Mohd Haramen

PUASA KE XXVI : Apel Melahirkan Imam

Posted on 2026-03-16 12:27:46 dibaca 176 kali

Oleh : Mohd Haramen, S.E, M.E,Sy

DIDALAM kitab Bariqah Mahmudiyyah fi Syarhi Thariqah Muhammadiyah wa Syari’ah Nabawiyah fi Sirah Ahmadiyah, karya ulama besar Abu Sa'id al-Khadimi, terdapat sebuah kisah sederhana yang menyimpan pelajaran besar tentang kejujuran, kehati-hatian terhadap yang halal, dan keberkahan hidup.

Suatu hari, seorang pemuda saleh bernama Tsabit berjalan di tepi sungai. Perutnya sangat lapar, sementara ia tidak membawa bekal sedikit pun. Ketika ia berwudhu di tepi sungai itu, matanya tertuju pada sebuah apel yang hanyut mengikuti arus air.

Tanpa berpikir panjang, ia mengambil apel itu. Ia membasuhnya sebentar lalu memakannya dengan penuh rasa syukur. Dalam kondisi lapar, apel itu terasa begitu nikmat.

Namun baru separuh buah itu ia makan, hatinya tiba-tiba bergetar.

Kesadarannya berbicara: Apel ini bukan milikku.

Sekecil apa pun yang masuk ke dalam tubuhnya, ia ingin memastikan semuanya halal. Karena itu, ia menghentikan makannya. Ia kemudian menelusuri aliran sungai, berharap dapat menemukan pemilik apel tersebut agar dapat meminta kerelaan.

Perjalanan itu tidak sebentar. Setelah mengikuti arus sungai cukup jauh, Tsabit menemukan sebuah kebun apel yang luas dan terawat. Ia mendekati seseorang yang berada di sana dan berkata dengan penuh kerendahan hati:

“Wahai Tuan, tadi aku menemukan sebuah apel yang hanyut di sungai. Karena lapar, aku memakannya tanpa izin. Kini aku datang memohon agar pemiliknya merelakan apel itu.”

Orang yang ditemuinya menjawab, “Aku hanya penjaga kebun ini. Aku tidak berhak menghalalkan apa pun. Temuilah pemilik kebun ini, ia tinggal di daerah lain.”

Tanpa ragu, Tsabit kembali menempuh perjalanan jauh untuk menemui pemilik kebun tersebut. Setelah sampai di rumahnya, ia mengulangi cerita yang sama dan memohon agar apel yang telah ia makan dihalalkan.

Pemilik kebun memandangnya lama, seolah menimbang sesuatu.

“Aku tidak akan menghalalkan apel itu,” kata lelaki tua itu, “kecuali dengan satu syarat.”

Tsabit menunduk.
“Apa syaratnya, Tuan?”

“Engkau harus menikahi putriku.”

Tsabit terkejut. Namun sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, lelaki itu melanjutkan:

“Ketahuilah, putriku bukan seperti yang engkau bayangkan. Ia lumpuh, tuli, bisu, dan buta. Jika engkau bersedia menikahinya, maka aku akan merelakan apel yang telah engkau makan.”

Tsabit terdiam lama.

Di satu sisi, syarat itu terasa sangat berat. Tetapi di sisi lain, ia takut sesuatu yang haram telah masuk ke dalam tubuhnya. Ia khawatir sepotong apel itu akan merusak keberkahan hidupnya.

Akhirnya ia berkata dengan penuh kepasrahan:

“Jika itu syaratnya, insyaAllah aku menerimanya.”

Pernikahan pun dilangsungkan.

Dengan hati yang berdebar, Tsabit menunggu saat ia pertama kali melihat wajah istrinya. Namun betapa terkejutnya ia ketika melihat perempuan di hadapannya: seorang gadis yang sangat cantik, sehat, dan sempurna.

Ia tidak lumpuh.
Tidak bisu.
Tidak tuli.
Dan tidak buta.

Tsabit pun bertanya penuh heran kepada istrinya mengapa ayahnya menggambarkan dirinya demikian.

Perempuan itu tersenyum lalu menjawab:

“Ayahku tidak berbohong. Ia mengatakan aku lumpuh karena aku tidak pernah berjalan menuju tempat maksiat. Ia mengatakan aku bisu karena lisanku tidak pernah berkata sia-sia. Ia mengatakan aku tuli karena telingaku tidak pernah mendengar hal yang diharamkan. Dan ia mengatakan aku buta karena mataku tidak pernah melihat sesuatu yang dilarang Allah.”

Mendengar jawaban itu, Tsabit menangis haru.

Ia menyadari bahwa Allah telah mengganti satu apel yang ia khawatirkan kehalalannya dengan anugerah seorang istri yang luar biasa akhlaknya.

Dari rahim perempuan salehah itulah kemudian lahir seorang anak yang kelak menjadi salah satu ulama terbesar dalam sejarah Islam yakni  Abu Hanifah.

Kisah ini mengajarkan sebuah rahasia besar kehidupan bahwa Keberkahan sering kali lahir dari hal-hal kecil yang dijaga dengan kejujuran.

Seandainya Tsabit mengabaikan apel itu dan berkata dalam hatinya, “Ah, hanya sebutir apel,” mungkin kisah besar itu tidak pernah terjadi.

Rasulullah mengingatkan dalam hadits yang diriwayatkan dan dinukil oleh Ibnu Hajar al-Asqalani:

"Siapa yang dagingnya tumbuh dari pekerjaan yang tidak halal, maka neraka lebih pantas baginya."

Ulama besar lainnya, Murtadha az-Zabidi, menjelaskan bahwa makanan yang masuk ke dalam tubuh manusia memiliki pengaruh besar terhadap perilakunya. Jika makanan itu haram, maka anggota tubuh akan mudah terdorong kepada maksiat. Sebaliknya, jika makanan itu halal, maka tubuh akan lebih mudah diarahkan kepada kebaikan.

Di sinilah makna mendalam dari ibadah puasa.

Puasa mengajarkan manusia menahan diri dari sesuatu yang halal—makan, minum, dan hubungan suami istri—sejak fajar hingga matahari terbenam. Logikanya sederhana namun sangat dalam: jika yang halal saja mampu kita tahan, seharusnya kita lebih mampu menjauhi yang haram.

Tujuan puasa adalah sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an: agar manusia mencapai derajat takwa.

Salah satu wujud nyata ketakwaan itu adalah memastikan bahwa setiap rezeki yang masuk ke dalam tubuh kita adalah rezeki yang halal.

Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi juga tentang membersihkan sumber rezeki kita.

Sebab siapa sangka, dari satu apel yang dijaga kehalalannya, Allah bisa menghadirkan keberkahan yang melahirkan seorang imam besar bagi umat manusia.

(Penulis adalah Wakil Ketua I Baznas Kabupaten Batang Hari bidang penghimpunan Zakat, Infaq dan Sedekah)

Penulis: Mohd Haramen
Editor: arya abisatya
Copyright 2023 Bungopos.com

Alamat: Graha Pena Jambi Ekspres,
Jl. Kapt. Pattimura No. 35 KM. 08
Kenali Besar, Kec. Alam Barajo, Kota Jambi

Telpon: -

E-Mail: bungoposonline@gmail.com