JATINANGOR — Indonesia ingin menjadi negara maju pada 2045. Pemerintah berbicara tentang bonus demografi, ekonomi bernilai tinggi, kecerdasan buatan, hilirisasi, dan sumber daya manusia unggul. Tapi ada satu persoalan yang terdengar jauh lebih sederhana dan justru mengusik: berapa banyak buku yang dibaca orang Indonesia?
Angkanya belum menggembirakan.
Data yang dikutip Perpustakaan Nasional Republik Indonesia menunjukkan rata-rata masyarakat Indonesia hanya menuntaskan sekitar 5,91 buku dalam setahun. Waktu yang dihabiskan untuk membaca sekitar 129 jam per tahun.
Angka itu bukan sekadar statistik tentang buku. Ia menjadi cermin tentang bagaimana sebuah bangsa memperlakukan pengetahuan.
Kepala Perpusnas, E. Aminudin Aziz, menyebut rendahnya kebiasaan membaca sebagai salah satu persoalan serius literasi Indonesia. Ia tidak mencari kambing hitam. Menurut dia, masalah itu juga berada di lingkungan mahasiswa sendiri—kelompok yang kelak mengisi ruang kepemimpinan negeri ini.
Pesan tersebut disampaikan Aminudin ketika memberikan pembekalan kepada mahasiswa KKN Tematik Literasi Universitas Padjadjaran 2026 di Bale Sawala Kampus Unpad, Jatinangor, Jumat, 12 Juni 2026.
“Persoalannya bukan ada pada orang lain, tetapi juga ada pada diri kita sendiri,” kata Aminudin.
Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi justru di situlah persoalannya.
Perdebatan tentang rendahnya literasi kerap berhenti pada kurangnya perpustakaan, mahalnya buku, keterbatasan akses internet, atau minimnya fasilitas membaca. Semua itu penting. Namun budaya membaca tidak lahir hanya karena sebuah perpustakaan dibangun. Rak yang penuh buku tidak otomatis melahirkan masyarakat yang gemar membaca.
Membaca membutuhkan kebiasaan.
Dan kebiasaan membutuhkan lingkungan.
Data Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat memperlihatkan tantangan itu belum kecil. Rata-rata IPLM kabupaten/kota berada pada angka 10,37, sedangkan tingkat provinsi 29,36. Sementara Tingkat Kegemaran Membaca nasional berada di sekitar 54,8.
Angka-angka itu memperlihatkan jurang yang masih harus ditutup.
Persoalannya menjadi lebih genting karena Indonesia sedang menghitung waktu menuju 2045. Pada tahun itu, negara ini menargetkan diri menjadi negara maju. Generasi muda hari ini akan menjadi pengambil keputusan, pengusaha, birokrat, akademisi, guru, teknolog, dan pemimpin masyarakat.
Tetapi bagaimana sebuah negara dapat membangun ekonomi berbasis pengetahuan jika masyarakatnya tidak cukup akrab dengan pengetahuan?
Bagaimana mahasiswa dapat menjadi pemimpin masa depan jika membaca hanya dilakukan ketika dosen memberikan tugas?
Pertanyaan semacam itu tidak nyaman, tetapi perlu diajukan.
Sebab literasi bukan sekadar kemampuan mengeja huruf. Literasi adalah kemampuan memahami informasi, mempertanyakan kebenaran, membaca perubahan, mengenali manipulasi, mengambil keputusan dan menghasilkan gagasan.
Di tengah banjir informasi digital, kemampuan itu menjadi semakin penting.
Masyarakat kini tidak kekurangan informasi. Justru sebaliknya, informasi datang tanpa henti melalui layar telepon. Masalahnya adalah kemampuan untuk membedakan mana pengetahuan, mana opini, mana propaganda, dan mana kebohongan.
Dalam situasi seperti itu, membaca buku bukan kegiatan kuno. Ia menjadi bentuk latihan intelektual.
Karena itu, Aminudin meminta mahasiswa menjadikan membaca sebagai bagian penting dari kehidupan intelektual. Mahasiswa KKN Tematik Literasi juga diharapkan tidak sekadar datang ke desa untuk menjalankan program kampus, lalu kembali setelah masa pengabdian selesai.
Mereka harus meninggalkan jejak.
Bisa berupa taman bacaan, komunitas membaca, pendampingan anak-anak, pelatihan bagi guru dan orang tua, atau sekadar membangun kebiasaan membaca di lingkungan tempat mereka tinggal.
Tugas itu tampak kecil. Tetapi perubahan sosial sering bermula dari kebiasaan yang kecil.
Seorang anak yang menemukan buku yang disukainya hari ini mungkin menjadi pembaca sepanjang hidup. Seorang remaja yang mulai terbiasa membaca mungkin kelak memiliki cara berpikir yang berbeda. Dan satu keluarga yang menjadikan buku sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari dapat menularkan kebiasaan itu kepada generasi berikutnya.
Problem literasi Indonesia karena itu tidak bisa diselesaikan hanya dengan slogan.
Ia membutuhkan ekosistem.
Sekolah membutuhkan perpustakaan yang hidup. Kampus membutuhkan budaya akademik yang membuat mahasiswa membaca. Pemerintah membutuhkan kebijakan yang tidak berhenti pada pembangunan gedung. Keluarga perlu menciptakan ruang bagi anak untuk membaca. Dan mahasiswa dapat menjadi penggerak di tengah masyarakat.
Indonesia Emas 2045 pada akhirnya bukan sekadar persoalan angka pertumbuhan ekonomi atau besarnya produk domestik bruto.
Ia adalah persoalan kualitas manusia.
Bonus demografi tanpa kualitas literasi dapat berubah menjadi beban. Generasi muda yang jumlahnya besar tetapi miskin kemampuan berpikir kritis akan mudah menjadi konsumen informasi, bukan pencipta pengetahuan.
Karena itu, pertanyaan tentang berapa banyak buku yang dibaca orang Indonesia sebenarnya jauh lebih besar daripada persoalan buku.
Ia adalah pertanyaan tentang masa depan.
Indonesia boleh membangun jalan tol, kawasan industri, pusat data, kampus, dan kota baru. Tetapi jika manusia yang menghuninya malas membaca, pembangunan itu kehilangan salah satu fondasi terpentingnya.
Menuju 2045, Indonesia mungkin tidak kekurangan orang pintar.
Yang perlu dipastikan adalah apakah bangsa ini cukup banyak membaca untuk melahirkan orang-orang yang mampu berpikir.
Sebab negara maju bukan hanya negara yang kaya.
Negara maju adalah negara yang masyarakatnya mampu belajar, memahami, mempertanyakan, dan menciptakan pengetahuan.
Dan semuanya bisa dimulai dari satu tindakan yang sederhana—membuka buku, lalu membacanya sampai selesai. (***)