperkenalkan Strategi N.A.N.A.S, yang merupakan singkatan dari Nir-Asap, Analisis Serat, Nutrisi Tanah, Aksi Komunitas, dan Sejahtera.

Strategi tersebut dirancang untuk mengintegrasikan pengelolaan limbah, pemanfaatan sumber daya lokal, pemberdayaan masyarakat, dan penciptaan nilai tambah ekonomi. Sekitar 3 persen bahan baku daun nanas direncanakan diolah menjadi serat daun nanas (pineapple leaf fiber) untuk mendukung produksi eco-fashion dan tas ramah lingkungan. Sementara itu, sekitar 97 persen sisanya diarahkan untuk diolah menjadi bahan pupuk organik melalui proses fermentasi.

Pengembangan model ini melibatkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), UMKM yang digerakkan pemuda, serta kelompok ibu-ibu Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK). Dengan pola tersebut, pengolahan limbah diharapkan tidak hanya mengurangi praktik pembakaran, tetapi juga membuka peluang usaha dan memperluas partisipasi ekonomi masyarakat desa.

Tim memproyeksikan potensi nilai ekonomi bersih mencapai Rp3.650.000 per ton limbah. Angka tersebut merupakan estimasi dalam gagasan mereka yang masih perlu diuji melalui penerapan langsung, termasuk dengan memperhitungkan biaya pengumpulan, pengolahan, peralatan, tenaga kerja, dan pemasaran.

Kolaborasi lintas disiplin untuk inovasi berkelanjutan

Ketua Tim Trikarsa, Nabila Destiani, mengungkapkan rasa syukur atas capaian tersebut. Menurutnya, gagasan N.A.N.A.S lahir dari keprihatinan terhadap persoalan kabut asap yang berulang kali dirasakan masyarakat Jambi.

“Kami ingin menunjukkan bahwa limbah daun nanas yang selama ini dibakar sebenarnya bisa menjadi sumber penghasilan baru bagi warga desa,” ujar Nabila.

Ia menjelaskan bahwa persiapan kompetisi berlangsung selama kurang lebih satu bulan. Tim mengumpulkan data dari berbagai sumber, termasuk melalui wawancara dengan petani nanas di Desa Tangkit Baru, untuk memahami persoalan yang dihadapi masyarakat secara langsung.

Temuan tersebut kemudian menjadi dasar penyusunan dan penyempurnaan esai secara kolaboratif. Proses ini mempertemukan perspektif pendidikan kewarganegaraan dan bisnis digital dalam merancang solusi yang mempertimbangkan aspek sosial, lingkungan, serta kelayakan ekonomi.

Fakhri Arkan Mubarok mengatakan bahwa perbedaan latar belakang akademik justru menjadi kekuatan tim dalam mengembangkan gagasan.

“Dari sisi bisnis, kami menghitung agar gagasan ini tidak hanya baik untuk lingkungan, tetapi juga layak secara ekonomi dan bisa berjalan secara mandiri,” katanya.

Sementara itu, Najla Aulia Sandri berharap prestasi tersebut dapat mendorong lebih banyak mahasiswa untuk terlibat dalam kompetisi dan mengembangkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.

Baginya, kemenangan bukan sekadar pencapaian akademik, melainkan juga motivasi untuk terus belajar, menguji gagasan, dan menghasilkan karya yang berdampak.

Dari gagasan akademik menuju penerapan nyata

Keberhasilan Tim Trikarsa membawa pesan yang lebih luas tentang peran perguruan tinggi dalam menjawab tantangan pembangunan. Inovasi pertanian berkelanjutan tidak hanya berkaitan dengan peningkatan produksi, tetapi juga kemampuan mengelola limbah, memperkuat usaha mikro, menciptakan lapangan kerja, dan menjaga kualitas lingkungan.

Pendekatan yang ditawarkan Tim Trikarsa sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular, yaitu memaksimalkan pemanfaatan sumber daya dan mengurangi limbah melalui pengolahan kembali menjadi produk yang bernilai. Jika dikembangkan secara terukur, model ini berpotensi mempertemukan kepentingan petani, pelaku UMKM, pemerintah desa, dan konsumen yang semakin memperhatikan aspek keberlanjutan.

Meski demikian, keberhasilan implementasinya akan bergantung pada pengujian teknis pengolahan serat dan pupuk organik, kepastian pasar, standar kualitas produk, serta pembagian manfaat ekonomi yang adil bagi petani dan masyarakat.

Tim Trikarsa berharap Strategi N.A.N.A.S tidak berhenti sebagai karya kompetisi, tetapi dapat dikembangkan bersama pemerintah desa, pelaku usaha, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya.

Bagi Universitas Jambi, prestasi ini menjadi contoh bagaimana kreativitas mahasiswa dapat diarahkan untuk menghasilkan solusi berbasis potensi lokal dengan relevansi yang lebih luas. Dari daun nanas yang sebelumnya dianggap limbah, lahir sebuah gagasan tentang masa depan pertanian yang lebih bersih, produktif, dan inklusif—ketika inovasi tidak hanya diukur dari penghargaan yang diraih, tetapi juga dari manfaat nyata yang dapat dirasakan masyarakat. (***)

Editor: Arya Abisatya
Sumber: https://www.unja.ac.id/