Mohd Haramen

PUASA KE XV : Selalu Alhamdulillah

Oleh : Mohd Haramen, S.E, M.E.Sy

Di tengah hamparan padang pasir wilayah Arish di Mesir, seorang perawi bernama Abdullah bin Muhammad pernah menyaksikan pemandangan yang menggugah hati. Ia melihat sebuah kemah kecil yang tampak sangat sederhana—bahkan lebih tepat disebut sebagai tempat berteduh bagi seseorang yang hidup dalam keterbatasan.

Rasa penasaran membawanya mendekati kemah itu. Di dalamnya, ia menemukan seorang laki-laki yang sedang berbaring. Tubuhnya tidak lagi memiliki tangan dan kaki. Telinganya hampir tidak dapat mendengar, matanya tidak bisa melihat. Dari seluruh anggota tubuhnya, hanya lisannya yang masih bisa bergerak.

Namun yang keluar dari lisannya bukanlah keluhan.

Lelaki itu justru berdoa, “Ya Allah, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku. Dan Engkau sangat memuliakan aku dibandingkan banyak ciptaan-Mu yang lain.”

Abdullah tertegun. Ia tidak mampu menyembunyikan keheranannya.

“Wahai saudaraku,” katanya perlahan, “nikmat Allah yang mana yang engkau syukuri?”

Lelaki itu menjawab dengan tenang. Dialah sahabat Nabi yang dikenal dengan nama Abu Qilabah.

“Wahai saudaraku, diamlah. Demi Allah, seandainya Allah mendatangkan lautan untuk menenggelamkanku, atau gunung api untuk membakarku, atau langit dijatuhkan untuk meremukkanku, aku tidak akan mengatakan apa pun selain rasa syukur.”

Abdullah kembali bertanya, “Bersyukur atas apa?”

Abu Qilabah menjawab dengan suara penuh keyakinan,
“Tidakkah engkau melihat, Allah masih memberiku lisan untuk berdzikir dan bersyukur kepada-Nya.”

Lalu ia menambahkan sesuatu yang membuat hati semakin tersentuh.

“Aku juga memiliki seorang anak. Setiap waktu salat, ia menuntunku ke masjid. Dialah yang menyuapiku makan. Tetapi sudah tiga hari ini ia belum pulang. Maukah engkau mencarikannya?”

Abdullah pun pergi mencari anak itu. Ia menyusuri padang pasir, berharap menemukan kabar baik. Namun takdir berkata lain. Ia menemukan anak itu telah meninggal, diterkam oleh seekor singa.

Dengan hati berat, ia kembali ke kemah kecil itu dan menyampaikan kabar duka.

“Sesungguhnya putramu telah aku temukan dalam keadaan telah dimakan binatang buas. Semoga Allah melipatgandakan pahala bagimu dan memberi kesabaran kepadamu.”

Yang terjadi setelahnya sungguh di luar dugaan.

Abu Qilabah tidak menangis, tidak pula meratap. Ia hanya mengucapkan kalimat yang penuh keikhlasan:

Alhamdulillah… Allah tidak meninggalkan keturunan bagiku yang bermaksiat kepada-Nya sehingga ia diazab di neraka.”

Kisah ini mengajarkan bahwa syukur bukanlah tentang seberapa banyak nikmat yang kita miliki. Syukur adalah tentang bagaimana hati memandang hidup.

Sering kali manusia merasa sulit bersyukur karena terlalu fokus pada apa yang tidak dimiliki. Kita mengeluh tentang pekerjaan, penghasilan, atau masalah hidup. Padahal mungkin tubuh kita masih sehat, keluarga masih ada, dan kesempatan untuk beribadah masih terbuka.

Sementara itu, seorang hamba yang tidak memiliki tangan, kaki, penglihatan, dan pendengaran justru mampu mengucapkan syukur yang tulus kepada Allah.

Bulan suci Ramadan sejatinya adalah madrasah ruhani yang melatih dua hal penting dalam hidup: sabar dan ikhlas. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi latihan untuk mengendalikan diri, menata hati, dan memperkuat keimanan.

Dalam berpuasa, kita belajar menahan diri bukan karena tidak mampu makan atau minum, tetapi karena ketaatan kepada Allah.

Kesabaran yang dilatih melalui puasa ternyata juga memiliki makna luas dalam kehidupan. Dalam perspektif kehidupan modern—termasuk ekonomi dan dunia kerja—sabar adalah modal mental yang sangat berharga. Ia membantu seseorang tetap tenang menghadapi tekanan, tidak mudah putus asa ketika mengalami kegagalan, dan mampu mengambil keputusan yang lebih rasional.

Seorang ulama besar, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, menjelaskan bahwa sabar adalah kemampuan menahan diri dari keinginan yang tidak sesuai dengan ajaran agama, tetap teguh dalam ketaatan, dan menerima ujian dari Allah dengan hati yang lapang.

Di zaman yang serba cepat seperti sekarang, kesabaran justru menjadi keunggulan yang langka. Banyak orang tergesa-gesa dalam mengambil keputusan, mudah stres, dan cepat menyerah ketika menghadapi kesulitan.

Padahal orang yang sabar memiliki kekuatan batin yang luar biasa. Ia tidak mudah goyah oleh keadaan. Ia mampu melihat ujian sebagai jalan untuk menjadi lebih kuat.

Kisah Abu Qilabah mengingatkan kita bahwa kebahagiaan bukan terletak pada kelengkapan fisik, harta, atau kemudahan hidup. Kebahagiaan sejati lahir dari hati yang mampu bersyukur dan bersabar.

Ketika seseorang mampu bersyukur dalam keadaan sempit, maka ia akan tetap bersyukur ketika hidupnya lapang.

Semoga puasa yang kita jalani tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih hati menjadi lebih sabar, lebih ikhlas, dan lebih pandai bersyukur.

Karena sejatinya, orang yang paling kaya bukanlah yang memiliki segalanya—melainkan yang hatinya selalu berkata, “Alhamdulillah.”

(Penulis adalah Wakil Ketua I Baznas Kabupaten Batang Hari, bidang penghimpunan Zakat, Infaq dan Sedekah)

Penulis: Mohd Haramen
Editor: arya abisatya