ilustrasi

Mengapa Rajin Sholat, Hidup Tak Baik-Baik Saja

ISRA' Mi'raj tidak terjadi saat hidup Nabi Muhammad sedang baik-baik saja. Ia datang setelah semuanya runtuh: wafatnya isteri tercinta Siti Khadijah, dan pamannya Abu Thalib, serta penolakan dakwah di lembah Thoif. Dalam bahasa hari ini: beliau dalam kondisi burnout total.

Dan justru di titik paling rapuh itu, Allah tidak menurunkan hiburan, afirmasi, healing atau jalan keluar cepat. Yang turun dari langit adalah perintah untuk shalat.

Bukan untuk menghilangkan luka, tetapi untuk menata ulang manusia yang terluka agar tetap bisa berdiri.

Di sinilah jarak yang tak bisa dijembatani kita yang hidup di era Akal Imitasi (AI). AI lahir dari obsesi efisiensi: memotong waktu, mengurangi beban, menyingkirkan lelah. Isra Mi‘raj justru mengajarkan bahwa makna hidup tidak lahir dari menghindari beban, tetapi dari menanggungnya bersama Tuhan.

Shalat bukan escape. Ia adalah latihan bertahan tanpa hancur.

Kewajiban ini tidak diturunkan lewat teks biasa. Allah tidak mengutus malaikat. Padahal itu mungkin, cepat, dan efisien. Tetapi tidak. Allah mengangkat seorang manusia—dengan tubuh, luka, dan keletihannya—naik ke langit, lalu mengembalikannya ke bumi yang sama. Problemnya tetap sama, hambatannya tidak berubah, tapi cara memandangnya tak lagi sama.

Jika hidup masih kita ukur dengan efisiensi, kecepatan, dan hasil, seperti dunia AI, maka kita belum paham rahasia Isra Mi‘raj. Sebab yang naik ke langit bukan yang ingin hidup lebih mudah,melainkan yang bersedia tetap sujudketika hidup tidak lagi memberi alasan apa pun untuk bertahan.

Karena Tuhan tidak menjanjikan hidup kita menjadi mudah selepas shalat. Tapi Tuhan menjadikan hidup kita lebih bermakna. Itu sebabnya shalat tidak hanya terpaku pada gerakan semata, tapi pada merasakan dipanggilNya, memaknai kehadiranNya, dan menjalani hidup bersamaNya.

Shalat bukan tentang hidup yang dipermudah,tetapi tentang keberanian menjawab panggilan Tuhanketika hidup tidak lagi ramah. (***)

Penulis: Gus Nadirsyah Husen
Editor: Arya Abisatya
Sumber: Fb Gus Nadirsyah Husen