MENGKHAWATIRKAN : Kenaikan harga BBM menghadapi perang Iran- Israel / Youtube

Perang Iran-Israel Picu Kenaikan Harga Minyak Dunia, Siapkah Ekonomi Indonesia ?

YOGYAKARTA, bungopos.com - Operasi militer Amerika Serikat dan Israel ke Iran yang dimulai pada akhir Februari 2026 saat ini berpotensi besar memengaruhi situasi ekonomi dunia. Keadaan ini diperkuat dengan keputusan Iran menutup Selat Hormuz dan melakukan serangan balasan ke beberapa negara tergabung. Situasi geopolitik tersebut mendorong harga minyak dunia beranjak naik seiring dengan meningkatnya ketegangan negosiasi AS-Iran.

Ekonom UGM sekaligus Ketua Bidang International Affairs Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia, Muhammad Edhie Purnawan, menyampaikan bahwa di tengah ketidakpastian ekonomi dunia akibat konflik tersebut dapat terlihat dari harga minyak mentah dunia yang menembus USD 108 per barel menjadi ancaman nyata bagi inflasi di negara-negara yang masih mengimpor minyak. Di tengah guncangan tersebut, Indonesia justru menampilkan anomali yang impresif. Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur yang stabil di level 53,8 serta pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2025 yang menyentuh 5,39% menegaskan kokohnya fundamental domestik Indonesia.

“Cadangan devisa sebesar USD 151,9 miliar menjadi benteng pertahanan terakhir yang memadai untuk meredam turbulensi pasar,” ungkapnya.

Penutupan Selat Hormuz berisiko memutus pasokan energi Asia Pasifik. Menanggapi hal ini, Pemerintah Indonesia menjadikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai penahan benturan melalui subsidi energi untuk menjaga daya beli masyarakat. Sementara itu, Bank Indonesia menginjeksikan likuiditas melalui kebijakan Intensif Likuiditas Makroprudensial (KLM) sebesar Rp 427,5 triliun dan menurunkan bunga kredit ke level 8,80% agar sektor UMKM serta dunia usaha tetap bisa bergerak meski biaya modal global sedang melonjak. 

Edhie mengatakan bahwa dengan gugurnya tokoh-tokoh penting di Timur Tengah dapat memicu percepatan risiko proliferasi nuklir di Dunia. Sebagai middle power yang independen dengan surplus perdagangan konsisten selama 69 bulan, Indonesia memiliki kredibilitas untuk menyuarakan bahwa perang pada akhirnya harus berakhir melalui negosiasi dan pemahaman mendalam, bukan dengan retorika yang saling memojokkan sebagai musuh atau pembohong.

“Perdamaian tercapai saat setiap pihak memahami kepentingan masing-masing sekaligus menemukan titik temu kemanfaatan bersama. Maka, urgensi saat ini adalah menghentikan seruan peperangan dan memulai meja diskusi,” katanya.

Bagi Edie, untuk menjaga kestabilan harga dan memastikan perputaran uang tetap lancar menjadi syarat mutlak bagi kedaulatan ekonomi. Lonjakan transaksi QRIS hingga 131,47% membuktikan kesiapan masyarakat Indonesia dalam ekosistem digital. Namun, transformasi ini harus merambah ke sektor energi secara lebih luas sebagai langkah mitigasi jangka panjang.

“Apabila sinergi antara stimulus fiskal dan kebijakan moneter yang pro-growth ini dijalankan secara konsisten, Indonesia tidak hanya akan selamat dari resesi global, melainkan juga bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi yang modern, mandiri, dan resilien di tengah tata dunia baru yang terus bersalin rupa,” tuturnya.

Edie menambahkan bahwa semua perhitungan geopolitik dan ekonomi harus berjuang pada satu keyakinan yaitu Indonesia tidak boleh ragu untuk menentukan sikap di masa sulit saat ini. Memiliki pendirian yang jelas jauh lebih terhormat daripada hanya diam melihat ketidakadilan sebagaimana Indonesia menolak setiap tatanan yang menempatkan satu kekuatan di atas kedaulatan bangsa lain. Seperti konstitusi Indonesia yang hanya tunduk pada mandat perdamaian dan kemanusiaan; Indonesia tidak mencari musuh, namun kita tak gentar menjaga perdamaian dunia.

“Kedaulatan Indonesia adalah prinsip yang telah ratusan tahun dijaga, ditempa oleh penjara penjajah, dibayar dengan penderitaan rakyat, dan disiram dengan darah para syuhada. Maka, berdiri tegak di atas geopolitik perdamaian dan kemanusiaan yang aktif adalah sebuah sumpah yang diucapkan di hadapan bentang sejarah yang lahir dari luka penjajahan wajib menjadi suara bagi mereka yang lukanya belum sembuh,” tambahnya. (***)

Editor: arya abisatya
Sumber: https://ugm.ac.id/