HANCUR LEBUR : Kondisi Gaza Palestina yang diboom Israel
JAKARTA, bungopos.com —Di tengah kabar tentang mulai berlakunya gencatan senjata sejak 11 Oktober, kenyataan di lapangan masih menyisakan duka yang mendalam. Jumlah korban tewas terus meningkat, kini mencapai 72.267 jiwa. Angka itu bukan sekadar statistik—ia adalah wajah-wajah manusia, cerita keluarga, dan harapan yang terputus. Mayoritas korban adalah perempuan dan anak-anak, kelompok paling rentan yang seharusnya dilindungi dalam setiap situasi konflik.
Di balik angka tersebut, sedikitnya 171.976 orang lainnya harus menjalani hari-hari dengan luka fisik dan trauma yang belum tentu bisa sembuh sepenuhnya. Rumah sakit yang tersisa bekerja di bawah tekanan, tenaga medis kelelahan, dan keluarga-keluarga bertahan dengan segala keterbatasan.
Dalam laporan yang disampaikan kepada Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa, Pelapor Khusus Francesca Albanese mengungkapkan gambaran yang lebih dalam tentang situasi ini. Ia menyebut bahwa sejak eskalasi terbaru, sistem penjara Israel pada praktiknya telah berubah menjadi “laboratorium” bagi praktik kekerasan berat yang disengaja.
Menurutnya, praktik-praktik yang sebelumnya tersembunyi kini justru dilakukan secara terbuka. Hal ini, kata Albanese, mencerminkan sebuah sistem yang tidak hanya mengabaikan martabat manusia, tetapi juga dibangun di atas penghinaan, rasa sakit, dan penyiksaan yang berlangsung secara sistematis—bahkan mendapatkan legitimasi hingga ke tingkat politik tertinggi.
Di tengah situasi ini, masyarakat internasional kembali dihadapkan pada pertanyaan besar: sejauh mana nilai-nilai kemanusiaan masih menjadi pijakan bersama? Gencatan senjata seharusnya menjadi awal pemulihan, bukan sekadar jeda dalam deru kekerasan.
Bagi warga Gaza, setiap hari adalah perjuangan untuk bertahan hidup—mencari air bersih, makanan, dan rasa aman yang semakin langka. Anak-anak yang seharusnya bermain dan belajar kini tumbuh dalam bayang-bayang ketakutan. Para ibu memeluk kehilangan, sementara para ayah berjuang menjaga sisa harapan.
Di balik semua itu, dunia diingatkan bahwa konflik bukan hanya soal wilayah dan politik, tetapi tentang manusia—tentang hak untuk hidup dengan aman, bermartabat, dan bebas dari rasa takut.
Dan ketika angka korban terus bertambah, satu hal menjadi semakin jelas: kemanusiaan tidak boleh berhenti pada rasa prihatin. Ia harus bergerak menjadi kepedulian nyata, suara yang lantang, dan tindakan yang menghadirkan harapan, sekecil apa pun, bagi mereka yang masih bertahan di tengah puing-puing kehidupan. (***)
Alamat: Graha Pena Jambi Ekspres,
Jl. Kapt. Pattimura No. 35 KM. 08
Kenali Besar, Kec. Alam Barajo, Kota Jambi
E-Mail: bungoposonline@gmail.com