Juru Bicara Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Widyawati dalam Konferensi Pers di Jakarta. (Tangkapan layar kanal Youtube BNPB)

Jambi Masuk Daftar Tujuh Provinsi Darurat Asap, 400 Ribu Kasus ISPA Tercatat Akibat Karhutla

JAMBI, bungopos.com  – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan sekadar persoalan lingkungan. Ancaman yang ditimbulkannya telah berkembang menjadi masalah kesehatan masyarakat, dengan anak-anak, balita, dan lanjut usia menjadi kelompok yang paling rentan.

Provinsi Jambi termasuk dalam tujuh provinsi yang terdampak karhutla dengan beban penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang terus dipantau pemerintah pusat. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat sebanyak 401.586 kasus ISPA secara kumulatif di tujuh provinsi hingga 2 November 2026.

Data pemantauan Kemenkes pada pukul 18.00 WIB tersebut mencakup 63 kabupaten/kota. Bahkan, dalam satu hari, tepatnya 2 November, tercatat tambahan 3.906 kasus baru.

Juru Bicara Kemenkes, Widyawati, mengungkapkan bahwa tujuh provinsi yang masuk dalam pemantauan meliputi Jambi, Sumatra Selatan, Riau, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.

Keterlibatan Jambi dalam daftar wilayah terdampak menjadi perhatian tersendiri. Sebab, ancaman karhutla tidak berhenti ketika api berhasil dipadamkan. Partikel polutan yang dilepaskan ke udara dapat tetap mengganggu kesehatan masyarakat, terutama ketika paparan asap berlangsung dalam waktu lama.

Anak-anak menjadi kelompok paling rentan

Dari keseluruhan kasus yang tercatat, kelompok usia anak menunjukkan angka yang mengkhawatirkan. Sebanyak 91.913 kasus ISPA ditemukan pada balita berusia 0–5 tahun, sedangkan 87.704 kasus terjadi pada anak usia 6–9 tahun.

Sementara itu, kelompok lanjut usia di atas 60 tahun mencatat 56.092 kasus. Pemantauan Kemenkes juga mencakup 590 ibu hamil, 1.530 penderita asma, dan 8.086 pekerja yang beraktivitas di luar ruangan.

Besarnya jumlah kasus pada anak-anak memperlihatkan bahwa dampak karhutla tidak hanya dirasakan oleh masyarakat yang bekerja di sekitar kawasan kebakaran. Anak-anak yang menjalani aktivitas sehari-hari, termasuk bersekolah dan bermain di luar ruangan, juga menghadapi risiko paparan polusi udara.

Peningkatan penyakit pernapasan perlu diantisipasi

Kemenkes juga menemukan kecenderungan peningkatan kasus ISPA pada periode pertengahan Oktober hingga awal November 2026 berdasarkan pemantauan di lima provinsi, yakni Kalimantan Tengah, Sumatra Selatan, Riau, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Barat.

Peningkatan juga terlihat pada kasus pneumonia yang mendapatkan penanganan di rumah sakit. Kalimantan Timur menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian khusus.

Widyawati menegaskan bahwa perkembangan tersebut harus diantisipasi melalui pemantauan kesehatan yang lebih intensif, kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan, serta pemberian penanganan medis secara optimal.

Menurutnya, pneumonia merupakan gangguan kesehatan serius yang membutuhkan penanganan medis, terutama bagi kelompok rentan seperti balita, lansia, dan masyarakat dengan penyakit penyerta.

Selain gangguan pernapasan, dampak karhutla juga berpotensi memengaruhi kesehatan melalui penyakit lainnya. Kemenkes mencatat peningkatan kasus diare yang ditangani rumah sakit di Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Sumatra Selatan, dan Kalimantan Timur.

Kasus penyakit kulit dan gangguan mata juga ditemukan di sejumlah wilayah. Di Riau, misalnya, kasus gangguan kulit dan mata sempat meningkat pada 19–21 Oktober, dengan puncak sekitar 23 kasus dalam sehari.

Perlindungan kesehatan harus diperkuat

Menghadapi ancaman kesehatan akibat kabut asap, Kemenkes mengimbau masyarakat menjaga kebersihan diri dan lingkungan, menggunakan air bersih, serta memastikan makanan yang dikonsumsi tetap higienis.

Masyarakat juga diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. Penggunaan masker yang sesuai untuk menyaring partikel halus, terutama ketika harus beraktivitas di luar rumah, menjadi salah satu langkah perlindungan yang perlu diperhatikan.

Paparan asap juga dapat menyebabkan iritasi mata. Karena itu, masyarakat diimbau tidak menggosok mata ketika terasa perih atau gatal.

Dari sisi kesiapsiagaan, pemerintah telah menyiapkan 1.691 puskesmas, 360 rumah sakit rujukan, dan 87 layanan darurat lapangan untuk mendukung penanganan dampak kesehatan akibat karhutla.

Bagi Jambi, situasi ini menjadi pengingat bahwa penanggulangan kebakaran hutan dan lahan harus berjalan seiring dengan perlindungan kesehatan masyarakat. Upaya pemadaman api saja tidak cukup apabila dampak asap terhadap penduduk tidak ditangani secara serius.

Penguatan deteksi dini, pemantauan kualitas udara, perlindungan anak-anak dan kelompok rentan, serta kesiapan fasilitas kesehatan perlu menjadi bagian dari strategi pemerintah daerah.

Sebab, keberhasilan penanganan karhutla bukan hanya diukur dari luas lahan yang berhasil diselamatkan dari api, tetapi juga dari seberapa jauh masyarakat terlindungi dari ancaman penyakit akibat asap. (***)

Editor: Arya Abisatya
Sumber: NU Online