SEDANG BELAJAR : Siswa MTsN 4 Bungo membaca ulang sejarah Islam Nusantara

Dari Makkah ke Tiongkok, Siswa MTsN 4 Bungo Membaca Ulang Sejarah Islam Nusantara

MUARA BUNGO, bungopos.com — Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di MTs Negeri 4 Bungo tak berhenti pada hafalan nama tokoh, tempat, maupun angka tahun. Di kelas IX B, sejarah justru menjadi ruang bagi siswa untuk menguji berbagai perspektif dan memahami bagaimana Islam tumbuh di tengah keragaman budaya Nusantara.

Suasana pembelajaran yang dinamis itu terlihat dalam kegiatan SKI pada. Di bawah pendampingan guru pengampu, Andi Kustian, S.Pd.I., para siswa diajak membedah secara kritis sejumlah teori mengenai masuknya Islam ke Nusantara.

Pembelajaran berlangsung interaktif. Alih-alih sekadar menerima materi secara satu arah, siswa diperkenalkan pada beragam perspektif sejarah, mulai dari Teori Gujarat, Teori Makkah, Teori Persia hingga Teori Tiongkok. Mereka didorong untuk menyimak, memahami perbedaan argumentasi, serta melihat sejarah.dari lebih dari satu sudut pandang.

Bagi Andi Kustian, materi tersebut memiliki arti penting dalam membangun cara pandang historis peserta didik. Sejarah, menurut dia, tidak semestinya hanya menjadi kumpulan fakta yang harus dihafalkan, tetapi juga menjadi pintu masuk untuk memahami nilai, proses, dan konteks yang membentuk perjalanan peradaban Islam di Indonesia.

“Melalui materi ini, kita ingin siswa tidak sekadar menghafal nama teori atau angka tahun, tetapi mampu mengambil ibrah dari santunnya strategi dakwah para pendahulu. Islam masuk ke Indonesia dengan cara damai, akomodatif terhadap budaya lokal, dan membawa peradaban,” ujar Andi Kustian seusai pembelajaran.

Pendekatan tersebut sekaligus mempertemukan pembelajaran sejarah.dengan nilai moderasi beragama. Para siswa tidak hanya diajak memahami bagaimana Islam hadir di Nusantara, tetapi juga melihat proses panjang interaksi antara ajaran agama dan kebudayaan masyarakat setempat.

Bagi MTsN 4 Bungo, pola pembelajaran semacam ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan pendidikan agama yang tidak terjebak pada hafalan, melainkan mendorong peserta didik untuk berpikir kritis, terbuka terhadap keberagaman perspektif, serta mampu mengambil nilai-nilai kehidupan dari sejarah.

Dari ruang kelas IX B, sejarah akhirnya tidak sekadar berbicara tentang masa lalu. Ia menjadi jembatan untuk memahami keberagaman Indonesia hari ini—sekaligus bekal bagi generasi muda untuk menatap masa depan dengan wawasan yang lebih luas. (***)

Editor: Arya Abisatya
Sumber: https://mtsn4-bungo.mdrsh.id/