LAMPUNG BARAT, bungopos.com— Pagi itu, yang tersisa hanyalah puing-puing sebuah gubuk kecil di tepi hutan. Dindingnya roboh, tiang-tiang kayunya patah, dan barang-barang di dalamnya berserakan. Di lokasi itulah seorang petani ditemukan meninggal dunia setelah diduga diserang kawanan gajah liar yang melintas di kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS).
Peristiwa tersebut bukan sekadar kisah tragis tentang perjumpaan manusia dengan satwa liar. Ia membuka kembali pertanyaan yang lebih besar: mengapa konflik antara manusia dan gajah semakin sering terjadi?
Menurut informasi dari petugas TNBBS, lokasi gubuk yang ditempati korban berada di jalur yang telah lama dikenal sebagai lintasan alami kawanan gajah. Pihak taman nasional menyatakan telah berulang kali mengingatkan masyarakat agar tidak mendirikan pondok atau bangunan di kawasan tersebut karena berisiko tinggi dilalui satwa liar.
Namun, larangan di atas kertas sering kali berbenturan dengan kenyataan di lapangan. Bagi sebagian petani, berada dekat lahan garapan berarti menjaga tanaman dan mengurangi risiko pencurian hasil panen. Pilihan itu terkadang membawa mereka semakin dekat ke wilayah yang juga menjadi rumah bagi satwa liar.
Di balik peristiwa ini, para ilmuwan melihat persoalan yang jauh lebih kompleks daripada sekadar "gajah menyerang manusia".
Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada, Prof. Wisnu Nurcahyo, menjelaskan bahwa meningkatnya konflik manusia dan gajah sebagian besar dipicu oleh menyusutnya habitat alami satwa tersebut.
"Kawanan gajah biasanya mendekati atau memasuki wilayah manusia karena habitat alaminya semakin menyempit atau terfragmentasi. Mereka mencari makanan dan air sebagai bagian dari upaya bertahan hidup, bukan semata-mata karena bersifat agresif," jelas Prof. Wisnu.
Dalam beberapa dekade terakhir, bentang hutan di berbagai wilayah Sumatra mengalami perubahan akibat berbagai aktivitas manusia, termasuk pembukaan lahan untuk pertanian, perkebunan, dan pembangunan infrastruktur. Ketika kawasan hutan terpecah menjadi bagian-bagian kecil, ruang jelajah gajah ikut menyempit.
Akibatnya, batas antara kawasan manusia dan habitat satwa menjadi semakin kabur. (***)