Mohd Haramen

PUASA KE XVII : Bacalah !

Oleh : Mohd Haramen, S.E, M.E.Sy

PADA suatu malam yang agung, ketika langit dipenuhi cahaya rahmat dan para malaikat turun membawa keberkahan, Allah SWT menurunkan Al-Qur’an pada malam Lailatul Qadar. Kitab suci itu diturunkan dari Lauh Mahfuz ke langit dunia sebagai tanda kemuliaan terbesar yang diberikan Allah kepada umat manusia, khususnya umat Nabi Muhammad.

Menurut ulama besar Manna' al-Qaththan dalam kitab Mabahits fi Ulumil Qur'an, turunnya Al-Qur’an pada malam itu bukan sekadar peristiwa spiritual bagi manusia di bumi. Ia juga merupakan pengumuman kepada alam samawi—kepada para malaikat di langit—tentang kemuliaan umat Muhammad yang diberi kitab petunjuk paling sempurna.

Sejarah besar itu kemudian bermula ketika Muhammad berusia 40 tahun, sekitar tahun 610 Masehi. Saat itu beliau sering menyendiri untuk bertafakur di Gua Hira. Di tempat sunyi itulah malaikat Jibril datang membawa wahyu pertama.

Wahyu itu adalah ayat-ayat awal dari Surah Al-Alaq ayat 1–5:

"Iqra’ bismi rabbikalladzi khalaq..."
"Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan."

Kata pertama dari wahyu itu adalah “Iqra” — Bacalah.

Inilah pesan pertama dari langit kepada manusia yakni diperintahkan membaca, belajar, dan mencari ilmu.

Sejak saat itu, Al-Qur’an tidak turun sekaligus, tetapi secara bertahap selama sekitar 23 tahun. Ayat-ayatnya hadir menjawab berbagai persoalan manusia diantaranya, krisis moral, kezaliman sosial, kebodohan, hingga persoalan keimanan. Dalam sejarahnya, wahyu Al-Qur’an terbagi dalam dua periode besar yakni ayat Makkiyah yang turun di Mekkah dan ayat Madaniyah yang turun di Madinah.

Al-Qur’an turun bukan hanya untuk dibaca dalam ibadah, tetapi untuk membangun peradaban. Namun di tengah kemuliaan kitab yang dimulai dengan perintah membaca itu, realitas kita hari ini terasa seperti ironi.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia masih sangat rendah. Data yang sering dikutip dari UNESCO dan berbagai lembaga riset menunjukkan angka minat baca hanya sekitar 0,001 persen. Artinya, dari seribu orang, hanya satu yang benar-benar memiliki kebiasaan membaca secara serius.

Dalam dunia akademik, jumlah profesor di Indonesia juga masih sangat kecil. Dari lebih dari 300 ribu dosen, hanya sekitar 2,6–2,7 persen yang mencapai gelar guru besar. Angka ini jauh di bawah negara seperti Amerika Serikat, Korea Selatan, atau Malaysia.

Jumlah doktor juga sangat terbatas: hanya sekitar 143 doktor per satu juta penduduk, jauh tertinggal dibandingkan Jepang, Amerika Serikat, atau bahkan negara tetangga di Asia.

Bahkan jika melihat pendidikan tinggi secara umum, jumlah penduduk Indonesia yang bergelar sarjana hanya berkisar 6–10 persen dari total populasi. Bandingkan dengan negara-negara maju yang bisa mencapai hampir setengah penduduknya. Misalnya Korea Selatan sudah mencapai 67 persen dari jumlah penduduknya yang sarjana.

Padahal kitab suci kita dimulai dengan satu kata: bacalah.

Al-Qur’an tidak pernah memerintahkan umatnya untuk menjadi umat yang malas berpikir. Sebaliknya, ia memanggil manusia untuk membaca alam, membaca sejarah, membaca kehidupan, dan membaca dirinya sendiri.

Jika kita menengok sejarah Islam, perintah “Iqra” itulah yang melahirkan generasi ilmuwan besar. Dari rahim peradaban Islam lahir tokoh-tokoh seperti Al-Khwarizmi dalam matematika, Ibnu Sina dalam kedokteran, Al-Farabi dalam filsafat, hingga Al-Ghazali dalam pemikiran spiritual.

Mereka membaca Al-Qur’an bukan hanya sebagai teks ibadah, tetapi sebagai sumber inspirasi ilmu pengetahuan. Di sinilah sebenarnya pesan besar Nuzulul Qur’an.  Al-Qur’an diturunkan bukan sekadar untuk diletakkan di rak, tetapi untuk menghidupkan akal manusia.

Malam Nuzulul Qur’an bukan hanya malam doa dan air mata. Ia juga seharusnya menjadi malam refleksi, apakah kita sudah menjadi umat yang menghormati perintah pertama dari wahyu?

Karena kemuliaan umat Muhammad tidak terletak pada jumlahnya, tetapi pada ilmunya.
Tidak pada banyaknya suara, tetapi pada kedalaman pikirannya. Mungkin sudah saatnya kita kembali pada pesan pertama wahyu : Bacalah.


Bacalah buku, bacalah ilmu, bacalah dunia.

Sebab peradaban besar selalu lahir dari orang-orang yang membaca— dan Al-Qur’an telah mengajarkan itu sejak wahyu pertama turun di Gua Hira, lebih dari 14 abad yang lalu.

 

(Penulis adalah Wakil Ketua I Baznas Kabupaten Batang Hari bidang penghimpunan Zakat, Infaq dan Sedekah)

Penulis: Mohd Haramen
Editor: arya abisatya