Oleh: Muhammad Sibawaihi, M.H
Jauh sebelum bedug pertama ditabuh di bulan Ramadan, jauh sebelum sahur pertama dikumandangkan di bumi Nusantara—bahkan jauh sebelum peradaban Islam berdiri—manusia pertama di muka bumi ini sudah berpuasa. Bukan karena tren, bukan karena anjuran dokter, tapi karena perintah langit.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
"Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 183)
Tiga Ibadah Abadi yang Menembus Lintas Zaman
Ada yang menarik ketika kita membuka lembaran sejarah ibadah dalam Islam. Kata shiyam (puasa) disebut dalam Al-Qur'an sebanyak 13 kali, sementara kata Ramadan hanya muncul satu kali. Ini bukan kebetulan. Ini petanda bahwa puasa jauh lebih tua dari bulan Ramadan itu sendiri—ia adalah ibadah lintas generasi, lintas nabi, lintas peradaban.
Para ulama menyebutkan ada tiga ibadah yang bersifat universal atau "ibadah klasik" yang telah dijalankan sejak zaman Nabi Adam hingga Nabi Muhammad SAW: salat, kurban, dan puasa. Ketiganya hadir di setiap zaman, meskipun tata caranya berbeda-beda mengikuti syariat masing-masing nabi.
Imam Sulaiman bin Umar, dalam kitab tafsir Al-Futuhat Al-Ilahiyyah, ketika menjelaskan frasa min qablikum dalam ayat tersebut, menegaskan: "Yang dimaksud umat sebelum kamu adalah para nabi dan rasul sejak Adam hingga Muhammad SAW. Mereka semua telah berpuasa, hanya kaifiyat (tata cara)-nya yang berbeda."
Nabi Adam: Kulit yang Menghitam dan Tiga Hari Pemulihan
Ibnu Katsir (700–774 H) dalam karya agungnya Al-Bidayah wa Al-Nihayah mencatat bahwa Nabi Adam berpuasa tiga hari setiap bulan. Di balik kesederhanaan angka itu, tersimpan kisah yang menggetarkan.
Ketika Adam pertama kali turun ke bumi—ia yang memiliki tinggi 60 hasta atau sekitar 25 meter sebagaimana tercatat dalam hadis riwayat Bukhari-Muslim—sinar matahari langsung menyengat tubuhnya. Kulitnya yang semula bercahaya perlahan menghitam. Maka Jibril pun turun membawa perintah: berpuasalah tiga hari.
Sayidina Ali bin Abi Thalib, sebagaimana dikutip dalam kitab Nuzhatul Majalis, menjelaskan bahwa pada hari pertama berpuasa, sepertiga tubuh Adam kembali memutih. Hari kedua, dua pertiga. Dan pada hari ketiga, seluruh tubuh beliau kembali bercahaya seperti semula. Dari sinilah lahir sunnah puasa ayyamul bid—hari-hari putih tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan.
Terlepas dari perdebatan riwayatnya, pesan spiritualnya jelas: puasa adalah sarana pemurnian. Bukan sekadar menahan lapar, tetapi memutihkan jiwa dari kegelapan.
Rasulullah SAW sendiri berwasiat kepada Abu Hurairah untuk menjaga tiga amalan: puasa tiga hari setiap bulan, dua rakaat Duha, dan salat witir sebelum tidur—sebagaimana terekam dalam Sahih Bukhari.
Nabi Nuh: Puasa Sepanjang Tahun dan Hadiah untuk Umat Muhammad
Berbeda dengan puasa tiga hari Nabi Adam, Nabi Nuh AS menjalani ibadah yang jauh lebih berat. Ibnu Katsir dalam Qashashul Anbiya' mencatat: Nabi Nuh berpuasa sepanjang tahun, kecuali pada Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha.
Menariknya, Allah memberikan "jalan pintas" yang istimewa kepada umat Nabi Muhammad. Melalui sabda Rasulullah SAW, siapa saja yang berpuasa Ramadan kemudian menyambungnya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka ia seolah telah berpuasa setahun penuh—setara dengan pahala puasanya Nabi Nuh. Inilah keindahan syariat Islam: berat namun dimudahkan, tinggi namun terjangkau.
Para Nabi Lainnya: Ragam Cara, Satu Tujuan
Nabi Ibrahim AS berpuasa dengan cara yang sama seperti Nabi Adam. Yang membedakan adalah konteksnya: Imam As-Suyuthi dalam Ad-Durr Al-Mantsur menyebutkan bahwa ketika Ibrahim dilemparkan ke dalam kobaran api oleh Namrud, beliau sedang dalam keadaan berpuasa. Dan Allah pun menjawab keistiqamahannya: api itu menjadi dingin dan menjadi keselamatan baginya—ya naru kuni bardan wa salaman 'ala Ibrahim.
Nabi Musa AS adalah yang paling berbeda. Al-Qur'an mencatat bahwa ia berpuasa 30 malam sebelum menerima wahyu di Bukit Sinai, lalu ditambah 10 hari hingga genap 40 hari tanpa makan dan minum sama sekali. "Manusia luar biasa," kata para ulama—mereka manusia namun tidak seperti manusia biasa.
Nabi Daud AS berpuasa sehari-sehari berselang: sehari puasa, sehari berbuka. Rasulullah SAW memuji ini sebagai puasa yang paling dicintai Allah, namun beliau sendiri tidak menjalankannya dan tidak mewajibkannya kepada para sahabat—karena apapun yang dilakukan Nabi pasti akan diikuti, sementara kondisi perang dan dakwah tidak memungkinkan itu.
Nabi Sulaiman AS berpuasa sembilan hari per bulan: tiga hari di awal, tiga hari di tengah, dan tiga hari di akhir. Sementara Nabi Isa AS—sebagaimana dicatat Ibnu Katsir—berpuasa sehari dan berbuka dua hari.
Dan Nabi Muhammad SAW? Beliau menyempurnakan segalanya. Jika dalam hal salat, beliau mewarisi semua gerakan para nabi sebelumnya—berdiri seperti Adam, duduk tasyahud seperti Nuh, sujud seperti Ibrahim, ruku' seperti Isa—maka dalam hal puasa pun beliau membawa syariat yang merangkum kemuliaan semua umat sebelumnya.
Niat yang Membedakan: Mengapa Kita Berpuasa?
Di sinilah letak perbedaan mendasar yang tidak boleh dilewatkan. Bukan sekadar soal berapa hari atau pukul berapa berbuka—tetapi mengapa berpuasa.
Kaum Yahudi berpuasa untuk meredam kemurkaan Tuhan, agar azab tidak diturunkan. Kaum Nasrani berpuasa sebagai bentuk duka dan kesedihan atas penyaliban Nabi Isa. Sedangkan umat Islam berpuasa semata sebagai taqarrub ilallah—mendekatkan diri kepada Allah. Bukan karena takut azab, bukan karena berduka. Tapi karena cinta.
Niat berbeda, kaifiyat berbeda—tapi semua bermuara pada satu: ketundukan kepada Yang Maha Mengetahui.
Kita Bukan yang Pertama, tapi Kita yang Beruntung
Ketika kita menahan lapar dan dahaga di bulan Ramadan ini, sadarlah bahwa kita sedang melakukan sesuatu yang telah dilakukan manusia terbaik sepanjang sejarah bumi. Adam berpuasa. Nuh berpuasa. Ibrahim berpuasa dalam kobaran api. Musa berpuasa 40 hari di hadapan Tuhan semesta alam.
Dan kita—umat Muhammad—berpuasa hanya 30 hari. Lalu jika disambung puasa Syawal, pahalanya setara satu tahun. Sebuah efisiensi spiritual yang luar biasa dari Tuhan Yang Maha Adil.
Maka jangan sia-siakan Ramadan ini. Kita bukan yang pertama berpuasa, tapi kita adalah yang paling beruntung.
Referensi: Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa Al-Nihayah | Al-Futuhat Al-Ilahiyyah | Nuzhatul Majalis | Tafsir Al-Thabari | Ad-Durr Al-Mantsur | Shahih Bukhari & Muslim
(Penulis adalah Dosen Prodi Hukum Keluarga Islam Fakultas Syariah UIN SUlthan Thaha Saifuddin Jambi dan Dosen Mahad Aly Syaikh Ibrahim Al Jambi)