Oleh : Mohd Haramen
Ada orang yang dikenang karena jabatannya. Ada pula yang dikenang karena karya-karyanya. Namun hanya sedikit yang akan selalu diingat karena caranya memperlakukan manusia. Kemas Arsyad Somad adalah salah satunya.
Senin, 6 Juli 2026, kabar duka itu datang. Jambi kehilangan seorang akademisi, pendidik, negarawan, dan tokoh masyarakat yang telah mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk dunia pendidikan dan pembangunan daerah. Bagi banyak orang, beliau adalah mantan Rektor Universitas Jambi yang membawa kampus itu melangkah jauh ke depan. Bagi yang lain, beliau adalah mantan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jambi, mantan Anggota DPRD Provinsi Jambi, seorang advokat, dosen, sekaligus intelektual yang selalu hadir di ruang-ruang publik dengan gagasan dan keteduhan.
Namun bagi saya, beliau selain sebagai senior saya di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), juga adalah seorang narasumber yang tidak pernah menutup pintu.
Saya mengenalnya sejak masih menjadi wartawan di Jambi Ekspres. Pada masa itu, beliau memimpin Universitas Jambi selama dua periode, 2003 hingga 2012. Di bawah kepemimpinannya, banyak perubahan penting terjadi. Salah satu warisan terbesar yang terus dikenang adalah keberhasilannya menginisiasi berdirinya Fakultas Kedokteran Universitas Jambi, sebuah tonggak sejarah yang memperluas peran universitas dalam mencetak tenaga kesehatan bagi Provinsi Jambi.
Sebagai wartawan, saya berkali-kali datang ke ruang kerjanya di rektorat. Perjalanan dari kantor menuju Kampus Mendalo terasa cukup jauh. Namun rasa lelah itu selalu terbayar. Hampir setiap kali meminta waktu untuk wawancara, beliau tidak pernah menolak. Ia menerima siapa pun dengan senyum yang sama, baik wartawan senior maupun reporter muda yang baru belajar menulis berita.
Di balik jabatan yang tinggi, tidak pernah tampak sekat yang membuat orang merasa kecil. Beliau mendengarkan dengan penuh perhatian, menjawab dengan tenang, lalu menambahkan cerita-cerita yang memperkaya sudut pandang seorang wartawan.
Keramahan itu ternyata tidak berubah, bahkan setelah beliau tidak lagi menjabat.
Pertemuan terakhir saya dengan beliau terjadi pada 24 Februari 2024. Saat itu saya tergabung dalam tim penulis sejarah Nahdlatul Ulama (NU) Jambi. Kami mendapat amanah mewawancarai beliau mengenai perjalanan panjang NU di Provinsi Jambi.
Kami datang ke kediamannya di kawasan Telanaipura pada sore hari, sekitar pukul empat. Beliau menyambut kami dengan hangat, seolah menerima sahabat lama. Ingatannya masih sangat tajam. Satu demi satu peristiwa sejarah NU Jambi beliau ceritakan dengan runtut. Nama-nama tokoh, tahun, peristiwa, hingga dinamika organisasi mengalir begitu saja dari ingatannya.
Sesekali beliau menyelipkan canda khas yang membuat suasana wawancara menjadi ringan. Tidak ada kesan sedang berbicara dengan mantan rektor atau mantan pejabat tinggi. Yang kami temui adalah seorang guru yang menikmati berbagi pengetahuan.
Barangkali itu tidak mengherankan.
Beliau lahir di Jambi pada 12 April 1944 sebagai putra dari KH. Kemas Abdussomad (1897–1984), seorang ulama kharismatik sekaligus tokoh besar Nahdlatul Ulama di Jambi. Sejak 1939 hingga akhir hayatnya, sang ayah mengemban amanah sebagai Rais 'Aam Dewan Syuriah NU Jambi selama kurang lebih 45 tahun. Dari lingkungan keluarga itulah Kemas Arsyad Somad tumbuh dengan tradisi keilmuan, pengabdian, dan kepemimpinan.
Jejak pengabdiannya pun panjang. Ia menjadi dosen, birokrat pendidikan, legislator, advokat, pemimpin perguruan tinggi, sekaligus tokoh masyarakat. Banyak penulis telah mendokumentasikan kiprah hidupnya, di antaranya Fajri Almugni dan sejumlah akademisi lain yang melihat besarnya kontribusi beliau bagi sejarah pendidikan di Jambi.
Namun sesungguhnya warisan terbesar seorang pendidik bukanlah gedung yang berdiri megah ataupun jabatan yang pernah disandang.
Warisan itu adalah manusia-manusia yang pernah disentuhnya.
Ribuan alumni Universitas Jambi mungkin tidak pernah menyadari bahwa kesempatan mereka menempuh pendidikan kedokteran di tanah kelahirannya adalah buah dari visi seorang pemimpin kampus yang berpikir jauh ke depan. Begitu pula banyak akademisi, birokrat, wartawan, aktivis, dan tokoh masyarakat yang pernah merasakan keluasan pikiran serta keteduhan sikap beliau.
Kini sosok itu telah pergi.
Namun jejaknya tetap hidup di ruang-ruang kuliah, di gedung-gedung kampus, dalam sejarah pendidikan Jambi, dan dalam ingatan orang-orang yang pernah duduk berbincang bersamanya.
Bagi saya pribadi, beliau bukan hanya mantan rektor yang pernah saya wawancarai berkali-kali. Beliau adalah teladan tentang bagaimana ilmu pengetahuan dapat berjalan berdampingan dengan kerendahan hati. Bahwa semakin tinggi jabatan seseorang, semakin luas pula seharusnya pintu yang ia buka bagi orang lain.
Selamat jalan, Prof. Kemas Arsyad Somad.
Terima kasih atas ilmu, keteladanan, keramahan, dan pengabdian yang telah Bapak wariskan kepada Jambi.
Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah, mengampuni segala khilaf, melapangkan alam kubur, serta menempatkan almarhum di tempat terbaik di sisi-Nya.
Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji'ūn.
Selamat jalan, Guru. Jejakmu akan terus hidup dalam sejarah, dan namamu akan selalu dikenang oleh generasi yang datang kemudian. (***)