KESEMPATAN EMAS : Peluang mendapatkan beasiswa kuliah di Al Azhar

Kesempatan Langka! PBNU Buka 30 Kuota Beasiswa Al-Azhar untuk Santri dan Lulusan Madrasah

JAKARTA, bungopos.com -  Kabar menggembirakan hadir bagi para santri, siswa madrasah, dan generasi muda Nahdlatul Ulama yang bercita-cita menimba ilmu di salah satu universitas Islam paling bergengsi di dunia. Melalui Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) PBNU, Nahdlatul Ulama kembali membuka Seleksi Beasiswa Sarjana Universitas Al-Azhar Mesir Tahun 2026, yang akan berlangsung pada 10 hingga 17 Juni 2026.

Program prestisius ini menyediakan 30 kuota beasiswa yang terbagi dalam dua jalur utama, yakni jurusan adabi (keagamaan) dan jurusan ilmi (non-keagamaan). Kesempatan ini menjadi jalan emas bagi generasi muda Indonesia untuk melanjutkan tradisi keilmuan Islam sekaligus mengembangkan kompetensi di berbagai bidang sains dan teknologi di kampus yang telah melahirkan ulama, pemikir, dan tokoh dunia selama lebih dari seribu tahun.

Salah satu panitia program beasiswa, Muhammad Tabrani Basya, menjelaskan bahwa proses seleksi dirancang secara komprehensif untuk menjaring calon mahasiswa terbaik yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki wawasan keislaman yang kuat.

Bagi peserta yang memilih jurusan keagamaan, kemampuan memahami khazanah keilmuan Islam klasik menjadi salah satu fokus utama penilaian.

"Beberapa hal di antaranya tentu wawasan tentang turats atau kitab kuning. Jadi, nanti kemampuan untuk membaca, meng-i'rab, memaknai sampai menjelaskan tentunya," ujarnya.

Sementara itu, peserta yang memilih jurusan ilmiah seperti kedokteran, teknik, farmasi, dan bidang sains lainnya juga akan mengikuti seleksi yang sesuai dengan disiplin ilmu yang dipilih, termasuk kemampuan berbahasa Inggris.

"Tidak hanya jurusan keagamaan saja yang kita tes, tetapi juga kemampuan yang mendukung jurusan ilmiah," tambahnya.

Lebih dari sekadar program pendidikan, beasiswa ini merupakan bagian dari visi besar Nahdlatul Ulama dalam membangun peradaban dunia yang damai, berkeadilan, dan berkemajuan. Menurut Tabrani, cita-cita besar NU sebagai poros tata kelola peradaban dunia membutuhkan kontribusi dari berbagai bidang keilmuan, baik agama maupun sains.

Di tengah dinamika global yang semakin kompleks, dunia membutuhkan sosok-sosok muda yang tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki nilai-nilai moderasi, toleransi, dan kemanusiaan. Karena itulah, NU terus mendorong lahirnya kader-kader intelektual yang mampu menjembatani nilai-nilai keislaman dengan tantangan zaman.

Program beasiswa ini juga menjadi upaya strategis untuk menjaga dan memperkuat hubungan intelektual yang telah terjalin selama puluhan tahun antara ulama Indonesia dan para ulama Al-Azhar Mesir.

"Ini adalah kesempatan untuk menyambung rantai sanad keilmuan antara Al-Azhar dan Nahdlatul Ulama yang telah berlangsung selama ini," ungkapnya.

Bagi banyak santri dan pelajar, Al-Azhar bukan sekadar kampus, melainkan simbol peradaban ilmu pengetahuan Islam yang telah melahirkan banyak tokoh besar dunia. Menjadi bagian dari Al-Azhar berarti memasuki lingkungan akademik internasional yang kaya akan tradisi keilmuan, dialog, dan pemikiran moderat.

Untuk mengikuti seleksi ini, calon peserta diwajibkan menyiapkan sejumlah dokumen seperti ijazah atau surat keterangan lulus, transkrip nilai, KTP atau paspor, akta kelahiran, surat rekomendasi pesantren atau madrasah, surat rekomendasi PCNU sesuai domisili, pasfoto, curriculum vitae, surat pernyataan pelamar, serta dokumen pendukung lainnya. Selain itu, peserta juga diwajibkan memiliki akun Digdaya Pesantren.

Kesempatan ini menjadi bukti bahwa jalan menuju kampus impian dunia terbuka lebar bagi putra-putri terbaik bangsa yang memiliki tekad kuat untuk belajar, berjuang, dan mengabdi.

Di balik setiap formulir pendaftaran yang diisi, tersimpan mimpi besar untuk menjadi ulama, dokter, insinyur, apoteker, akademisi, dan pemimpin masa depan yang mampu membawa manfaat bagi umat, bangsa, dan dunia.

Karena sesungguhnya, perjalanan menuju peradaban besar selalu dimulai dari keberanian untuk mengambil langkah pertama. (***)

Editor: Arya Abisatya
Sumber: NU Online