KEMEWAHAN : Rumah yang layak masih jadi barang mewah bagi masyarakat Jambi

Baru 68,42 Persen Keluarga di Jambi Memiliki Hunian Layak, Tiga Dari 10 KK Tinggal di Rumah Tak Layak

JAMBI, bungopos.com  — Sebuah rumah bukan sekadar bangunan tempat berteduh. Ia adalah fondasi kesehatan, pendidikan, produktivitas, bahkan masa depan sebuah keluarga. Namun data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa impian memiliki hunian yang layak masih belum dinikmati seluruh masyarakat Indonesia, termasuk di Provinsi Jambi.

Dalam publikasi Persentase Rumah Tangga yang Memiliki Akses terhadap Hunian yang Layak Menurut Provinsi Tahun 2025, BPS mencatat hanya 68,42 persen rumah tangga di Provinsi Jambi yang telah memiliki akses terhadap hunian layak. Dengan kata lain, hampir tiga dari setiap sepuluh keluarga di Jambi masih tinggal di rumah yang belum memenuhi standar kelayakan sebagaimana ditetapkan dalam indikator statistik nasional.

Angka tersebut menempatkan Jambi di kelompok provinsi dengan capaian menengah. Posisinya masih berada di bawah Riau yang mencatat 80,22 persen, serta Sumatera Utara sebesar 76,89 persen. Bahkan di kawasan Sumatera sendiri, Jambi belum mampu menjadi provinsi dengan akses hunian terbaik.

Sebaliknya, Jambi masih sedikit lebih baik dibandingkan beberapa provinsi tetangganya seperti Lampung yang mencapai 68,78 persen, Sumatera Selatan sebesar 65,74 persen, Sumatera Barat 63,70 persen, dan Bengkulu 57,97 persen. Meski demikian, selisih yang tidak terlalu besar menunjukkan bahwa tantangan penyediaan rumah layak masih menjadi persoalan bersama di Pulau Sumatera.

Di sisi lain, data tersebut memperlihatkan kontras yang mencolok dengan provinsi-provinsi yang telah berhasil memperluas akses terhadap hunian layak. Riau, misalnya, telah mampu memastikan delapan dari setiap sepuluh rumah tangga memiliki tempat tinggal yang memenuhi standar. Capaian itu menunjukkan bahwa pembangunan perumahan tidak hanya bergantung pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga efektivitas kebijakan perumahan, penyediaan infrastruktur dasar, dan kemampuan masyarakat memperoleh rumah yang sehat serta aman.

Menurut konsep Badan Pusat Statistik, hunian layak tidak hanya diukur dari keberadaan bangunan permanen. Sebuah rumah dikategorikan layak apabila memenuhi sejumlah indikator, antara lain kualitas bangunan yang memadai, kecukupan luas lantai, akses terhadap air minum yang aman, sanitasi yang layak, serta lingkungan yang mendukung kesehatan penghuninya. Karena itu, indikator ini menjadi salah satu ukuran penting dalam menilai kualitas hidup masyarakat. (***)

Editor: Arya Abisatya
Sumber: BPS