BUKU ONTOLOGI PUISI : Karya MAN 1 Bungo

Merawat Mimpi Lewat Puisi, MAN 1 Bungo Luncurkan Buku Ontologi Puisi

JAMBI, bungopos.com— Pagi itu aula MAN 1 Kota Jambi tidak hanya dipenuhi kursi-kursi yang tersusun rapi. Ia dipenuhi sesuatu yang lebih sulit dilihat: kegugupan, kebanggaan, dan harapan yang selama berbulan-bulan tumbuh diam-diam di balik lembaran buku tulis, layar komputer, serta coretan-coretan yang lahir dari kegelisahan para remaja.

Di atas panggung sederhana, beberapa siswa berdiri membawa selembar kertas. Mereka membaca puisi dengan suara yang sesekali bergetar. Tidak ada tepuk tangan yang tergesa. Yang terdengar justru keheningan—jenis keheningan yang hanya muncul ketika kata-kata berhasil menemukan tempatnya di hati para pendengar.

Pekan lalu menjadi hari yang akan dikenang oleh puluhan siswa MAN 1 Kota Jambi. Hari itu, karya-karya mereka resmi meninggalkan ruang kelas dan menjelma menjadi sebuah buku berjudul "Binar Mekar dari Langkahmu", antologi puisi pertama yang lahir dari tangan para siswa madrasah tersebut.

Judul itu terdengar puitis. Namun di baliknya tersimpan perjalanan panjang yang tidak sederhana. "Binar" adalah cahaya yang mulai tampak. "Mekar" adalah keberanian untuk bertumbuh. Dan "Langkahmu" adalah perjalanan setiap siswa yang perlahan menemukan suaranya sendiri.

Peluncuran buku itu mungkin berlangsung hanya beberapa jam. Tetapi proses yang melahirkannya memakan waktu berbulan-bulan.

Semuanya bermula dari ruang belajar yang disulap menjadi ruang kreativitas. Para siswa diperkenalkan kembali pada sastra, bukan sebagai materi pelajaran yang harus dihafal, melainkan sebagai cara memahami diri sendiri. Mereka belajar mengamati hujan, mengingat rumah, merawat kehilangan, hingga menerjemahkan harapan menjadi larik-larik puisi.

Di balik proses itu berdiri tiga guru yang dengan sabar mendampingi setiap tahap perjalanan kreatif para siswa: Melly Marina Oktavia, S.Pd., Gr., Wulandari, S.Pd., Gr., dan Meli Arnita, S.Pd. Mereka tidak sekadar mengoreksi tanda baca atau memilih diksi. Mereka membantu para siswa percaya bahwa pengalaman sederhana pun layak dituliskan.

Proses itu dimulai dari sosialisasi, berlanjut ke pralokakarya, lokakarya penulisan puisi, penyuntingan naskah, hingga akhirnya puluhan karya berhasil dihimpun menjadi sebuah buku. Bagi sebagian siswa, inilah kali pertama nama mereka tercetak sebagai penulis.

Ketika acara dimulai pukul 09.30 WIB, suasana aula perlahan berubah khidmat. Pembacaan Ummul Qur'an mengawali rangkaian kegiatan, disusul lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Mars Madrasah yang menggema memenuhi ruangan.

Namun momen paling mengesankan justru hadir ketika para penulis muda itu sendiri mengambil alih panggung.

Mereka membacakan puisi-puisi yang lahir dari pengalaman paling personal—tentang keluarga, persahabatan, mimpi, kecemasan, dan masa depan. Tidak ada efek panggung yang berlebihan. Kata-kata itulah yang menjadi pusat perhatian.

Barangkali di situlah letak makna sesungguhnya dari sebuah gerakan literasi.

Literasi bukan sekadar kemampuan membaca atau menulis. Ia adalah kemampuan memberi nama pada perasaan, memahami dunia, lalu membaginya kepada orang lain.

Kepala MAN 1 Kota Jambi bersama jajaran pimpinan madrasah kemudian meresmikan peluncuran buku melalui penarikan pita secara simbolis. Tepuk tangan memenuhi aula ketika buku antologi itu diserahkan kepada kepala madrasah dan kepala perpustakaan.

Buku tersebut kini bukan lagi milik para penulisnya semata. Ia menjadi bagian dari ingatan kolektif madrasah—sebuah jejak bahwa pernah ada empat puluh satu siswa yang memilih melawan kebisingan zaman dengan menulis.

Sebagai bentuk apresiasi, lima belas penulis terbaik menerima buku edisi cetak secara langsung. Tiga karya terbaik memperoleh penghargaan khusus beserta hadiah sederhana berupa cokelat.

Hadiahnya mungkin tidak besar.

Namun bagi seorang penulis muda, tidak ada penghargaan yang lebih bermakna daripada melihat namanya tercetak di sampul sebuah buku dan mengetahui bahwa kata-katanya akan dibaca orang lain.

Seluruh peserta kemudian menerima sertifikat sebagai penanda bahwa mereka telah melewati sebuah proses kreatif yang tidak semua orang berani menjalaninya.

Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat dan dipenuhi konten yang datang silih berganti, peluncuran "Binar Mekar dari Langkahmu" terasa seperti sebuah jeda.

Ia mengingatkan bahwa menulis masih memiliki ruang. Bahwa sastra masih mampu tumbuh di lingkungan madrasah. Dan bahwa di balik seragam sekolah yang dikenakan setiap hari, tersimpan anak-anak muda yang diam-diam sedang belajar memahami kehidupan melalui kata-kata.

Mungkin beberapa tahun lagi mereka akan menjadi dokter, guru, insinyur, peneliti, atau pemimpin.

Tetapi pada hari itu, mereka memperkenalkan diri dengan identitas yang paling sederhana sekaligus paling abadi:

Seorang penulis. (***)

Editor: Arya Abisatya
Sumber: https://man1kotajambi.mdrsh.id/