Jambekspres.co.id

Muaro Jambi Diselimuti Udara Tak Sehat, Indeks Kualitas Udara Tembus 150,3

MUARO JAMBI, bungopos.com  — Warga Muaro Jambi perlu lebih waspada terhadap kondisi udara pada Selasa malam, 15 September 2026. Data yang ditampilkan laman Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada pukul 20.00 WIB menunjukkan kualitas udara Muaro Jambi berada pada angka 150,3, dengan kategori “Sangat Tidak Sehat.”

Angka tersebut menjadikan Muaro Jambi sebagai salah satu wilayah dengan kualitas udara terburuk dalam daftar pemantauan BMKG yang terlihat pada malam itu.

Dalam tampilan pemantauan BMKG, Muaro Jambi mencatat angka 150,3. Posisi berikutnya adalah Talang Betutu 128,9, Musi 2 Palembang 111,1, Medan 94,0, dan Pangkalanbun 89,4.

Perbedaan angka tersebut memperlihatkan kondisi udara Muaro Jambi cukup mencolok. Bahkan, dibandingkan Talang Betutu yang berada di posisi kedua, angka Muaro Jambi masih terpaut 21,4 poin.

Kondisi ini menjadi perhatian karena kategori sangat tidak sehat bukan sekadar persoalan angka di layar. Kualitas udara yang memburuk dapat menjadi persoalan serius, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki gangguan pernapasan.

Malam hari pun tidak otomatis membuat persoalan kualitas udara menghilang. Justru, tingginya angka yang tercatat pada pukul 20.00 WIB menunjukkan perlunya masyarakat memperhatikan perkembangan kualitas udara sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan.

Fenomena ini juga menempatkan Muaro Jambi dalam sorotan lebih besar mengenai persoalan kualitas lingkungan di kawasan Jambi. Ketika angka kualitas udara sudah berada di level 150,3, pertanyaannya bukan lagi sekadar apakah udara terlihat berasap atau tidak, tetapi seberapa aman udara yang sedang dihirup masyarakat.

Bagi masyarakat Muaro Jambi, informasi kualitas udara seharusnya menjadi pertimbangan dalam menentukan aktivitas malam, khususnya bagi kelompok sensitif. Pemantauan berkala juga penting dilakukan karena kualitas udara dapat berubah mengikuti kondisi cuaca, arah angin, sumber emisi, dan faktor lingkungan lainnya. (***)

Editor: Arya Abisatya
Sumber: https://www.bmkg.go.id/