JAMBI, BungoPos.com — RSUD H. Abdul Manap Kota Jambi terus melakukan pembenahan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. Salah satu langkah yang dilakukan yakni membuka ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan pengalaman, kritik dan saran terkait pelayanan rumah sakit.
Direktur RSUD H. Abdul Manap Kota Jambi, dr. Anastasia Yekti Heningnurani, MARS, mengatakan masukan masyarakat memiliki peran penting dalam menentukan arah perbaikan pelayanan. Hal tersebut disampaikannya saat Forum Konsultasi Penyelenggaraan Pelayanan Publik di Aula Lantai IV RSUD H. Abdul Manap Kota Jambi.
Menurut Anastasia, forum konsultasi publik harus memberikan manfaat nyata bagi peningkatan pelayanan dan tidak sekadar menjadi agenda administratif.
“Ini bukan kegiatan formalitas. Forum ini memberikan ruang bagi kami untuk mendengarkan masyarakat, bagaimana pelayanan yang kami berikan dan apa saja yang masih harus kami perbaiki,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kualitas sebuah rumah sakit tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan alat kesehatan maupun kelengkapan fasilitas. Kenyamanan dan pengalaman pasien selama memperoleh pelayanan juga menjadi bagian penting yang harus terus dievaluasi.
Karena itu, masyarakat dipandang sebagai mitra dalam proses peningkatan mutu pelayanan. Setiap masukan yang disampaikan menjadi bahan bagi rumah sakit untuk memperbaiki kekurangan sekaligus mengembangkan inovasi.
“Kami ingin menjaga mutu pelayanan, terus menghadirkan inovasi dan meningkatkan kepuasan masyarakat,” katanya.
Anastasia juga menyampaikan bahwa RSUD H. Abdul Manap merupakan fasilitas kesehatan yang telah beroperasi sejak 2006. Seiring bertambahnya usia bangunan dan fasilitas, pemeliharaan serta perbaikan menjadi pekerjaan yang terus dilakukan.
“Memang kami tidak menampik bahwa rumah sakit ini sudah lama, sejak 2006. Karena itu, maintenance dan perbaikan menjadi bagian yang terus kami lakukan,” jelasnya.
Dari sisi kapasitas, RSUD H. Abdul Manap saat ini memiliki 120 tempat tidur. Sebanyak 14 tempat tidur digunakan untuk ruang intensif, enam tempat tidur untuk pelayanan perinatologi, sementara 100 lainnya diperuntukkan bagi pasien rawat inap.
Tidak hanya melakukan pemeliharaan fasilitas yang sudah ada, rumah sakit juga terus mengembangkan layanan unggulan. Salah satunya pelayanan jantung dengan hadirnya fasilitas catheterization laboratory atau cathlab.
Fasilitas tersebut merupakan dukungan dari Kementerian Kesehatan untuk memperkuat pelayanan prioritas KJSU yang meliputi kanker, jantung, stroke dan uroneurologi.
“Untuk jantung, kami sudah mendapatkan alat dari Kementerian Kesehatan, yaitu cathlab untuk kateterisasi jantung,” ungkap Anastasia.
Pelayanan kateterisasi jantung tersebut mulai diberikan setelah RSUD H. Abdul Manap menjalin kerja sama dengan BPJS Kesehatan. Layanan ini telah berjalan sejak akhir Mei 2026.
Meski demikian, rumah sakit masih menghadapi tantangan dalam pengembangan layanan tersebut, terutama terkait ketersediaan tenaga dokter spesialis bedah toraks, kardiak dan vaskular (BTKV).
Kondisi itu membuat pelayanan cathlab saat ini lebih difokuskan pada kasus-kasus tertentu, terutama pasien dengan kondisi emergency atau yang membutuhkan tindakan penyelamatan.
Di tengah pengembangan layanan dan berbagai keterbatasan yang masih ada, pihak rumah sakit memastikan prinsip kesetaraan tetap menjadi dasar dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
“Kami tidak membedakan, BPJS atau tidak. Semua kami layani secara inklusif tanpa diskriminasi,” tegasnya.
Anastasia menyebut sebagian besar pasien yang berobat di RSUD H. Abdul Manap merupakan peserta BPJS Kesehatan. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya keberadaan sistem jaminan kesehatan dalam memastikan masyarakat memperoleh akses terhadap layanan medis.
“Kami bersyukur karena jaminan kesehatan sudah universal coverage. Harapannya, semua masyarakat bisa ter-cover untuk mendapatkan jaminan pelayanan kesehatan,” pungkasnya.
RSUD H. Abdul Manap menilai peningkatan mutu pelayanan tidak berhenti pada pembangunan fasilitas dan pengadaan peralatan medis. Perbaikan juga harus menyentuh aspek pelayanan kepada pasien, sehingga masyarakat yang datang berobat dapat merasa dihargai, didengar dan memperoleh hak pelayanan kesehatan secara layak.(*)