JAMBI, BungoPos.com – Keterbatasan lahan pertanian di tengah kawasan perkotaan tak menjadi penghalang bagi Pemerintah Kota (Pemkot) Jambi untuk memperkuat ketahanan pangan. Melalui program Semai Agrobiopori, lahan pekarangan hingga ruang terbuka di kawasan permukiman didorong menjadi ruang produktif untuk budidaya tanaman sekaligus pengolahan sampah organik rumah tangga.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kota Jambi, Evridal Asri, mengatakan program tersebut menjadi salah satu upaya mengoptimalkan potensi lahan yang masih tersedia di tengah keterbatasan kawasan pertanian di Kota Jambi.
“Kita tidak memiliki lahan pertanian yang luas, sehingga lahan pekarangan, lahan terbatas, dan ruang terbuka di kawasan permukiman perlu dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian,” kata Evridal di Jambi, Jumat.
Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), Kota Jambi memiliki sekitar 511 hektare lahan pertanian. Luasan tersebut terdiri atas 459 hektare sawah dan 52 hektare lahan hortikultura.
Menurut Evridal, Semai Agrobiopori tidak hanya berfokus pada kegiatan bercocok tanam, tetapi juga mengintegrasikan pertanian perkotaan dengan pengelolaan sampah organik dari rumah tangga.
Melalui konsep tersebut, sampah organik yang telah dipilah sejak dari sumber dapat dimanfaatkan sebagai bahan organik untuk menyuburkan tanaman. Pengolahannya dilakukan melalui kompos maupun pemanfaatan lubang biopori.
“Pengembangan pertanian skala perkotaan ini dapat berjalan beriringan dengan pengelolaan sampah dari sumber,” ujarnya.
Konsep itu juga dinilai sejalan dengan program Operator Pengumpul Sampah Berbasis Masyarakat (OPBM) yang dikembangkan Pemkot Jambi. Program tersebut mendorong masyarakat untuk melakukan pengurangan dan pemilahan sampah sejak dari rumah.
Hal ini dinilai penting mengingat produksi sampah di Kota Jambi mencapai sekitar 445,78 ton per hari. Dengan pemilahan yang dilakukan sejak sumber, sampah organik dapat diolah dan dimanfaatkan kembali, sementara sampah anorganik dapat dikelola sesuai jenisnya.
Di sisi lain, keterbatasan lahan membuat pola pertanian perkotaan menjadi alternatif yang dapat diterapkan masyarakat. Budidaya dapat dilakukan menggunakan polybag maupun sistem hidroponik, dengan komoditas seperti sayuran, cabai dan tanaman pangan lainnya.
Wali Kota Jambi Maulana mengatakan Semai Agrobiopori dirancang untuk menghubungkan tiga aspek sekaligus, yakni ketahanan pangan, pengelolaan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.
“Semai Agrobiopori ini mengintegrasikan pertanian perkotaan dengan pemanfaatan lahan terbatas, pekarangan dan lahan tidur untuk budidaya sayuran, cabai serta tanaman pangan menggunakan polybag dan hidroponik,” kata Maulana.
Selain menghasilkan pangan, masyarakat juga didorong mengolah sampah organik rumah tangga menjadi kompos. Sementara lubang biopori dapat dimanfaatkan untuk membantu meningkatkan resapan air sekaligus menjaga kondisi lingkungan di sekitar permukiman.
Maulana berharap program tersebut tidak berhenti pada pemanfaatan lahan pekarangan, tetapi berkembang menjadi gerakan bersama masyarakat dalam membangun ketahanan pangan dari lingkungan terkecil, yakni rumah tangga.
Menurutnya, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar Semai Agrobiopori dapat memberikan dampak lebih luas, baik dalam mengurangi sampah yang masuk ke tempat pemrosesan akhir, meningkatkan produktivitas lahan perkotaan, maupun menghadapi dampak perubahan iklim.
“Program ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan dan pemberdayaan masyarakat,” ujarnya.
Dengan demikian, lahan sempit yang selama ini belum produktif dapat dimanfaatkan menjadi sumber pangan, sementara sampah organik rumah tangga tidak lagi sekadar menjadi limbah, tetapi dapat dikembalikan menjadi bagian dari siklus pertanian perkotaan.
Pemkot Jambi menargetkan pendekatan tersebut dapat terus diperluas melalui kolaborasi pemerintah, masyarakat dan berbagai pihak sehingga pertanian perkotaan dan pengelolaan lingkungan dapat berjalan beriringan menuju Kota Jambi yang lebih tangguh dan berkelanjutan. (*)