ILUSTRASI : Kebobolan data

Tren Pengguna OpenClaw Naik, Ini Tips Cegah Kebocoran Data

Posted on 2026-04-05 14:42:14 dibaca 225 kali

JOGYAKARTA, bungopos.com - Jumlah pengguna OpenClaw di awal tahun 2026. Aplikasi personal kecerdasan buatan agentik berbasis open source ini baru saja dirilis pada November tahun lalu ini telah menerima kunjungan hingga lebih dari 2 juta kali dalam satu pekan. Selayaknya produk Artificial Intelligence lain yang memiliki potensi dan risiko, OpenClaw pun perlu perhatian khusus dari para penggunanya. Diketahui Pemerintah China dilaporkan melarang lembaga pemerintah, badan usaha milik negara, dan bank-bank besar memasang OpenClaw di perangkat kantor. Kecerdasan buatan agentik itu dinilai berisiko, mulai dari celah serangan siber hingga kebocoran data.

Guru Besar Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi (DTETI), Fakultas Teknik  UGM, Prof. Dr. Ir. Ridi Ferdiana, menjelaskan OpenClaw merupakab Agentic AI sebagai bentuk lanjutan dari kecerdasan buatan yang mampu membuat strategi perencanaan, pengambilan aksi kompleks, dan melakukan penyelesaian tugas secara mandiri. Konsep kerja OpenClaw memanfaatkan data internal pengguna dan data eksternal dari internet guna menyelesaikan tugas-tugas yang diperintahkan. Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa Agentic AI tersebut bersifat open source, dimana sumber atau proses pemrograman dapat dilihat publik dengan terbuka, tidak seperti closed source yang disediakan oleh penyedia. “Dari sinilah celah keamanan muncul, yang kemungkinan serangan siber atau kebocoran terjadi, baik pada skala individu maupun perusahaan,” kata Ridi, Minggu (5/4).

Menurutnya, OpenClaw bersifat open sources, ini bukan cuma gratis, tetapi sumbernya juga terbuka. Siapapun bisa melihat bagaimana proses pembuatannya sehingga banyak pengembang mempelajari dan berusaha membuat sistem serupa. Pakar Teknologi dan Informasi tersebut menyampaikan, masyarakat sering tidak memahami informasi yang tertera pada sistem konfigurasi dan mengabaikan imbauan untuk memperbarui perangkat. “Bagi mereka yang awam, perizinan pada perangkat kerap diabaikan dan langsung dilewati maupun asal diizinkan. Dari sinilah penyebab timbulnya risiko kebocoran data pada pengguna kecerdasan buatan, terlebih pada pengguna Agentic AI dengan sumber terbuka seperti OpenClaw,” paparnya.

Untuk menangani ancaman tersebut, tentu selalu ada upaya yang dapat dilakukan pengguna untuk meminimalisir risiko yang dapat menyebabkan kerugian, baik bagi individu maupun perusahaan. Ridi menjelaskan, pengguna wajib memahami sejauh mana kebutuhan pengguna terhadap OpenClaw. “Sebagian besar layanan yang disediakan OpenClaw sudah tersedia di penyedia pihak ketiga platform dan cloud, sehingga data vital lebih aman dan terjamin,” paparnya.

Ia menekankan pentingnya keyakinan bahwa sistem keamanan, perangkat, dan server pengguna telah aman. Setelah aman, upaya ekstra dalam membaca dan memahami menjadi penting untuk memastikan bahwa langkah perizinan atau konfigurasi aplikasi-aplikasi baru telah benar. Ketiga, pengguna dapat memeriksa adanya kebocoran data melalui pemantauan minimal dua bulan sekali. Hal ini penting untuk dilakukan, mengingat otomasi OpenClaw memiliki tendensi membuat skenario berbeda di luar kehendak individu dan perusahaan.

“Kita selalu bisa melakukan pembatasan akses terhadap data-data privat yang kita miliki. Kuncinya ada di aktivitas ekstra, ekstra membaca, ekstra memperbarui, ekstra memantau. Karena celah keamanan siapapun bisa terimbas, baik pribadi maupun perusahaan, yang membedakan hanya nilai data yang berpotensi bocor,” jelasnya.

Editor: arya abisatya
Sumber: https://ugm.ac.id/
Copyright 2023 Bungopos.com

Alamat: Graha Pena Jambi Ekspres,
Jl. Kapt. Pattimura No. 35 KM. 08
Kenali Besar, Kec. Alam Barajo, Kota Jambi

Telpon: -

E-Mail: bungoposonline@gmail.com