DISULAP : Jerami dan Limbah jadi bahan baku baterai

Jerami dan Limbah Grafit Disulap Jadi Baterai Masa Depan

YOGYAKARTA, bungopos.com — Di tengah meningkatnya kebutuhan akan teknologi penyimpanan energi, lima mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) mencoba mencari jawaban dari sesuatu yang selama ini dianggap tidak bernilai: limbah.

Indonesia sebagai salah satu negara penghasil padi terbesar di dunia memiliki persediaan jerami yang melimpah. Namun, limbah sisa panen tersebut belum seluruhnya dimanfaatkan secara optimal. Pada saat yang sama, perkembangan teknologi baterai membuat kebutuhan terhadap material penyimpan energi alternatif semakin besar.

Dari dua persoalan itu lahirlah Carbonova, tim Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Riset Eksakta (PKM-RE) UGM yang mengembangkan material anoda baterai ion-natrium berbasis jerami padi dan limbah grafit dari baterai bekas.

Tim tersebut terdiri atas Gilang Romadhon dari Elektronika dan Instrumentasi 2024 sebagai ketua, bersama Zuhrul Anam dari Teknik Fisika 2024, Ethan Armana G. dari Matematika 2024, Asty Goviana dari Kimia 2025, serta Dinaesy Fadillah H. dari Antropologi 2025. Kelimanya merupakan mahasiswa asal Banyumas yang kini menempuh pendidikan sarjana di UGM.

Ketua Tim Carbonova, Gilang Romadhon, mengatakan gagasan penelitian tersebut berangkat dari sebuah pertanyaan sederhana: bagaimana sesuatu yang selama ini dianggap sebagai limbah dapat diubah menjadi material yang memiliki nilai bagi masa depan energi?

“Limbah sebenarnya masih memiliki potensi untuk menjadi solusi. Melalui penelitian ini, kami mencoba mengubah limbah menjadi material bernilai bagi masa depan energi,” ujar Gilang dalam keterangan yang dikirim pada 22 September 2026.

Penelitian mereka berjudul “Rekayasa Struktur Nitrogen-Doped Hard Carbon Berbasis Jerami Padi dengan Spacer Limbah Grafit untuk Peningkatan Performa Anoda Baterai Ion Natrium.”

Konsepnya adalah memanfaatkan jerami padi sebagai sumber karbon untuk menghasilkan material hard carbon. Sementara itu, limbah grafit dari baterai bekas digunakan sebagai spacer untuk membantu merekayasa struktur material tersebut.

Material kemudian melalui serangkaian proses penelitian dan karakterisasi sebelum diuji untuk melihat respons elektrokimianya. Tahapan tersebut diarahkan untuk menghasilkan kandidat material anoda bagi baterai ion-natrium.

Hasil pengujian awal menunjukkan material yang dikembangkan mampu memberikan respons elektrokimia dan menghasilkan kapasitas penyimpanan muatan. Temuan tersebut menjadi pijakan awal bagi tim untuk melakukan optimasi lebih lanjut terhadap struktur material maupun sistem baterai yang dikembangkan.

“Temuan ini menjadi hasil pendahuluan bagi Tim Carbonova untuk terus melakukan optimasi terhadap material dan sistem baterai yang dikembangkan,” kata Gilang.

Bagi Carbonova, penelitian ini bukan sekadar eksperimen laboratorium. Melalui skema Pekan Kreativitas Mahasiswa, mereka mencoba mengembangkan sekaligus menyempurnakan penelitian sebelumnya mengenai potensi hard carbon sebagai material anoda baterai.

Pilihan terhadap baterai ion-natrium juga membuka ruang eksplorasi material alternatif di tengah perkembangan teknologi baterai berbasis litium-ion. Dengan memanfaatkan bahan yang relatif mudah ditemukan, penelitian tersebut mencoba mempertemukan dua agenda sekaligus: pengelolaan limbah pertanian dan pencarian material alternatif untuk teknologi penyimpanan energi.

Carbonova berharap riset ini dapat menjadi langkah awal untuk meningkatkan nilai ekonomi limbah jerami dan grafit sekaligus membuka peluang pengembangan material anoda baterai ion-natrium berbasis sumber daya yang tersedia di Indonesia.

Bagi lima mahasiswa asal Banyumas itu, gagasannya sederhana tetapi memiliki cakupan yang jauh lebih besar: mengubah sesuatu yang dibuang menjadi bagian dari teknologi energi masa depan. (**)

Editor: Arya Abisatya
Sumber: https://ugm.ac.id/