DATA : Pertumbuhan jumlah simpanan di perbankan

Alarm Ketimpangan Ekonomi Berbunyi, Rekening Jumbo Menguasai Simpanan di Perbankan

JAKARTA, bungopos.com – Selama lebih dari satu dekade terakhir, tabungan masyarakat Indonesia terus bertambah. Namun, pertumbuhan itu ternyata tidak dinikmati secara merata. Di balik meningkatnya dana simpanan di perbankan, tersimpan sebuah kenyataan yang mencerminkan semakin lebarnya jurang ketimpangan ekonomi.

Data Distribusi Simpanan Bank Umum 2014–2025 menunjukkan bahwa kenaikan dana simpanan nasional hampir sepenuhnya didorong oleh kelompok nasabah dengan saldo di atas Rp5 miliar. Sebaliknya, tabungan masyarakat kecil dengan saldo di bawah Rp100 juta tumbuh jauh lebih lambat, bahkan pangsa mereka terhadap total simpanan nasional terus menyusut.

Fenomena ini menjadi sinyal bahwa pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi peningkatan kesejahteraan bagi seluruh lapisan masyarakat.

Sepanjang periode 2014 hingga 2025, total simpanan kelompok beraset besar meningkat sangat tajam. Grafik memperlihatkan nilai simpanan mereka melonjak dari kisaran Rp1.600 triliun menjadi lebih dari Rp5.400 triliun. Kenaikan tersebut jauh lebih cepat dibandingkan pertumbuhan simpanan kelompok masyarakat dengan saldo di bawah Rp100 juta yang hanya bergerak secara bertahap.

Yang lebih menarik, meski jumlah rekening masyarakat kecil jauh lebih banyak, nilai simpanan mereka tetap relatif kecil dibandingkan kelompok kaya. Sebaliknya, hanya sebagian kecil rekening bernilai miliaran rupiah mampu menguasai porsi dana yang sangat besar di sistem perbankan.

Artinya, akumulasi kekayaan di Indonesia semakin terkonsentrasi pada kelompok masyarakat berpendapatan tinggi.

Fenomena tersebut juga terlihat dari perubahan komposisi simpanan nasional. Pangsa dana milik kelompok kaya terus meningkat dari tahun ke tahun, sementara kontribusi tabungan masyarakat kecil cenderung stagnan bahkan mengalami penurunan.

Kondisi ini menggambarkan bahwa manfaat pertumbuhan ekonomi belum tersebar secara merata. Ketika kelompok kaya mampu terus menambah aset finansialnya, sebagian besar masyarakat masih berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari sehingga memiliki ruang yang terbatas untuk menabung.

Para ekonom menyebut kondisi seperti ini sebagai salah satu indikator meningkatnya konsentrasi kekayaan. Uang berputar semakin cepat di kelompok atas, sementara kemampuan kelompok bawah untuk membangun aset berjalan jauh lebih lambat.

Dalam jangka panjang, ketimpangan tersebut dapat menimbulkan berbagai konsekuensi. Daya beli masyarakat berpenghasilan rendah berpotensi melemah, mobilitas ekonomi menjadi semakin sulit, dan kesenjangan sosial dapat semakin melebar. Pada saat yang sama, pertumbuhan ekonomi berisiko menjadi kurang inklusif karena sebagian besar kekayaan hanya dinikmati oleh kelompok tertentu.

Meski demikian, peningkatan simpanan kelompok kaya juga menunjukkan masih kuatnya kepercayaan terhadap sistem perbankan nasional. Tantangan berikutnya adalah bagaimana memastikan pertumbuhan dana tersebut mampu mengalir kembali ke sektor produktif melalui investasi, pembiayaan usaha, penciptaan lapangan kerja, dan perluasan akses ekonomi bagi masyarakat luas.

Penguatan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), peningkatan literasi keuangan, pemerataan akses pembiayaan, serta kebijakan fiskal yang lebih berpihak pada kelompok rentan menjadi beberapa langkah yang dinilai penting untuk mempersempit kesenjangan tersebut.

Pada akhirnya, data ini mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak cukup hanya diukur dari besarnya dana yang tersimpan di bank. Ukuran keberhasilan sesungguhnya adalah seberapa luas manfaat pertumbuhan itu dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat.

Sebab, ekonomi yang sehat bukan hanya ketika tabungan terus bertambah, melainkan ketika semakin banyak warga memiliki kesempatan yang sama untuk menabung, berinvestasi, dan meningkatkan kesejahteraan hidupnya. (***)

Editor: Arya Abisatya
Sumber: Center of Economic and Law Studies (CELIOS)