MENYEBARKAN Islam bukanlah hal mudah bagi Rasulullah SAW. Selain butuh cucuran keringat, derai air mata, juga berbagai hinaan. Bahkan dalam sejarah Islam, diceritakan bahwa setelah Rasulullah hijrah, ada seorang pengemis tua beragama Yahudi di Pasar Madinah yang selalu menghinanya. Padahal, Rasulullah selalu mendatangi pengemis tersebut sambil membawa makanan dan menyuapinya. Rasul terus melakukan itu hingga beliau wafat.
Sepeninggalan Rasulullah, Abu Bakar melanjutkan apa yang dilakukan oleh Rasul itu. Beliau mendatangi pengemis tua tersebut lalu menyuapinya. Namun, tanpa disangka, pengemis itu malah berteriak, "Siapakah kamu?” Abu Bakar menjawab, “Aku adalah orang yang biasa.”
Lalu pengemis itu berujar lagi, “Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku,” hardik sang pengemis. Lalu sang pengemis menceritakan, Rasulullah setiap hari datang kepadanya tidak membuat dirinya kesulitan memegang dan mengunyah makanan.
“Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya, setelah itu dia berikan padaku dengan mulutnya sendiri, pengemis itu melanjutkan perkataannya.”
Abu Bakar sambil menangis berkata, “Aku memang bukan orang yang biasa datang kepadamu. Aku adalah sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Dia adalah Muhammad Rasulullah SAW. Mendengar itu, pengemis tersebut menangis dan kemudian berkata, “Benarkah demikian?
Lalu pengemis itu melanjutkan kata-katanya, "Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, dia tidak pernah memarahiku sedikit pun. Dia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, dia begitu mulia.” Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat di hadapan Abu Bakar.
Islam adalah agama pengetahuan sekaligus akhlak. Rasulullah SAW adalah tauladan akhlak yang sempurna. Sabda beliau : “Iman yang paling utama adalah sabar dan memaafkan” (HR. Bukhari). Dalam sabdanya yang lain, Rasulullah SAW berkata : ”Orang perkasa bukanlah yang menang dalam pergulatan. Sesungguhnya orang hebat adalah yang (mampu) mengendalikan nafsunya kalah marah.”
Memaafkan dan mengampuni adalah perbuatan tertinggi dari cermin akhlak mulia. Bahkan menurut Imam Al Ghazali dalam kitab ihya' ulumuddin, iman itu separuhnya adalah sabar dan separuhnya lagi adalah syukur. Laku manusia sehari-hari terkadang dilumuri oleh ragam kesalahan karena keterbatasan. Kerap kali perilaku itu melukai hubungan persaudaraan dan kemanusiaan.
Pantas saja, Bernard Meltzer, seorang guru besar Universitas Chicago Amerika, pernah berkata : “Memaafkan tidak akan pernah bisa mengubah masa silam atau sekarang, tapi pasti akan memperbaiki masa depan.”
Puasa menjanjikan kebaikan di masa depan dan sikap sabar serta saling memaafkan adalah salah satu pesan Ramadhan. Mari kita sabar untuk tidak mengkonsumsi makanan dan minuman di siang hari Ramadhan, lalu mari memaafkan segala kesalahan saudara kita. Makanya, Rasul di bulan Sya'ban sudah menerima do'a dari malaikat jibril.
Kata Jibril " “tolong abaikan puasa umat Muhammad apabila sebelum masuk Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal berikut : (1) Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orangtuanya (jika masih ada), (2) Tidak bermaafan terlebih dahulu antara suami-istri, (3) Tidak bermaaf-maafan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya.” Maka Rasulullah pun mengatakan amin sebanyak 3 kali.
(Penulis adalah Mohd Haramen, M.E.Sy, Wakil Ketua I Bidang Penghimpunan Zakat, Infaq dan Sedekah (ZIS) Baznas Kabupaten Batang Hari)