MENYUSUT TAJAM : Harta orang terkaya di Indonesia

Orang Kaya Terguncang ! Enam Dari Tujuh Orang Terkaya di Indonesia Hartanya Menyusut Tajam

JAMBI, bungopos.com - Nama-nama besar masih bertahan. Angka kekayaan mereka tetap membuat mata terbelalak. Namun di balik gemerlap angka ratusan triliun rupiah, sebagian besar taipan terkaya Indonesia justru sedang melihat kekayaannya menyusut sepanjang tahun berjalan.

Data Bloomberg hingga akhir Juli 2026 memperlihatkan gambaran yang kontras.

Sukanto Tanoto berada di posisi teratas dengan kekayaan mencapai Rp423,23 triliun. Ia menjadi satu-satunya dari tujuh orang terkaya dalam daftar tersebut yang mencatat pertumbuhan kekayaan secara year-to-date.

Kekayaannya bertambah sekitar Rp32,41 triliun, atau naik 8,4 persen.

Di bawahnya, Prajogo Pangestu memiliki kekayaan sekitar Rp333,18 triliun. Namun angka tersebut turun tajam, dengan penurunan sekitar Rp498,88 triliun atau 60 persen secara year-to-date.

Posisi ketiga ditempati Low Tuck Kwong, dengan kekayaan sekitar Rp298,96 triliun. Kekayaannya tercatat turun Rp97,25 triliun, atau sekitar 24,6 persen.

Selanjutnya, Budi Hartono berada di posisi keempat dengan kekayaan Rp270,15 triliun, turun sekitar Rp75,64 triliun atau 22 persen.

Anthoni Salim menyusul dengan kekayaan Rp221,52 triliun, turun sekitar Rp66,63 triliun atau 23,2 persen.

Di posisi keenam, Dato Sri Tahir memiliki kekayaan sekitar Rp178,3 triliun, setelah mengalami penurunan Rp68,43 triliun atau 27,6 persen.

Sementara Otto Toto Sugiri menutup daftar tujuh besar dengan kekayaan sekitar Rp142,28 triliun, turun Rp18,01 triliun atau 11,1 persen.

Jika seluruh kekayaan tujuh nama tersebut dijumlahkan, nilainya mencapai sekitar Rp1.867,62 triliun.

Di antara tujuh taipan terkaya tersebut, hanya satu yang mencatat pertumbuhan kekayaan secara year-to-date: Sukanto Tanoto.

Sementara enam lainnya berada di zona penurunan.

Kontras ini menjadi semakin menarik ketika ditempatkan dalam konteks yang lebih luas. Indonesia sedang menghadapi tantangan untuk menjaga pertumbuhan ekonomi, memperkuat daya beli masyarakat, sekaligus memastikan manfaat pertumbuhan tidak hanya terkonsentrasi pada kelompok dengan kepemilikan aset terbesar. (***)

Editor: Arya Abisatya
Sumber: Data Bloomberg