JAKARTA, bungopos.com — Tepat pada peringatan Hari Pramuka ke-65, Jumat (14/8/2026), lautan seragam cokelat memenuhi Bumi Perkemahan dan Graha Wisata (Buperta) Cibubur, Jakarta Timur. Puluhan ribu Pramuka Penggalang dari seluruh Kwartir Daerah (Kwarda) provinsi di Indonesia berkumpul dalam satu semangat ketika Kwartir Nasional Gerakan Pramuka secara resmi membuka Jambore Nasional (Jamnas) XII 2026—pertemuan akbar lima tahunan yang bukan sekadar menjadi ajang berkemah, melainkan panggung untuk menyiapkan generasi yang akan memimpin Indonesia menuju 2045.
Di bawah kibaran Merah Putih dan gemuruh yel-yel peserta dari Sabang hingga Merauke, Jamnas XII menghadirkan pesan yang lebih besar daripada tradisi. Perkemahan ini menjadi simbol bahwa Pramuka terus berevolusi, dari gerakan pembentukan karakter menjadi kekuatan yang ikut menjawab tantangan strategis bangsa.
Perjalanan Jamnas sendiri menyimpan jejak sejarah panjang. Gagasan tentang pertemuan besar kepanduan Indonesia telah muncul sejak 1955, ketika Ikatan Pandu Indonesia (IPINDO) menginisiasi kegiatan serupa di Ragunan, Jakarta Selatan. Tonggak resminya kemudian tercatat pada 16–22 April 1973, saat Kwartir Nasional menyelenggarakan Jambore Nasional pertama di Situbaru, kawasan yang kini dikenal sebagai Bumi Perkemahan Wiladatika Cibubur—lokasi yang selama puluhan tahun menjadi saksi lahirnya persahabatan lintas daerah dan generasi.
Memasuki penyelenggaraan ke-12, Jamnas 2026 hadir dengan orientasi yang lebih strategis. Selaras dengan tema besar Hari Pramuka ke-65, yakni “Memantapkan Langkah Organisasi Mendukung Swasembada Pangan Menuju Indonesia Emas 2045,” gerakan kepanduan kini diarahkan untuk membentuk generasi yang tidak hanya tangguh di alam terbuka, tetapi juga mampu berkontribusi terhadap ketahanan pangan nasional.
Selama kegiatan berlangsung, para peserta akan memperoleh pembekalan mengenai pemanfaatan lahan produktif, praktik pertanian berkelanjutan, hingga pengembangan inovasi yang dapat diterapkan di daerah asal masing-masing. Ketangkasan fisik yang selama ini menjadi ciri khas Pramuka dipadukan dengan keterampilan baru yang relevan dengan tantangan masa depan, sehingga setiap peserta diharapkan pulang bukan hanya membawa kenangan, tetapi juga gagasan untuk membangun komunitasnya.
Semangat inovasi juga menjadi penekanan utama. Anggota Pramuka Penggalang didorong untuk berani berkreasi, menciptakan solusi, dan mengambil peran nyata dalam memperkuat kedaulatan pangan Indonesia. Di tengah era digital yang terus mengubah cara hidup masyarakat, nilai persaudaraan yang menjadi ruh Jambore tetap dipertahankan sebagai fondasi gerakan, mengingat akar kata jambore sendiri bermakna sebuah perayaan besar yang dipenuhi sukacita dan kebersamaan.
Jamnas XII 2026 menjadi bukti bahwa Gerakan Pramuka tetap relevan di tengah perubahan zaman. Dari Cibubur, organisasi yang telah menempa jutaan anak bangsa selama lebih dari enam dekade kembali menegaskan perannya sebagai sekolah kehidupan—tempat disiplin, kepemimpinan, gotong royong, dan inovasi tumbuh berdampingan. Di sanalah, di antara tenda-tenda yang berdiri di bawah langit Jakarta, benih-benih pemimpin masa depan Indonesia mulai ditanam untuk menyongsong Indonesia Emas 2045. (***)