BUNGO, bungopos.com — Pendidikan tidak hanya bertujuan mencerdaskan pikiran, tetapi juga membentuk karakter, menumbuhkan kepedulian, dan mengajarkan peserta didik untuk menghargai sesama. Semangat inilah yang menjadi bagian penting dari penguatan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) di madrasah, termasuk melalui pelaksanaan survei KBC di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Bungo.
Pelaksanaan survei berlangsung tertib dan lancar. Sebanyak 16 siswa mengikuti kegiatan dengan mengisi instrumen survei melalui smartphone masing-masing, didampingi para wali kelas untuk memastikan proses berjalan baik dan tidak mengalami kendala teknis.
Di ruang kelas X.A, Wali Kelas Epi Zarni, S.Pd., turut mendampingi siswa selama pengisian survei. Ia memastikan para peserta memahami tata cara pengisian serta memberikan arahan agar mereka menjawab setiap pertanyaan secara jujur sesuai dengan kondisi dan karakter diri masing-masing.
Pendampingan tersebut menjadi bagian penting dalam menciptakan suasana survei yang nyaman dan kondusif. Dengan arahan yang tepat, siswa dapat mengikuti kegiatan secara mandiri sekaligus memahami pentingnya memberikan jawaban yang sesuai dengan pengalaman mereka.
Kepala MAN 2 Bungo, Dra. Hj. Masniah, S.Pd., mengapresiasi keterlibatan Epi Zarni dan seluruh wali kelas dalam mendukung kelancaran kegiatan tersebut.
“Terima kasih kepada Ibu Epi Zarni dan seluruh wali kelas lainnya yang sudah turut memantau dan mendampingi 16 siswa kita dalam Survei KBC ini. Peran wali kelas sangat penting untuk memastikan survei berjalan lancar dan siswa merasa nyaman,” ujar Masniah.
Survei KBC menjadi salah satu upaya untuk memperoleh gambaran mengenai karakter peserta didik, meliputi religiusitas, integritas, kemandirian, gotong royong, dan kebinekaan. Informasi yang dihimpun diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat pendidikan karakter sesuai kebutuhan siswa dan lingkungan madrasah.
Lebih jauh, semangat Kurikulum Cinta mengingatkan bahwa keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari nilai akademik atau prestasi di ruang kelas. Pendidikan juga perlu menghadirkan lingkungan yang menghargai perbedaan, membangun empati, menanamkan kejujuran, serta membiasakan siswa bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan orang lain.
Dalam konteks ini, pemetaan karakter bukan sekadar kegiatan mengumpulkan data. Hasilnya dapat menjadi pijakan bagi madrasah untuk merancang pembinaan yang lebih tepat, memperkuat hubungan guru dan siswa, serta menciptakan proses belajar yang lebih inklusif dan bermakna.
Pelaksanaan survei di MAN 2 Bungo dijadwalkan berlangsung hingga 22 Oktober. Pihak madrasah berharap seluruh 16 siswa dapat menyelesaikan tahapan tersebut dengan baik sehingga hasilnya dapat mendukung upaya peningkatan kualitas pendidikan karakter.
Melalui kegiatan ini, MAN 2 Bungo menegaskan pentingnya sinergi antara guru, wali kelas, dan siswa dalam membangun budaya pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan manusia yang berintegritas, mandiri, peduli, dan mampu hidup berdampingan dalam keberagaman. (***)