FOTO BERSAMA : Marching Band Bahana Syahdu MTsN 7 Bungo dengan dewan juri internasional

Tak Harus Bawa Trofi, Bahana Syahdu MTsN 7 Bungo Buktikan di STIGMA 2026

MUARA BUNGO, bungopos.com — Sorak penonton mulai mereda ketika lampu GOR Serunai perlahan diredupkan pada Minggu malam (2/8/2026). Kejuaraan Marching Band Terbuka Se-Sumatra STIGMA Competition 2026 resmi ditutup. Namun, bagi para personel Drum Battle Marching Band Bahana Syahdu MTsN 7 Bungo, malam itu justru menyisakan momen yang paling membekas.

Bukan saat tepuk tangan menggema di arena, melainkan ketika mereka berdiri berdampingan dengan para dewan juri—tokoh-tokoh yang selama ini hanya mereka kenal melalui rekam jejak prestasi dan dunia marching band profesional. Satu per satu kamera mengabadikan kebersamaan itu, menghadirkan kenangan yang nilainya jauh melampaui sebuah foto.

Sesaat setelah seremoni penutupan, para anggota tim mendapat kesempatan berbincang langsung dengan para juri. Waktunya memang singkat, tetapi percakapan yang terjalin menjadi ruang belajar yang tak mungkin ditemukan di ruang latihan.

Mereka mendengarkan pandangan para profesional tentang disiplin, teknik, ekspresi musikal, hingga pentingnya menjaga karakter dalam setiap penampilan. Bagi para siswa, pertemuan tersebut menjadi pengalaman yang memperluas cara pandang mereka terhadap dunia marching band yang sesungguhnya.

Dewan juri yang hadir pada STIGMA Competition 2026 merupakan nama-nama yang memiliki pengalaman panjang di dunia marching band, baik di tingkat nasional maupun internasional. Mereka adalah Mr. Jimmy Wong dari Malaysia yang menilai kategori wind dan koreografi, Nimon Noer dari Jakarta sebagai juri battery percussion, serta Momon dari Semarang yang menangani penilaian General Effect (GE) dan koreografi.

Keberadaan para praktisi tersebut memberi warna tersendiri dalam kompetisi. Bagi peserta, setiap masukan yang diberikan bukan sekadar penilaian lomba, melainkan bekal untuk bertumbuh sebagai musisi muda yang terus belajar.

Pembina sekaligus Manajer Marching Band Bahana Syahdu MTsN 7 Bungo, Ahmad Mursalin, menilai kesempatan bertemu langsung dengan para juri merupakan bagian penting dari proses pendidikan karakter yang dibangun melalui dunia marching band.

"Kompetisi bukan hanya tentang siapa yang menjadi juara. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana anak-anak memperoleh pengalaman, belajar dari para profesional, dan membawa pulang semangat untuk terus berkembang. Bertemu langsung dengan para juri menjadi motivasi besar bagi mereka untuk terus berlatih dan meningkatkan kualitas penampilan," ujarnya.

Bagi MTsN 7 Bungo, keikutsertaan dalam STIGMA Competition 2026 tidak semata-mata mengejar prestasi di atas podium. Ajang tersebut menjadi ruang pembelajaran yang mempertemukan para siswa dengan budaya disiplin, kerja sama, kepemimpinan, serta semangat sportivitas yang menjadi fondasi dalam dunia marching band.

Pengalaman itu diharapkan menjadi titik awal bagi lahirnya pencapaian-pencapaian baru. Dengan bekal wawasan yang semakin luas dan motivasi yang semakin kuat, Bahana Syahdu MTsN 7 Bungo bertekad terus meningkatkan kualitas penampilan sekaligus membawa nama madrasah bersaing di berbagai kompetisi tingkat regional maupun nasional.

Di penghujung acara, foto bersama para juri memang hanya berlangsung beberapa menit. Namun bagi para personel Bahana Syahdu, momen itu akan dikenang jauh lebih lama—sebagai pengingat bahwa setiap langkah menuju prestasi besar selalu diawali dengan keberanian untuk belajar dari mereka yang telah lebih dahulu mencapai puncaknya. (***)

Editor: Arya Abisatya
Sumber: https://mtsn7bungo.mdrsh.id/