JAKARTA, bungopos.com - Konflik memanas di Timur Tengah, Selat Hormuz—nyawa perdagangan energi dunia—ikut bergejolak. Di tengah ketidakpastian itu, PT Pertamina (Persero) tak tinggal diam. Sumber-sumber impor baru mulai digarap, sementara dua kapal tanker masih setia menanti di Teluk Arab. Namun di balik strategi besar itu, ada satu hal yang tak kalah penting: keselamatan para kru yang berlayar di kawasan rawan.
Selat Hormuz, jalur sempit di Teluk Persia yang menjadi lintasan seperlima konsumsi minyak dunia, tengah diliputi ketegangan. Imbas konflik geopolitik di Timur Tengah, alur distribusi energi ikut terguncang.
Namun, di tengah dinamika itu, PT Pertamina (Persero) memastikan pasokan energi nasional tetap aman. Caranya? Dengan memutar haluan mencari sumber-sumber impor alternatif.
Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri menuturkan, perusahaan telah menyiapkan langkah antisipasi jauh-jauh hari. Diversifikasi sumber energi menjadi kunci utama agar ketahanan stok dalam negeri tetap terjaga. "Jadi tentunya kita sudah antisipasi untuk mencari sumber yang lain supaya ketahanan stoknya juga bisa baik dan bagus," ujar Simon di Jakarta.
Langkah itu dinilai strategis mengingat pemerintah mencatat sekitar 20 hingga 25 persen impor minyak mentah Indonesia selama ini melewati Selat Hormuz. Jika jalur itu terganggu, rantai pasok bisa ikut tersendat. Maka, mencari sumber baru adalah keniscayaan.
Di balik strategi korporasi itu, ada cerita lain yang mengiringi: dua kapal tanker milik Pertamina International Shipping (PIS) masih bertahan di kawasan Teluk Arab. Mereka adalah VLCC Pertamina Pride yang tengah berlabuh di Ras Tanura, Arab Saudi, dan kapal Gamsunoro yang sedang proses loading di Khor al Zubair, Irak. Keduanya belum dapat melintasi Selat Hormuz menunggu situasi dinyatakan aman. Sementara itu, dua kapal lainnya—PIS Paragon dan PIS Rinjani—dilaporkan telah beranjak dari kawasan konflik dan kini berada di luar perairan Timur Tengah.
Manajemen PIS memastikan bahwa seluruh kru dalam keadaan aman. Namun, kekhawatiran tetap ada. Bukan soal kargo semata, melainkan nyawa manusia di atas kapal. Doa dari masyarakat Indonesia pun dimohonkan demi keselamatan para pekerja yang tetap menjalankan tugas di tengah potensi bahaya. "Kami memohon doa serta dukungan dari seluruh masyarakat Indonesia bagi keselamatan para kru kapal dan pekerja kami yang tetap menjalankan tugasnya di kawasan Timur Tengah," ucap Pjs Corporate Secretary Pertamina International Shipping, Vega Pita.
Meskipun dua kapal masih tertahan, PIS menegaskan bahwa rantai pasok dan distribusi energi secara keseluruhan tetap solid. Total 345 kapal di bawah pengelolaan Pertamina Group siap mendukung distribusi energi, baik di perairan internasional maupun domestik. Dari jumlah itu, 266 kapal mengangkut BBM dan avtur, 27 kapal membawa minyak mentah, 45 unit mendistribusikan LPG, dan 7 unit menangani petrokimia serta berfungsi sebagai fasilitas penyimpanan terapung.
Namun di luar urusan diplomasi dan negosiasi, Pertamina juga tak melupakan sumber daya domestik. Simon Mantiri menyebutkan bahwa peningkatan produksi dalam negeri terus didorong, salah satunya di Blok Cepu yang selama ini menjadi andalan.
Dari Teluk Arab yang panas hingga ladang-ladang minyak di tanah air, Pertamina terus bergerak. Bukan hanya demi menjaga angka-angka produksi dan impor, tetapi juga memastikan bahwa energi untuk dapur, kendaraan, dan industri di rumah-rumah warga Indonesia tak pernah padam. Dan di tengah badai geopolitik, keselamatan para pelaut yang membawa energi itu tetap menjadi prioritas. (***)