Mohd Haramen

PUASA KE XXVIII : Lebaran Kesederhanaan

Oleh : Mohd Haramen, S.E, M.E.Sy

DALAM lembaran hikmah yang terabadikan dalam Hasyiyatus Syarqawi karya ulama Al Azhar Syekh Abdullah bin Hijazi bin Ibrahim al-Syarqawi, kita diajak menatap sebuah potret Idul Fitri yang jauh dari gemerlap, namun begitu dalam maknanya. Sebuah kisah tentang pemimpin besar, Umar bin Abdul Aziz, yang justru menemukan pelajaran hidup dari seorang anak kecil—darah dagingnya sendiri.

Di hari raya yang penuh kebahagiaan, saat manusia berlomba menampilkan yang terbaik dari apa yang mereka miliki, sang khalifah memilih berjalan tanpa pengawalan, menyusuri gang-gang, menyapa rakyatnya dengan kesederhanaan. Namun langkahnya terhenti ketika matanya menangkap sosok anak kecil berpakaian sederhana dan lusuh, bukan baju baru seperti kebanyakan anak-anak. Hatinya bergetar. Air matanya jatuh. Dan betapa pilunya, anak itu adalah putranya sendiri.

Di tengah keharuan itu, seorang ayah merasa gagal—bukan sebagai pemimpin, tapi sebagai orang tua. Ia takut anaknya terluka oleh dunia yang menilai dari penampilan. Namun jawaban sang anak justru mengguncang langit kesadaran:

“Wahai Amirul Mukminin, yang patah hati adalah mereka yang kehilangan ridha Allah, atau yang durhaka kepada orang tuanya. Aku berharap Allah meridhaiku karena ridhamu, wahai ayah.”

Kalimat sederhana itu menampar logika dunia. Mengangkat kembali makna kemuliaan yang sesungguhnya. Bahwa harga diri tidak pernah ditentukan oleh pakaian baru, melainkan oleh hati yang dekat dengan Allah.

Di sinilah kita bercermin.

Hari ini, Idul Fitri sering berubah menjadi perayaan simbolik. Pusat perbelanjaan dipadati, keranjang digital penuh dengan pakaian baru, seolah-olah kebahagiaan bisa dibeli dan dikenakan. Kita sibuk memperindah tubuh, tapi sering lupa memperindah jiwa.

Padahal Ramadhan baru saja mendidik kita. Ia mengajarkan lapar agar kita peka. Ia menahan kita dari berlebihan agar kita tahu arti cukup. Ia melatih kita untuk mengendalikan diri, bukan memuaskan diri.

Para ulama terdahulu tidak menyambut Idul Fitri dengan pesta, melainkan dengan air mata. Mereka khawatir: apakah amal mereka diterima? Mereka memperbanyak istighfar, bukan euforia. Mereka menghidupkan malam takbir dengan harap dan cemas, bukan sekadar gema suara tanpa makna.

Idul Fitri sejatinya bukan tentang apa yang kita pakai, tetapi tentang siapa kita setelah Ramadhan berlalu.

Apakah kita menjadi lebih sabar?
Lebih rendah hati?
Lebih dekat kepada Allah?

Kisah Umar bin Abdul Aziz dan anaknya adalah cermin jernih di tengah kabut materialisme. Ia mengajarkan bahwa kemuliaan tidak diwariskan oleh jabatan, tidak ditentukan oleh kekayaan, dan tidak dipamerkan oleh pakaian.

Kemuliaan tumbuh dari hati yang bersih, dari ridha orang tua, dan dari kedekatan kepada Tuhan.

Maka, saat takbir bergema dan hari kemenangan tiba, tanyakan pada diri:

Apakah yang kembali itu pakaian kita… atau jiwa kita?

(Penulis adalah Wakil Ketua I Baznas Batang Hari, bidang penghimpunan Zakat, Infaq dan Sedekah)

Penulis: Mohd Haramen
Editor: arya abisatya