KETIMPANGAN KEKAYAAN : Antara pejabat dan rakyat kecil

Indonesia Makin Timpang ! Harta Orang Terkaya Bertambah Rp 9,36 Juta Per Detik, Buruh Hanya Dapat Uang Rp1,47 per Detik

MUARA BUNGO, bungopos.com – Angka sering kali terasa dingin. Namun ketika diterjemahkan ke dalam kehidupan sehari-hari, ia mampu menceritakan sebuah realitas yang sulit diabaikan. Di Indonesia, jurang antara kelompok paling kaya dan para pekerja semakin tampak jelas.

Data yang dipublikasikan Center of Economic and Law Studies (CELIOS) dalam laporan Ketimpangan Ekonomi Indonesia 2026 – Republik Oligarki memperlihatkan bahwa laju pertumbuhan kekayaan kelompok superkaya melampaui peningkatan pendapatan pekerja dengan selisih yang mencolok.

Setiap detik, kekayaan gabungan 50 orang terkaya di Indonesia bertambah sekitar Rp9,36 juta. Dalam satu hari, nilainya mencapai Rp13,48 miliar, dan dalam setahun melonjak hingga sekitar Rp4,92 triliun.

Di sisi lain, rata-rata kenaikan upah buruh berjalan jauh lebih lambat. Dalam hitungan yang sama, pendapatan pekerja hanya bertambah sekitar Rp1,47 per detik, atau sekitar Rp2.113 per hari, dan hanya sekitar Rp760.728 dalam setahun.

Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan kekayaan di Indonesia belum dinikmati secara merata. Ketika aset kelompok terkaya bertambah dalam hitungan miliaran rupiah setiap hari, peningkatan pendapatan sebagian besar pekerja bahkan belum cukup untuk mengimbangi kenaikan biaya hidup yang terus berlangsung.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional belum otomatis menghadirkan pemerataan kesejahteraan. Nilai investasi, keuntungan perusahaan, dan kenaikan harga aset lebih banyak terkonsentrasi pada kelompok yang telah memiliki modal besar, sementara pekerja tetap bergantung pada kenaikan upah yang relatif terbatas.

Akibatnya, kesenjangan ekonomi tidak hanya tercermin dari perbedaan jumlah kekayaan, tetapi juga dari kecepatan pertumbuhan pendapatan. Semakin cepat aset kelompok kaya bertambah dibandingkan peningkatan pendapatan pekerja, semakin lebar pula jarak kesejahteraan yang terbentuk.

Bagi masyarakat berpenghasilan tetap, kondisi tersebut menghadirkan tantangan yang nyata. Kenaikan pendapatan tahunan yang hanya sekitar ratusan ribu rupiah harus dihadapkan pada meningkatnya harga pangan, biaya pendidikan, layanan kesehatan, hingga kebutuhan perumahan. Situasi ini membuat banyak keluarga pekerja sulit meningkatkan taraf hidup meskipun tetap produktif.

Laporan CELIOS menjadi pengingat bahwa keberhasilan ekonomi tidak cukup diukur dari tingginya pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) atau bertambahnya jumlah miliarder. Yang lebih penting adalah bagaimana manfaat pertumbuhan tersebut dapat dirasakan oleh mayoritas masyarakat melalui kesempatan kerja yang berkualitas, peningkatan produktivitas, serta sistem upah yang lebih adil.

Para ekonom menilai bahwa penguatan sektor riil, investasi yang mampu menyerap tenaga kerja, peningkatan kualitas pendidikan dan keterampilan, perlindungan sosial yang efektif, serta kebijakan perpajakan yang berkeadilan menjadi faktor penting untuk mempersempit jurang ketimpangan.

Pada akhirnya, pertanyaan besar yang muncul bukanlah seberapa cepat orang kaya bertambah kaya, melainkan apakah kesejahteraan pekerja juga bergerak dengan kecepatan yang sama. Selama jawabannya masih "belum", ketimpangan akan tetap menjadi salah satu tantangan terbesar pembangunan Indonesia di tengah pertumbuhan ekonominya. (***) 

Editor: Arya Abisatya
Sumber: https://celios.co.id/