MUARA BUNGO, bungopos.com – Kabupaten Bungo kehilangan salah satu tokoh paling berpengaruh dalam perjalanan pembangunan daerah. Drs. H. Zulfikar Achmad, mantan Bupati Bungo dua periode sekaligus Anggota DPR RI, meninggal dunia di Rumah Sakit Premier Jakarta, Rabu (4/11/2026).
Kepergian sosok yang dikenal luas sebagai Bapak Pembangunan Bungo tersebut bukan sekadar kehilangan seorang mantan kepala daerah. Bagi masyarakat Bungo, Zulfikar merupakan bagian penting dari perjalanan transformasi daerah, seorang pemimpin yang mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk pemerintahan, pembangunan, dan perjuangan politik.
Bupati Bungo, H. Dedy Putra, menyampaikan belasungkawa mendalam atas wafatnya tokoh senior tersebut. Atas nama pribadi, keluarga, Pemerintah Kabupaten Bungo, dan seluruh masyarakat, ia menyebut kepergian Zulfikar sebagai kehilangan besar bagi Bumi Langkah Serentak Limbai Seayun.
"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Atas nama pribadi, keluarga, Pemerintah Kabupaten Bungo, dan seluruh masyarakat Bungo, saya menyampaikan duka cita yang sangat mendalam atas berpulangnya orang tua kita, guru kita, dan pendahulu kita, almarhum Bapak H. Zulfikar Achmad," ujar Dedy Putra, Rabu (4/11/2026).
Menurut Dedy, almarhum merupakan figur pemimpin visioner yang meletakkan fondasi penting bagi pembangunan Kabupaten Bungo. Sepuluh tahun kepemimpinannya sebagai bupati meninggalkan jejak yang tidak terpisahkan dari perkembangan daerah hingga saat ini.
"Almarhum bukan hanya sekadar pemimpin, tetapi inspirator dan peletak fondasi penting pembangunan di Bumi Langkah Serentak Limbai Seayun. Karya, gagasan, dan perjuangan beliau akan selalu hidup dan tercatat dalam sejarah Kabupaten Bungo," ungkapnya.
Dari Tanah Tumbuh hingga Panggung Politik NasionalDrs. H. Zulfikar Achmad lahir di Tanah Tumbuh, Kabupaten Bungo, pada 17 Mei 1946. Perjalanan pendidikannya dimulai dari Sekolah Rakyat, kemudian dilanjutkan ke SMP Negeri Muara Bungo dan SMA Negeri Bangko.
Ia kemudian menempuh pendidikan di Akademi Tata Laksana Pelayaran Niaga (ATPN) di Jakarta sebelum meraih gelar sarjana Ilmu Administrasi dari Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta pada 1985.
Sebelum memasuki pemerintahan, Zulfikar membangun pengalaman panjang di dunia usaha. Ia pernah menduduki sejumlah posisi strategis di perusahaan pelayaran, perdagangan, dan perhotelan. Pengalaman tersebut membentuk perspektif kepemimpinannya, terutama dalam memahami pengelolaan organisasi, manajemen, dan pembangunan ekonomi.
Perpaduan pengalaman bisnis dan aktivitas organisasi menjadi bekal penting ketika ia memasuki dunia pemerintahan.
Satu Dekade Memimpin Bungo: Warisan KepemimpinanMomentum penting dalam perjalanan kariernya terjadi pada 2001, ketika Zulfikar dipercaya menjadi Bupati Bungo untuk periode pertama, 2001–2006. Kepercayaan masyarakat kembali mengantarkannya memimpin daerah tersebut pada periode kedua, 2006–2011.
Sepuluh tahun kepemimpinannya menempatkan Zulfikar sebagai salah satu figur sentral dalam sejarah pemerintahan Kabupaten Bungo.
Pada masa itu, agenda pembangunan daerah menjadi bagian penting dari arah kepemimpinannya. Penguatan infrastruktur, peningkatan pelayanan publik, pengembangan potensi ekonomi daerah, serta pembangunan berbagai sektor menjadi dimensi penting dalam perjalanan pembangunan Bungo.
Julukan Bapak Pembangunan Bungo mencerminkan pengakuan masyarakat terhadap peran dan kontribusinya selama memimpin daerah.
Namun, warisan seorang pemimpin tidak semata-mata diukur dari lamanya menduduki jabatan. Lebih dari itu, kepemimpinan dikenang melalui fondasi kebijakan, arah pembangunan, dan perubahan yang dapat dirasakan oleh generasi berikutnya.
Pengabdian Berlanjut ke SenayanSetelah menyelesaikan dua periode kepemimpinannya sebagai bupati, Zulfikar tidak meninggalkan panggung pengabdian publik.
Ia melanjutkan kiprahnya ke tingkat nasional melalui DPR RI. Ia terpilih sebagai anggota legislatif dari daerah pemilihan Jambi untuk periode 2014–2019 dan kembali dipercaya pada periode 2019–2024.
Pada Pemilu 2024, ia kembali memperoleh mandat masyarakat untuk menjadi anggota DPR RI periode 2024–2029 melalui Partai Demokrat.
Kiprahnya di parlemen menjadi kelanjutan perjalanan panjang seorang putra daerah yang berupaya membawa aspirasi masyarakat Jambi ke tingkat nasional.
Dalam perjalanan politiknya, Zulfikar juga pernah mengikuti kontestasi Pemilihan Gubernur Jambi pada 2010. Langkah tersebut memperlihatkan besarnya ruang pengabdian dan pengaruh politik yang dibangunnya selama berkarier.
Jejak yang Melampaui JabatanWafatnya Zulfikar Achmad menandai berakhirnya perjalanan panjang seorang pengusaha, birokrat, kepala daerah, dan politisi senior yang telah melewati berbagai fase kehidupan publik.
Bagi Kabupaten Bungo, namanya akan selalu terhubung dengan satu dekade penting dalam sejarah pembangunan daerah. Bagi generasi penerus, perjalanan hidupnya menjadi pengingat bahwa pembangunan membutuhkan visi, keberanian mengambil keputusan, kesinambungan kebijakan, dan komitmen terhadap kepentingan masyarakat.
Bupati Dedy Putra mengajak seluruh masyarakat Bungo untuk memaafkan almarhum dan mendoakan agar seluruh amal ibadahnya diterima Allah SWT.
"Mari kita doakan almarhum diampuni segala dosa dan kekhilafannya, diterima amal ibadahnya, serta keluarga yang ditinggalkan senantiasa diberi keikhlasan dan ketabahan," tuturnya.
Kepergian Zulfikar Achmad meninggalkan ruang kosong dalam perjalanan sejarah kepemimpinan Bungo. Namun, gagasan, pengabdian, dan jejak pembangunan yang pernah diperjuangkannya akan terus menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat.
Sebab, seorang pemimpin mungkin telah meninggalkan jabatannya, bahkan telah berpulang, tetapi warisan pengabdiannya akan terus hidup dalam perjalanan daerah yang pernah dipimpinnya. (***)