JAMBI, bungopos.com — Dunia tengah memasuki era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), ketika teknologi mampu menulis, menerjemahkan, bahkan membantu manusia mengambil keputusan hanya dalam hitungan detik. Namun di balik kemajuan itu, masih tersimpan persoalan mendasar yang belum sepenuhnya teratasi: masih banyak masyarakat yang belum mampu membaca dan menulis.
Potret tersebut juga terlihat di Provinsi Jambi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Tahun 2025 mencatat angka buta aksara penduduk usia 15 tahun ke atas mencapai 2,41 persen. Sekilas angkanya tampak kecil, tetapi ketika dibedah berdasarkan kelompok umur, tersimpan jurang yang sangat lebar antargenerasi.
Pada kelompok usia 15–44 tahun, angka buta aksara hanya 0,13 persen. Sebaliknya, pada kelompok usia 45 tahun ke atas, persentasenya melonjak menjadi 5,92 persen, atau hampir 46 kali lebih tinggi dibanding generasi muda.
Data tersebut menunjukkan bahwa persoalan buta aksara di Jambi kini bukan lagi berpusat pada anak-anak atau remaja, melainkan menjadi tantangan yang masih membayangi generasi yang tumbuh ketika akses pendidikan belum merata.
Di satu sisi, capaian ini menjadi bukti bahwa investasi pendidikan selama beberapa dekade terakhir telah menghasilkan perubahan nyata. Generasi muda Jambi menikmati akses sekolah yang jauh lebih baik dibandingkan orang tua mereka. Namun di sisi lain, ribuan warga lanjut usia masih harus menghadapi keterbatasan membaca dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Padahal, di era digital, kemampuan membaca tidak lagi sekadar menjadi syarat memperoleh pendidikan, tetapi menjadi pintu masuk untuk mengakses layanan kesehatan, memahami informasi publik, menggunakan teknologi digital, hingga berpartisipasi dalam aktivitas ekonomi.
Mereka yang tidak memiliki kemampuan literasi dasar berisiko semakin tertinggal di tengah masyarakat yang bergerak semakin cepat menuju transformasi digital.
Jika dibandingkan dengan sejumlah provinsi lain di Pulau Sumatera, posisi Jambi juga menunjukkan masih adanya pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.
Provinsi Sumatera Barat mencatat angka buta aksara 0,92 persen, Sumatera Utara 0,99 persen, Riau 1,00 persen, Aceh 1,08 persen, dan Sumatera Selatan 1,11 persen. Dengan angka 2,41 persen, Jambi berada di atas sebagian besar provinsi tetangganya.
Angka tersebut menjadi sinyal bahwa upaya peningkatan literasi, khususnya bagi masyarakat dewasa dan lanjut usia, masih perlu diperkuat melalui pendidikan nonformal, program keaksaraan fungsional, serta pembelajaran berbasis komunitas.
Tantangan yang Lebih Besar: Buta Aksara Al-Qur'an
Persoalan literasi ternyata tidak berhenti pada kemampuan membaca huruf latin. Tantangan yang jauh lebih besar juga muncul dalam kemampuan membaca Al-Qur'an.
Hasil riset Institut Ilmu Al-Qur'an (IIQ) Jakarta yang dipaparkan dalam Sarasehan Nasional Pengentasan Buta Aksara Al-Qur'an di Gedung Nusantara IV DPR/MPR RI mengungkap fakta yang mengundang keprihatinan.
Ketua Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat (LPKM) IIQ Jakarta, Dra. Hj. Chalimatus Sa'dijah, M.A., menyampaikan bahwa persentase buta aksara Al-Qur'an di Indonesia berada pada kisaran 58,57 hingga 65 persen.
Angka tersebut menunjukkan bahwa lebih dari separuh masyarakat Muslim Indonesia masih belum mampu membaca Al-Qur'an dengan baik.
"Kalau membaca Al-Qur'an saja kita tidak tahu, bagaimana kita bisa memahami kandungannya, padahal Al-Qur'an merupakan pedoman hidup," ungkap Chalimatus Sa'dijah di hadapan peserta sarasehan.
Penelitian IIQ Jakarta dilakukan terhadap 3.111 responden yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Kemampuan membaca Al-Qur'an diukur melalui empat indikator utama, yakni makharijul huruf, sifatul huruf, ahkamul huruf, serta al-mad wal qashr.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 72,25 persen responden berada pada kategori kemampuan membaca Al-Qur'an tingkat cukup dan kurang, sebuah kondisi yang dinilai membutuhkan perhatian serius dari pemerintah, lembaga pendidikan, organisasi keagamaan, hingga masyarakat. (***)