TERUS MENYUSUT : Jumlah ladang jagung di kabupaten Bungo

Ladang Jagung Bungo Terus Menyusut, Produksi Anjlok Hampir 90 Persen dalam Lima Tahun

MUARA BUNGO, bungopos.com — Hamparan ladang jagung yang beberapa tahun lalu masih mudah dijumpai di sejumlah kecamatan di Kabupaten Bungo kini semakin mengecil. Data Kabupaten Bungo Dalam Angka 2026 menunjukkan luas panen jagung terus mengalami penurunan tajam selama lima tahun terakhir. Dampaknya tidak hanya terlihat pada berkurangnya lahan, tetapi juga pada produksi jagung yang merosot drastis.

Pada 2021, luas panen jagung di Kabupaten Bungo masih mencapai 1.054 hektare. Setahun kemudian turun menjadi 600 hektare, lalu sedikit meningkat menjadi 663 hektare pada 2023. Namun penurunan kembali terjadi pada 2024 menjadi 277 hektare, dan pada 2025 tinggal 135 hektare.

Artinya, dalam kurun lima tahun, luas panen jagung di Kabupaten Bungo telah menyusut sekitar 87 persen.

Penyusutan lahan itu berjalan seiring dengan merosotnya hasil produksi. Pada 2021, produksi jagung mencapai 6.305 ton. Angka tersebut turun menjadi 3.497 ton pada 2022, naik tipis menjadi 3.728 ton pada 2023, kemudian kembali merosot menjadi 1.632 ton pada 2024. Tahun 2025 menjadi titik terendah, yakni hanya 764 ton.

Penurunan produksi mencapai hampir 88 persen dibandingkan lima tahun sebelumnya.

Yang menarik, penurunan tersebut bukan disebabkan oleh rendahnya kemampuan petani menghasilkan jagung. Justru produktivitas lahan relatif stabil. Pada 2025, produktivitas tercatat 56,59 kuintal per hektare, tidak jauh berbeda dibandingkan 2021 yang mencapai 59,82 kuintal per hektare.

Fakta itu menunjukkan bahwa persoalan utama bukan terletak pada hasil panen per hektare, melainkan semakin sedikitnya lahan yang ditanami jagung.

Pelepat dan Bathin III Masih Menjadi Sentra

Di tengah tren penurunan tersebut, beberapa kecamatan masih menjadi penyumbang utama produksi jagung.

Bathin III mencatat produksi tertinggi pada 2025, yakni 185 ton dari luas panen 28 hektare dengan produktivitas 65,93 kuintal per hektare, tertinggi di Kabupaten Bungo.

Sementara Pelepat Ilir memiliki luas panen terbesar, mencapai 26 hektare, menghasilkan 143 ton dengan produktivitas 55 kuintal per hektare.

Kecamatan Jujuhan menghasilkan 121 ton dari 21 hektare, sedangkan Tanah Sepenggal Lintas memproduksi 83 ton dari 14 hektare.

Beberapa kecamatan lain seperti Pelepat, Muko-Muko Bathin VII, Tanah Tumbuh, Pasar Muara Bungo, dan Jujuhan Ilir masih mempertahankan budidaya jagung dalam skala lebih kecil.

Sebaliknya, sejumlah kecamatan seperti Bungo Dani, Tanah Sepenggal, Limbur Lubuk Mengkuang, dan Rimbo Tengah tidak lagi mencatat produksi jagung pada 2025.

Alarm bagi Ketahanan Pangan

Penurunan luas panen yang jauh lebih cepat dibandingkan perubahan produktivitas menjadi sinyal penting bagi sektor pertanian Kabupaten Bungo.

Jika tren ini terus berlangsung, pasokan jagung lokal akan semakin bergantung pada daerah lain. Padahal jagung merupakan komoditas strategis, baik sebagai bahan pangan maupun pakan ternak.

Data tersebut juga memperlihatkan bahwa peningkatan produktivitas saja tidak cukup menjaga produksi apabila luas tanam terus menyusut. Tantangan terbesar ke depan bukan hanya meningkatkan hasil panen, tetapi juga mempertahankan bahkan memperluas kembali lahan budidaya jagung agar komoditas ini tetap memiliki peran dalam mendukung ketahanan pangan dan perekonomian pertanian Kabupaten Bungo. (***) 

 
Editor: Arya Abisatya
Sumber: Bungo Dalam Angka