BERBAHAYA : Kenali gejala pikun sejak dini

Jutaan Lansia Terancam Pikun, Yuk Kenali Gejalanya!

YOGYAKARTA, bungopos.com — Lupa menaruh barang, mengulang pertanyaan, atau sesekali kesulitan mengingat sesuatu kerap dianggap sebagai bagian biasa dari proses penuaan. Namun, ketika perubahan daya ingat mulai disertai perubahan perilaku, kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari, atau kebingungan yang semakin sering terjadi, keluarga perlu lebih waspada. Kondisi tersebut bisa menjadi tanda demensia yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.

Demensia bukan sekadar pikun akibat bertambahnya usia. Kondisi ini merupakan sindrom yang memengaruhi daya ingat, kemampuan berpikir, perilaku, dan kemampuan seseorang menjalani kehidupan sehari-hari. Tanpa pengenalan gejala sejak dini dan dukungan yang tepat, orang dengan demensia (ODD) berisiko kehilangan kemandirian secara bertahap, sementara keluarga dapat menghadapi beban perawatan yang semakin kompleks.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 55,2 juta orang di seluruh dunia hidup dengan demensia pada 2019. Jumlah tersebut diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 139 juta orang pada 2050 seiring pertumbuhan penduduk dan bertambahnya populasi lanjut usia.

Asia Selatan dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, menjadi salah satu kawasan dengan beban demensia yang besar. Data yang dikutip dalam laporan ini memperkirakan jumlah penderita di kawasan tersebut mencapai sekitar 20,1 juta orang. Sementara itu, Alzheimer Indonesia memperkirakan terdapat sekitar 1,2 juta orang dengan demensia di Indonesia pada 2016, dengan jumlah yang berpotensi meningkat menjadi 4 juta orang pada 2050.

Besarnya angka tersebut menunjukkan bahwa demensia bukan hanya persoalan kesehatan individu, melainkan juga tantangan bagi keluarga, masyarakat, dan sistem pelayanan kesehatan. Terlebih, Indonesia masih membutuhkan data nasional yang lebih kuat untuk menggambarkan jumlah penderita, kebutuhan perawatan, serta kesiapan layanan yang tersedia.

Dosen Keperawatan Jiwa dan Komunitas Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM), Dr. Sri Mulyani, S.Kep., Ns., M.Ng., menegaskan bahwa keluarga memiliki peran penting dalam mengenali perubahan yang dialami seseorang.

Sebagai orang terdekat, anggota keluarga biasanya menjadi pihak pertama yang menyadari ketika kebiasaan atau perilaku seseorang mulai berbeda dari biasanya.

“Biasanya orang terdekatlah yang pertama kali notice. Tahu ini kok jadi aneh, kok perilakunya begini. Yang paling mengganggu biasanya adalah perubahan perilakunya, bukan hanya lupa-lupanya,” jelasnya, Kamis (22/10/2026).

Menurut Sri, tidak semua kelupaan pada orang lanjut usia menunjukkan demensia. Akan tetapi, perubahan yang semakin sering terjadi, mengganggu aktivitas sehari-hari, atau disertai perubahan perilaku perlu mendapat perhatian. Pemeriksaan oleh tenaga kesehatan diperlukan untuk mengetahui penyebabnya dan menentukan penanganan yang sesuai.

Deteksi dini juga memberikan kesempatan bagi keluarga untuk memahami kondisi yang dihadapi, mempersiapkan perawatan, dan menjaga kualitas hidup orang yang mengalami demensia.

Setelah Diagnosis, Kehidupan Tetap Bisa Bermakna

Salah satu tantangan terbesar dalam menghadapi demensia adalah mempersiapkan perawatan jangka panjang. Sri menjelaskan bahwa pendampingan ODD melibatkan caregiver informal, seperti anggota keluarga dan tetangga, serta caregiver profesional, termasuk perawat, dokter, dan ahli gizi.

Keduanya memiliki peran penting dalam membantu ODD mempertahankan kemandirian, tetap aktif, dan menjalani kehidupan yang bermakna sesuai kemampuan mereka.

“Jadi, bukan berarti setelah terdiagnosis itu end of the world. Setelah diagnosis, keluarga tetap harus mendukung, melibatkan orang dengan demensia atau yang biasa disebut ODD, untuk tetap aktif. Kita juga tetap melibatkan dalam kegiatan-kegiatan keluarga, membantunya melakukan hobinya,” ujar Sri.

Pesan tersebut menegaskan bahwa diagnosis demensia tidak berarti seseorang harus kehilangan seluruh kesempatan untuk beraktivitas. Selama masih memungkinkan, ODD perlu dilibatkan dalam kegiatan keluarga, aktivitas sosial, dan hobi yang disukai.

Pendampingan yang tepat dapat membantu mempertahankan kemampuan yang masih dimiliki sekaligus menjaga rasa percaya diri dan hubungan sosial.

Namun, keluarga juga perlu memahami bahwa demensia merupakan kondisi progresif yang dapat memburuk seiring waktu. Kecepatan perkembangannya berbeda pada setiap orang. Dalam kondisi tertentu, ODD mungkin memerlukan bantuan untuk aktivitas dasar seperti mandi, berpakaian, dan makan, hingga pengawasan sepanjang hari.

Karena itu, perencanaan perawatan sebaiknya dimulai sejak diagnosis ditegakkan, bukan ketika kondisi sudah semakin berat.

Perencanaan tersebut meliputi pembagian tanggung jawab antaranggota keluarga, kesiapan pembiayaan, pilihan layanan kesehatan, serta pembicaraan mengenai keinginan pribadi ODD terkait perawatan dan pengelolaan harta benda ketika kemampuan mengambil keputusan mengalami perubahan.

Persiapan sejak dini dapat membantu keluarga menghadapi perkembangan kondisi secara lebih terarah sekaligus mengurangi risiko konflik dan tekanan ketika kebutuhan perawatan meningkat.

Rumah yang Aman, Perawatan yang Lebih Manusiawi

Perawatan demensia tidak selalu harus dimulai dengan perubahan besar. Penyesuaian sederhana di rumah dapat membantu ODD menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih aman dan mandiri.

Sri menjelaskan bahwa perawat dapat membantu keluarga mengenali gejala, menentukan kebutuhan pemeriksaan lanjutan, serta menata lingkungan sesuai kemampuan orang yang dirawat.

Misalnya, keluarga dapat memasang tanda yang mudah dibaca pada pintu toilet, menempatkan peralatan makan di lokasi yang mudah terlihat, serta menyimpan benda tajam, obat-obatan, dan barang berbahaya di tempat yang aman.

Pendekatan tersebut bertujuan mengurangi kebingungan dan risiko kecelakaan tanpa menghilangkan kesempatan ODD untuk melakukan aktivitas yang masih mampu dikerjakan.

Keluarga juga perlu menjaga komunikasi dengan tenang, memberikan instruksi sederhana, serta menghindari sikap menyalahkan ketika ODD melakukan kesalahan akibat gangguan kognitifnya.

Dengan dukungan yang sesuai, lingkungan rumah dapat menjadi bagian penting dari proses perawatan, bukan sekadar tempat tinggal.

Indonesia Membutuhkan Data dan Layanan yang Lebih Siap

Meski kesadaran mengenai demensia semakin penting, pemahaman masyarakat tentang kondisi ini masih menjadi tantangan. Banyak orang belum mengetahui perbedaan antara kelupaan yang lazim terjadi seiring pertambahan usia dan perubahan yang mengarah pada demensia.

“Jadi, tantangan terbesarnya adalah awareness dulu. Semua orang perlu tahu demensia itu apa, gejalanya seperti apa, agar bisa membedakan yang penuaan normal itu seperti apa, yang mengarah ke demensia itu yang seperti apa,” terang Sri.

Ia menilai edukasi masyarakat perlu disertai informasi praktis mengenai tempat pemeriksaan, mekanisme rujukan, serta layanan yang dapat diakses oleh ODD dan keluarganya. Pengetahuan mengenai gejala saja tidak cukup apabila masyarakat belum mengetahui langkah yang harus dilakukan ketika menemukan tanda-tanda tersebut.

Indonesia sebenarnya telah memiliki National Dementia Plan sejak 2016. Namun, menurut Sri, pelaksanaannya masih perlu diperkuat agar upaya pencegahan, deteksi dini, dan pelayanan bagi ODD dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas.

Ketersediaan data juga menjadi persoalan penting. Hingga kini, Indonesia masih membutuhkan gambaran nasional yang lebih representatif mengenai jumlah orang dengan demensia dan kebutuhan pelayanan mereka.

“Angka demensia di Indonesia itu belum ada data yang jelas. Yang ada itu penelitian yang skalanya tidak terlalu besar dan juga hasil-hasil screening, di mana screening itu berbeda dengan diagnosis,” ungkapnya.

Pemeriksaan skrining dapat membantu mengidentifikasi orang yang perlu menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Namun, hasil skrining tidak dapat langsung dianggap sebagai diagnosis demensia. Penetapan diagnosis memerlukan penilaian klinis yang sesuai.

Sri juga membandingkan upaya Indonesia dengan Singapura, yang menurutnya telah menjalankan berbagai langkah pencegahan secara intensif. Indonesia, lanjutnya, perlu memperkuat edukasi, deteksi dini, dan layanan keperawatan berbasis komunitas agar kebutuhan ODD dapat ditangani secara lebih baik, baik saat ini maupun pada masa mendatang.

Penguatan layanan tersebut membutuhkan kerja sama berbagai pihak, mulai dari pemerintah, tenaga kesehatan, fasilitas pelayanan kesehatan, hingga keluarga dan komunitas.

Mencegah Demensia Dimulai Jauh Sebelum Usia Lanjut

Selain mengenali gejala, pencegahan juga menjadi bagian penting dalam menghadapi peningkatan kasus demensia. Upaya ini tidak harus menunggu seseorang memasuki usia lanjut, tetapi dapat dimulai sejak masa kanak-kanak dan berlanjut sepanjang kehidupan.

Sri mengacu pada penelitian yang menunjukkan bahwa hingga sekitar 40 persen kasus demensia berpotensi dicegah atau ditunda melalui penanganan faktor risiko yang dapat dimodifikasi. Angka tersebut merupakan estimasi pada tingkat populasi, bukan jaminan bahwa setiap individu dapat terhindar dari demensia.

Menurutnya, edukasi kesehatan serta perhatian terhadap kesehatan jantung dan pembuluh darah menjadi bagian penting dari upaya pencegahan.

Hipertensi dan diabetes, misalnya, perlu dikendalikan karena dapat meningkatkan risiko gangguan pembuluh darah yang berkaitan dengan kesehatan otak. Kebiasaan makan juga perlu diperhatikan sejak dini, terutama dengan membatasi konsumsi berlebihan makanan cepat saji serta makanan dan minuman tinggi gula dan kalori.

Sebaliknya, pola makan seimbang, aktivitas fisik teratur, dan pengendalian faktor risiko kesehatan dapat membantu mendukung kesehatan tubuh sekaligus otak.

“Jadi, apa yang bagus untuk jantung juga bagus untuk perlindungan otak,” katanya.

Pesan ini penting karena kesehatan otak tidak dibentuk hanya ketika seseorang memasuki usia senja. Kebiasaan hidup yang dipelihara selama bertahun-tahun turut memengaruhi risiko berbagai gangguan kesehatan pada masa mendatang.

Melindungi Martabat ODD, Meringankan Beban Keluarga

Sri menegaskan bahwa demensia dapat berkembang selama bertahun-tahun sebelum seseorang membutuhkan pendampingan intensif, bahkan pengawasan selama 24 jam. Karena itu, upaya pencegahan, pengenalan gejala, pemeriksaan dini, dan persiapan perawatan perlu berjalan beriringan.

Bagi keluarga, memahami demensia berarti belajar menghadapi perubahan tanpa kehilangan empati. Bagi tenaga kesehatan, kondisi ini menuntut pelayanan yang berkesinambungan. Sementara bagi pemerintah dan masyarakat, demensia membutuhkan kebijakan, edukasi, dan layanan yang mampu menjangkau orang yang memerlukan bantuan.

Tantangan ke depan bukan hanya bagaimana memperpanjang usia harapan hidup, tetapi juga bagaimana memastikan masyarakat dapat menua dengan kualitas hidup yang baik.

Demensia memang dapat mengubah daya ingat, perilaku, dan kemandirian seseorang. Namun, dengan dukungan keluarga, perawatan yang tepat, serta lingkungan yang aman, ODD tetap dapat menjalani kehidupan yang bermakna.

Mengenali tanda sejak dini bukan berarti menakut-nakuti orang yang menua. Sebaliknya, langkah tersebut merupakan bentuk kepedulian agar perubahan yang membutuhkan perhatian tidak diabaikan, keluarga memiliki waktu untuk bersiap, dan setiap orang tetap mendapatkan perawatan yang manusiawi. (***)

Editor: Arya Abisatya
Sumber: https://ugm.ac.id/