MEMBURUK : Kualitas udara di Kota Jambi

Kualitas Udara Memburuk, Jambi Masuk Zona Merah BMKG

JAMBI, bungopos.com — Udara yang tampak biasa saja bisa menyimpan ancaman yang tidak kasatmata. Data kualitas udara yang ditampilkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Jumat, 18 September 2026 pukul 19.00 WIB menunjukkan sejumlah wilayah di Sumatra dan Kalimantan berada pada level kualitas udara yang patut diwaspadai.

Dalam pantauan tersebut, angka tertinggi tercatat di Mempawah dengan nilai 361,7. Kondisi serupa juga terlihat di Sintang yang mencapai 218,9. Sementara itu, Kota Jambi berada pada angka 155,5, disusul Muaro Jambi 134,9 dan Pangkalanbun 133,7.

Tampilan indikator BMKG memperlihatkan Mempawah berada pada kategori yang berbeda dengan wilayah lainnya, sementara Sintang dan Kota Jambi ditandai dengan indikator merah. Muaro Jambi dan Pangkalanbun berada pada indikator berwarna kuning.

Angka-angka tersebut bukan sekadar statistik di layar komputer. Di baliknya ada persoalan yang langsung bersentuhan dengan kehidupan sehari-hari: udara yang dihirup manusia setiap menit, setiap jam, tanpa pernah disadari.

Kondisi kualitas udara yang buruk dapat menjadi persoalan serius terutama bagi kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan dan penyakit kardiovaskular. Paparan udara tercemar juga dapat memicu berbagai keluhan, mulai dari iritasi saluran pernapasan, batuk, tenggorokan terasa tidak nyaman hingga sesak napas.

Bagi masyarakat, perubahan kualitas udara seharusnya menjadi sinyal untuk meningkatkan kewaspadaan. Aktivitas di luar ruangan dapat dikurangi ketika kondisi udara memburuk. Penggunaan masker yang sesuai, terutama ketika berada di kawasan dengan paparan partikulat tinggi, juga menjadi salah satu langkah perlindungan.

Yang tidak kalah penting adalah memantau informasi kualitas udara secara berkala. Sebab, kondisi atmosfer dapat berubah seiring waktu dan dipengaruhi berbagai faktor, termasuk arah angin, cuaca, sumber emisi, serta keberadaan asap dan partikulat di atmosfer.

Data BMKG tersebut sekaligus mengingatkan bahwa persoalan kualitas udara bukan hanya tentang langit yang terlihat berkabut atau jarak pandang yang menurun. Ancaman terbesar justru datang dari partikel-partikel yang begitu kecil sehingga tidak selalu terlihat oleh mata, tetapi dapat masuk bersama setiap tarikan napas.

Di tengah aktivitas masyarakat yang terus bergerak, kualitas udara menjadi bagian penting dari keselamatan publik. Udara bersih bukan sekadar kenyamanan, melainkan kebutuhan dasar yang menentukan kualitas hidup.

Karena itu, ketika angka kualitas udara mulai bergerak ke level yang mengkhawatirkan, kewaspadaan tidak seharusnya menunggu sampai gangguan pernapasan muncul. Apa yang tidak terlihat bukan berarti tidak berbahaya. Dan udara yang kita hirup hari ini adalah bagian dari kesehatan yang akan kita bawa hingga hari esok. (***)

Editor: Arya Abisatya
Sumber: https://www.bmkg.go.id/