PENYERAHAN BANTUAN : Wakil Ketua I Baznas Kabupaten Batang Hari, Mohd Haramen, S.E, M.E.Sy menyerahkan bantuan kebakaran di desa Kuap, Kecamatan Pemayung bersama dengan Kadis Sosial, Sofyan SH dan pejabat BPBD

Ketika Kobaran Api Merenggut Rumahnya, Baznas Batang Hari Datang Mengobati Luka Ibu Raina

BATANGHARI, bungopos.com - Pohon durian itu tetap berdiri, diam dan kokoh, seolah tak pernah menyaksikan malam yang mengubah hidup seorang ibu menjadi puing-puing. Daunnya masih bergoyang diterpa angin sore, batangnya tetap mengakar kuat, sementara hanya beberapa langkah dari sana, tanah yang dulu menjadi pijakan sebuah rumah kini tinggal hamparan arang yang menghitam.

Di tempat itulah Ibu Raina pernah memiliki dunia.

Rumahnya hanya berukuran 4 x 6 meter. Dindingnya papan. Lantainya sederhana. Tiangnya terangkat sekitar satu meter dari tanah, menghadap rimbunnya pohon pisang, durian, dan beragam tanaman hortikultura yang selama bertahun-tahun menjadi saksi kehidupan keluarganya. Bagi sebagian orang, rumah itu mungkin terlalu kecil untuk disebut layak. Namun bagi Ibu Raina, di sanalah doa dipanjatkan setiap malam, nasi ditanak setiap pagi, dan harapan disimpan tanpa pernah meminta lebih kepada kehidupan.

Lalu datanglah malam Rabu (12/8).

Api yang berasal dari lampu teplok itu tak mengetuk pintu. Ia datang seperti kabar buruk yang tak sempat dicegah. Dalam hitungan menit, kayu-kayu yang selama bertahun-tahun melindungi keluarga itu berubah menjadi bara. Atap runtuh dengan suara yang mungkin akan terus terngiang di kepala. Dinding roboh. Asap menelan langit. Yang tersisa hanyalah abu, bau hangus yang menusuk dada, dan kenangan yang tak mungkin dipungut kembali satu per satu.

Rumah itu berdiri hanya sekitar 1 KM dari Kantor Desa Kuap, Kecamatan Pemayung, Kabupaten Batang Hari. Begitu dekat dengan pusat desa, tetapi ketika api melalap semuanya, jarak sedekat itu terasa tak mampu mengejar waktu yang berlari lebih cepat daripada langkah manusia.

Keesokan harinya, Kamis (13/8) pukul 15.00 WIB, Ibu Raina berjalan menuju Kantor Desa Kuap. Langkahnya tidak sedang mengarah pulang, sebab rumah yang biasanya menunggunya sudah tak lagi memiliki pintu untuk dibuka. Ia datang membawa kehilangan yang tak terlihat di tangan, tetapi begitu berat di dada.

Di ruang sederhana itu, tak ada tepuk tangan. Tak ada kemeriahan. Hanya ada keheningan yang membuat setiap orang memilih berbicara lebih pelan, seakan takut menambah retak pada hati yang baru saja dihantam musibah.

Di hadapan Kepala Desa Kuap dan perangkat desa serta Kadis Sosial Sofyan SH beserta pejabat BPBD, Wakil Ketua I Bidang Pengumpulan ZIS BAZNAS Kabupaten Batang Hari, Mohd Haramen, S.E., M.E.Sy., menyerahkan bantuan kepada Ibu Raina yang diwakili anaknya. Ustadz Muhammad Lilo yang merupakan tenaga dakwah Baznas Kabupaten Batang Hari juga turut menyaksikan bantuan pengobat luka itu. Nilainya mungkin tak akan mampu mengganti rumah yang telah menjadi abu, tetapi kehadirannya membawa sesuatu yang sering kali lebih sulit ditemukan setelah bencana: keyakinan bahwa seseorang masih peduli.

Mohd Haramen menyampaikan bahwa bantuan tersebut merupakan amanah para muzakki yang dipercayakan kepada BAZNAS agar dapat segera hadir ketika ada warga yang tertimpa musibah.

“Bantuan ini mungkin belum mampu mengganti seluruh yang hilang, tetapi kami berharap dapat menjadi penguat bahwa Ibu Raina tidak sendirian menghadapi cobaan ini.”

Kalimat itu meluncur sederhana. Namun bagi seseorang yang semalam melihat rumahnya habis dilalap api, kata-kata semacam itu bukan sekadar ucapan. Ia bisa menjadi tempat berpijak ketika semua yang lain runtuh.

Ada pemandangan yang sulit dijelaskan dengan logika.

Pohon-pohon di sekitar rumah Ibu Raina masih hidup. Pisang tetap menghijau. Durian tetap berdiri. Alam seolah meneruskan hidup seperti biasa. Tetapi di bawah naungannya, tempat yang dulu dipenuhi suara sendok beradu dengan piring, aroma masakan sore, dan tawa kecil di dalam rumah kini berubah menjadi ruang kosong yang hanya diisi abu dan ingatan.

Barangkali memang begitulah cara hidup mengajarkan kehilangan. Tidak selalu dengan merobohkan seluruh dunia, tetapi dengan membiarkan sebagian tetap utuh agar kita benar-benar merasakan apa yang telah pergi.

Sore itu, ketika matahari mulai condong ke barat dan angin kembali menggerakkan daun-daun durian, Ibu Raina berdiri di pintu bagian depan kantor desa menatap orang-orang yang beranjak melihat rumahnya. Tatapannya kosong, tanpa arti tapi harapannya selalu terukir seiring doa-doa para muzakki Baznas Kabupaten Batang Hari.

suatu hari nanti akan kembali berdiri sebuah rumah, tempat seorang ibu bisa menyalakan lampu, menanak nasi, lalu menutup malam dengan doa yang sama, tetapi dengan keyakinan baru: bahkan setelah api mengambil segalanya, kemanusiaan masih datang mengetuk pintu yang telah tiada. (***)

Editor: Arya Abisatya