JAMBI, bungopos.com — Nama Universitas Jambi (UNJA) kembali mendapat tempat dalam peta riset internasional. Prof. Akhmad Habibi, S.Pd.I., M.Pd., Ph.D., dosen Program Studi Administrasi Pendidikan dan Magister Teknologi Pendidikan, tercatat dalam daftar World’s Top 2% Scientists edisi 2025 dan 2026 yang disusun melalui kolaborasi peneliti Stanford University dan penerbit ilmiah Elsevier.
Pengakuan tersebut menempatkan Prof. Habibi di antara ilmuwan dengan dampak penelitian tinggi berdasarkan data bibliometrik Scopus. Ia disebut menjadi satu-satunya perwakilan Universitas Jambi sekaligus Provinsi Jambi dalam daftar tersebut.
Pencapaian ini tidak sekadar berbicara tentang produktivitas publikasi ilmiah. Lebih jauh, pengakuan tersebut mencerminkan bagaimana penelitian yang dikembangkan seorang akademisi dari Jambi mampu menjangkau komunitas ilmiah internasional dan menjadi rujukan bagi penelitian berikutnya.
“Pencapaian ini mencerminkan konsistensi publikasi dan sitasi karya saya di bidang educational technology. Ini bukan sekadar jumlah artikel, melainkan pengaruh riset yang dirasakan peneliti lain secara global,” ujar Prof. Habibi.
Daftar World’s Top 2% Scientists dikembangkan oleh tim peneliti yang dipimpin Prof. John P.A. Ioannidis dari Stanford University bersama Elsevier. Penilaiannya menggunakan sejumlah indikator bibliometrik, antara lain jumlah sitasi, indeks h, posisi kepengarangan, serta skor komposit atau composite score (c-score), dengan penyesuaian terhadap faktor seperti sitasi terhadap karya sendiri dan dampak kolaborasi.
Daftar tersebut terdiri atas dua kategori utama, yakni single-year, yang mengukur dampak publikasi dalam periode satu tahun, dan career-long, yang mencerminkan dampak sepanjang karier ilmiah. Nama Prof. Habibi tercatat dalam kategori single-year.
Bagi Prof. Habibi, capaian tersebut merupakan hasil dari proses panjang yang bertumpu pada konsistensi meneliti, membangun kolaborasi, dan mengembangkan tema-tema yang relevan dengan perubahan dunia pendidikan.
Ia telah menghasilkan lebih dari 145 artikel yang terindeks Scopus. Fokus penelitiannya mencakup teknologi pendidikan, Technology Acceptance Model (TAM), Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK), pembelajaran elektronik atau e-learning, hingga integrasi teknologi dan kecerdasan buatan dalam pendidikan.
Menurutnya, produktivitas publikasi harus berjalan seiring dengan kontribusi nyata bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Riset yang relevan, didukung landasan teori yang kuat dan kolaborasi lintas negara, berpeluang menjangkau pembaca yang lebih luas serta menjadi rujukan bagi penelitian lain.
“Faktor utamanya adalah produktivitas dan dampak sitasi yang konsisten. Kolaborasi internasional serta pemilihan topik yang relevan membuat karya mudah dikutip. Ini hasil kerja sama, bukan kerja sendiri,” katanya.
Salah satu karya yang menonjol adalah penelitian mengenai pengembangan model TAM untuk memprediksi niat mahasiswa menggunakan platform pembelajaran berbasis metaverse. Artikel yang terbit pada 2023 di jurnal Education and Information Technologies tersebut telah memperoleh lebih dari 1.000 sitasi, menurut data yang disampaikan Prof. Habibi.
Karya lain yang banyak dirujuk membahas penggunaan e-learning selama pandemi Covid-19 dalam konteks pendidikan sains olahraga. Penelitian itu diterbitkan pada 2020 di jurnal Heliyon.
Tema-tema tersebut memperlihatkan bagaimana riset teknologi pendidikan terus berkembang mengikuti perubahan perilaku belajar, adopsi platform digital, dan pemanfaatan kecerdasan buatan. Kajian mengenai TAM, TPACK, penerimaan ChatGPT, serta integrasi teknologi informasi dan komunikasi oleh guru maupun mahasiswa menjadi bagian dari diskursus penting dalam transformasi pendidikan.
Namun, menghasilkan penelitian yang mampu menembus jurnal internasional bereputasi bukan perkara mudah. Prof. Habibi mengatakan, peneliti perlu mengidentifikasi persoalan aktual yang masih memiliki celah penelitian, mengikuti perkembangan literatur, membangun kolaborasi internasional, serta menerapkan metode analisis yang sesuai dengan pertanyaan penelitian, termasuk Structural Equation Modeling (SEM) ketika relevan.
Pengalamannya sebagai reviewer jurnal juga menjadi bekal untuk memahami standar penilaian artikel ilmiah. Setiap naskah harus disusun dengan cermat, disesuaikan dengan ruang lingkup jurnal tujuan, dan diperbaiki melalui proses revisi yang berulang.
“Setiap draf ditulis dengan cermat, direvisi berkali-kali, dan disesuaikan dengan scope serta gaya jurnal target. Konsistensi, ketekunan, dan umpan balik dari rekan sangat membantu menembus proses review yang ketat,” ujarnya.
Di balik capaian tersebut, terdapat tantangan yang tidak ringan. Menyeimbangkan tugas mengajar, tanggung jawab administratif, dan tuntutan menghasilkan penelitian berkualitas menjadi persoalan tersendiri, terutama ketika sumber daya terbatas.
Prof. Habibi mengatasinya melalui disiplin waktu dan penguatan jejaring kolaborasi internasional. Ia juga memandang penolakan jurnal sebagai bagian dari proses akademik yang dapat memberikan pelajaran untuk meningkatkan mutu penelitian.
“Setiap penolakan jurnal saya jadikan bahan perbaikan,” katanya.
Bagi Prof. Habibi, pengakuan internasional ini bukanlah pencapaian individual semata. Ia menyampaikan rasa syukur sekaligus mengapresiasi dukungan pimpinan universitas, keluarga, rekan peneliti, dan seluruh sivitas akademika UNJA yang turut membangun lingkungan akademik bagi perkembangan riset.
“Pengakuan ini bukan hanya milik saya, tetapi hasil dukungan Rektor, keluarga, rekan peneliti, dan sivitas UNJA. Saya merasa termotivasi untuk terus berkarya agar lebih banyak peneliti muda dari Jambi dan Indonesia yang bisa meraih prestasi serupa,” ungkapnya.
Ia berharap pencapaian tersebut dapat menjadi dorongan bagi dosen dan mahasiswa untuk menjadikan penelitian sebagai bagian penting dari pengembangan ilmu pengetahuan, bukan sekadar pemenuhan kewajiban akademik.
Kepada para dosen, ia berpesan agar mengutamakan kualitas penelitian, memperkuat penguasaan metodologi, dan tidak berhenti belajar ketika menghadapi penolakan publikasi. Sementara itu, mahasiswa didorong terlibat dalam kegiatan riset sejak dini, aktif berdiskusi, serta memanfaatkan fasilitas dan dukungan yang tersedia di kampus.
Membangun reputasi ilmiah, menurutnya, membutuhkan kesabaran, konsistensi, dan keterbukaan terhadap kolaborasi. Jaringan internasional juga perlu dibangun secara berkelanjutan agar penelitian dari daerah dapat berkontribusi dalam percakapan ilmiah global.
“Kesabaran dan konsistensi jauh lebih penting daripada kecepatan. Untuk mahasiswa, aktiflah dalam riset sejak dini dan jangan ragu bertanya. Semoga UNJA semakin banyak melahirkan peneliti yang berdampak global. Mari kita terus berkarya bersama,” tutupnya.
Prestasi Prof. Habibi memperlihatkan bahwa kontribusi ilmiah dari perguruan tinggi daerah memiliki peluang untuk menjangkau panggung internasional. Tantangan berikutnya adalah memastikan capaian tersebut menjadi bagian dari budaya riset yang berkelanjutan, memperkuat kolaborasi, dan mendorong lahirnya generasi peneliti baru yang mampu menghasilkan ilmu pengetahuan dengan dampak lebih luas bagi masyarakat. (***)