CACING HATI : Mahasiswa UGM sedang meneliti manfaat penggunaan biji pepaya

Biji Pepaya Ternyata Bisa Obati Penyakit Cacing Hati, Begini Caranya

YOGYAKARTA, bungopos.com— Biji buah yang selama ini kerap berakhir sebagai limbah ternyata menyimpan peluang baru bagi dunia peternakan. Lima mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan penelitian yang menguji potensi ekstrak biji pepaya dan carica sebagai kandidat agen alami untuk menghambat perkembangan telur cacing hati pada sapi.

Cacing hati atau Fasciola sp. menjadi salah satu parasit yang dapat mengganggu kesehatan sekaligus produktivitas ternak. Infeksi yang dikenal sebagai fasciolosis itu juga dapat menimbulkan kerugian ekonomi bagi peternak karena hati sapi yang terinfeksi harus diafkir ketika pemeriksaan dilakukan setelah pemotongan.

Persoalannya tidak berhenti pada ternak. Fasciola sp. juga dikenal sebagai parasit zoonotik yang dapat menginfeksi manusia melalui konsumsi pangan atau paparan lingkungan yang terkontaminasi metaserkaria, yakni bentuk infektif dari parasit tersebut.

Kondisi itu mendorong tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) 2026 yang terdiri atas lima mahasiswa UGM untuk mencari alternatif pengendalian yang bersumber dari bahan alam. Tim yang menamakan diri FASCIORICA tersebut meneliti pemanfaatan ekstrak biji pepaya (Carica papaya L.) dan carica (Vasconcellea pubescens) sebagai kandidat agen ovisidal terhadap telur Fasciola sp.

Tim itu terdiri atas Nabila Hanifa Putri dari Fakultas Kedokteran Hewan angkatan 2024, Annisa Azka Nadine Wiseman dari Fakultas Biologi angkatan 2024, Fitriana Tsabita Utami dari Fakultas Kimia angkatan 2024, Aulia Tamara Jannati dari Program Studi Gizi angkatan 2024, serta Putri Lala Kirana dari Pengembangan Produk Agroindustri angkatan 2024.

Di bawah bimbingan dosen Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Dr. drh. Vika Ichsania Ninditya, mereka memilih biji pepaya dan carica karena kedua bahan tersebut relatif kurang dimanfaatkan, padahal mengandung senyawa bioaktif yang berpotensi dikembangkan sebagai agen ovisidal alami.

Ketua Tim PKM-RE FASCIORICA, Nabila Hanifa Putri, mengatakan penelitian tersebut berangkat dari keinginan untuk mengeksplorasi bahan alam yang selama ini belum banyak dimanfaatkan dalam pengendalian fasciolosis.

Biji pepaya diperoleh dari sisa pengolahan buah di wilayah Sleman, sementara biji carica berasal dari Wonosobo, salah satu daerah yang dikenal sebagai sentra pengolahan buah carica. Dengan pendekatan tersebut, penelitian tidak hanya menyasar persoalan parasit pada ternak, tetapi juga mencoba memberikan nilai tambah terhadap hasil samping pengolahan pangan.

“Kami ingin melihat apakah bahan yang selama ini dianggap sebagai sisa pengolahan buah dapat memiliki nilai tambah dalam pengendalian parasit,” ujar Nabila dalam keterangan yang diterima Rabu (16/9).

Urgensi penelitian semakin kuat karena fasciolosis masih ditemukan pada tingkat yang cukup tinggi. Penelitian sebelumnya di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, mencatat prevalensi fasciolosis pada sapi mencapai 47,2 persen.

Selama ini pengendalian parasit pada ternak masih banyak mengandalkan obat antiparasit sintetis. Menurut Nabila, pendekatan tersebut menghadapi sejumlah tantangan, antara lain potensi resistensi serta perbedaan efektivitas obat terhadap setiap stadium perkembangan parasit.

Dalam penelitian FASCIORICA, biji pepaya dan carica terlebih dahulu diolah menjadi ekstrak. Ekstrak tersebut kemudian diuji terhadap telur Fasciola sp. dengan sejumlah variasi perlakuan dan konsentrasi, termasuk penggunaan ekstrak secara tunggal maupun kombinasi.

Telur yang telah diberi perlakuan kemudian diinkubasi dan diamati menggunakan mikroskop. Para peneliti mencermati perubahan morfologi dan perkembangan telur untuk mengetahui sejauh mana ekstrak tersebut mampu menghambat perkembangan sekaligus menurunkan viabilitas telur Fasciola sp.

Hasil penelitian menunjukkan adanya perubahan morfologi pada telur setelah mendapat perlakuan. Perubahan tersebut antara lain bentuk telur yang berubah, kerusakan atau terbukanya dinding telur, hingga keluarnya isi telur.

Setelah 48 jam, mortalitas telur meningkat, terutama pada perlakuan kombinasi ekstrak biji pepaya dan carica yang mencapai sekitar 50–65 persen. Analisis penelitian juga menunjukkan adanya perbedaan signifikan antarkelompok perlakuan dengan nilai p<0,05.

Menariknya, pada pengamatan 24 jam, ekstrak carica menunjukkan efek ovisidal yang lebih cepat dibandingkan ekstrak pepaya. Sementara itu, kombinasi kedua ekstrak memperlihatkan potensi aktivitas ovisidal terhadap telur Fasciola gigantica.

Temuan tersebut masih berada pada tahap penelitian dan belum serta-merta menjadikan kedua bahan tersebut sebagai pengganti obat antiparasit. Namun, hasil awal itu membuka ruang bagi pengembangan riset lanjutan mengenai pemanfaatan bahan alam dalam pengendalian parasit pada ternak.

Bagi tim FASCIORICA, penelitian ini memiliki dua sisi sekaligus: mencari alternatif pengendalian fasciolosis dan mengubah sesuatu yang selama ini dianggap limbah menjadi bahan yang memiliki nilai tambah.

“Penelitian ini tidak hanya mengeksplorasi alternatif pengendalian parasit, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan hasil samping pengolahan buah menjadi bahan bernilai tambah,” pungkas Nabila. (***)

Editor: Arya Abisatya
Sumber: https://ugm.ac.id/