GRAFIS : Angka pengangguran di kabupaten Bungo

Pengangguran Turun, Mengapa Ribuan Warga Bungo Masih Belum Masuk Dunia Kerja?

MUARA BUNGO, bungopos.com - Di atas kertas, kabar baik datang dari pasar tenaga kerja Kabupaten Bungo. Setiap tahun, semakin sedikit warga yang menganggur. Angka itu menjadi sinyal bahwa roda ekonomi terus berputar dan peluang kerja masih tersedia.

Namun, jika lembar data dibuka sedikit lebih dalam, muncul cerita lain yang tak kalah penting. Bukan lagi soal siapa yang belum mendapat pekerjaan, melainkan siapa yang bahkan belum ikut masuk ke dunia kerja.

Inilah dua wajah pasar tenaga kerja Kabupaten Bungo pada 2025.

Data Bungo Dalam Angka 2026 menunjukkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Kabupaten Bungo turun menjadi 4,33 persen pada 2025, dari 4,67 persen pada 2024. Dibandingkan lima tahun terakhir, angka tersebut juga jauh lebih rendah dibandingkan 5,86 persen pada 2021.

Artinya, dari setiap 100 orang yang aktif mencari pekerjaan, hanya sekitar empat orang yang belum memperoleh pekerjaan. Selebihnya telah bekerja atau memiliki aktivitas ekonomi.

Penurunan ini menjadi salah satu indikator bahwa kondisi pasar kerja Bungo semakin membaik setelah beberapa tahun terakhir mengalami pemulihan.

Namun, angka pengangguran hanyalah setengah dari cerita.

Di sisi lain, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Kabupaten Bungo pada 2025 tercatat 69,97 persen. Angka ini memang lebih tinggi dibandingkan 2021 yang berada di level 63,58 persen, tetapi masih berada sedikit di bawah rata-rata Provinsi Jambi yang mencapai 68,37 persen? (Catatan: Bungo justru sedikit di atas rata-rata provinsi pada 2025: 69,97% vs 68,37%).

Dengan kata lain, hampir tiga dari setiap sepuluh penduduk usia kerja di Kabupaten Bungo belum masuk ke dalam angkatan kerja. Mereka bisa saja masih bersekolah, mengurus rumah tangga, telah pensiun, atau memilih tidak bekerja maupun tidak mencari pekerjaan.

Di sinilah letak tantangan berikutnya.

Ekonom Dr Yuliana menyebutkan bahwa daerah yang sehat bukan hanya memiliki pengangguran rendah, tetapi juga mampu mengajak lebih banyak penduduk usia produktif untuk ikut berkontribusi dalam kegiatan ekonomi.

Semakin tinggi tingkat partisipasi angkatan kerja, semakin besar pula kapasitas daerah menciptakan produksi, meningkatkan konsumsi, memperluas basis pajak, hingga mempercepat pertumbuhan ekonomi.

Bagi Kabupaten Bungo, capaian 2025 memberikan dua pesan sekaligus.

Pesan pertama adalah optimisme. Penurunan pengangguran menunjukkan peluang kerja semakin terbuka dan aktivitas ekonomi terus bergerak.

Pesan kedua adalah pekerjaan rumah. Pemerintah daerah, dunia usaha, lembaga pendidikan, dan pelaku industri masih perlu memperluas kesempatan kerja yang berkualitas agar lebih banyak perempuan, pemuda, lulusan baru, maupun masyarakat usia produktif terdorong masuk ke pasar kerja.

"Lapangan kerja hari ini bukan lagi sekadar soal menyediakan pekerjaan, melainkan menciptakan pekerjaan yang layak, produktif, dan memberikan penghasilan yang mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga,'' tuturnya. 

Karena pada akhirnya, kemajuan sebuah daerah tidak hanya diukur dari sedikitnya orang yang menganggur. Kemajuan sesungguhnya terlihat ketika semakin banyak warganya memiliki kesempatan untuk bekerja, berkarya, dan ikut membangun perekonomian.

"Jika tren penurunan pengangguran dapat dipertahankan bersamaan dengan meningkatnya partisipasi angkatan kerja, Kabupaten Bungo bukan hanya akan memiliki pasar tenaga kerja yang lebih sehat, tetapi juga fondasi yang lebih kuat menuju pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,' tandasnya. (***)

Editor: Arya Abisatya
Sumber: Bungo Dalam Angka 2026