JAKARTA, bungopos.com — Di tengah ambisi Indonesia mencetak generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045, masih tersimpan persoalan mendasar yang mengancam kualitas pendidikan: kondisi ruang kelas yang belum layak. Bagi jutaan siswa, proses belajar bukan hanya ditentukan oleh kualitas guru dan kurikulum, tetapi juga oleh ruang tempat mereka menimba ilmu setiap hari.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang direlease dalam buku statistik pendidikan tahun 2025 menunjukkan bahwa Sekolah Dasar (SD) menjadi jenjang pendidikan dengan kondisi ruang kelas paling memprihatinkan. Sebanyak 10,81 persen ruang kelas SD berada dalam kondisi rusak berat, menjadikannya persentase tertinggi dibandingkan seluruh jenjang pendidikan lainnya. Artinya, satu dari 10 ruang kelas di jenjang SD berada dalam kondisi rusak berat.
Angka tersebut bukan sekadar statistik. Di baliknya terdapat jutaan anak yang berisiko belajar di ruang kelas dengan atap bocor, dinding retak, lantai rusak, hingga fasilitas yang tidak lagi memenuhi standar keamanan dan kenyamanan.
Para pemerhati pendidikan menilai, kualitas lingkungan belajar memiliki hubungan erat dengan konsentrasi, motivasi, kesehatan, hingga prestasi akademik peserta didik. Ruang kelas yang aman dan nyaman bukan hanya menjadi fasilitas pelengkap, melainkan bagian penting dari investasi pembangunan sumber daya manusia.
Berbeda dengan kondisi di tingkat SD, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) justru menunjukkan capaian yang lebih menggembirakan. Jenjang ini memiliki persentase ruang kelas berkondisi baik tertinggi dibandingkan jenjang pendidikan lainnya. Bahkan, hanya 3,74 persen ruang kelas SMK yang tercatat mengalami kerusakan berat.
Kesenjangan tersebut menggambarkan bahwa pemerataan kualitas infrastruktur pendidikan masih menjadi pekerjaan rumah besar. Padahal, fondasi pembentukan kemampuan literasi, numerasi, karakter, dan keterampilan dasar anak justru dibangun sejak bangku sekolah dasar. (***)