STOP ROKOK : Ancaman stunting menghantui keluarga Indonesia

Keluarga Miskin Lebih Memprioritas Rokok dari Gizi Anak, Ancaman Stunting Menghantui Keluarga Indonesia

Posted on 2026-11-02 23:48:10 dibaca 200 kali

YOGYAKARTA, bungopos.com — Persoalan stunting di Indonesia tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan pangan atau kemampuan keluarga membeli makanan bergizi. Di balik ancaman gagal tumbuh pada anak, terdapat persoalan lain yang tak kalah serius: prioritas belanja rumah tangga yang menempatkan rokok di atas kebutuhan nutrisi keluarga.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) memperlihatkan fenomena yang mengkhawatirkan. Pada sebagian rumah tangga miskin, pengeluaran untuk membeli rokok bahkan melampaui belanja sejumlah bahan pangan bergizi, seperti telur, susu, dan daging.

Kondisi ini menjadi perhatian pakar Promosi Kesehatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM), Prof. Dra. Yayi Suryo Prabandari, M.Si., Ph.D. Ia menilai kebiasaan merokok dalam keluarga bukan sekadar persoalan kesehatan individu, tetapi juga dapat memengaruhi kualitas hidup dan masa depan anak.

“Jelas memberikan dampak besar pada pemenuhan gizi keluarga. Sayangnya, di tingkat rumah tangga, tidak semua ibu memiliki daya tawar untuk mengatur alokasi anggaran belanja jika suami menjadi satu-satunya pencari nafkah,” ujar Yayi, Senin (2/11/2026).

Menurutnya, ketika sebagian pendapatan keluarga terserap untuk membeli rokok, kemampuan rumah tangga memenuhi kebutuhan nutrisi berpotensi berkurang. Situasi ini semakin rentan bagi keluarga berpenghasilan rendah yang harus membagi anggaran terbatas untuk pangan, pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan sehari-hari.

Rokok Bukan Sekadar Kebiasaan, tetapi Persoalan Kesejahteraan Keluarga

Yayi menjelaskan, kebiasaan merokok paling banyak ditemukan pada kelompok masyarakat miskin dan sangat miskin dalam sejumlah kajian yang menjadi perhatiannya.

Dalam situasi tekanan ekonomi, rokok terkadang diperlakukan sebagai sarana hiburan atau mekanisme menghadapi stres (coping mechanism). Namun, kebiasaan tersebut dapat menciptakan konsekuensi jangka panjang apabila pengeluaran rokok mengurangi kemampuan keluarga menyediakan makanan bergizi bagi anak.

Persoalan ini juga berkaitan dengan posisi perempuan dalam pengambilan keputusan ekonomi rumah tangga. Ketika suami menjadi satu-satunya pencari nafkah sekaligus pengendali utama anggaran, ibu belum tentu memiliki keleluasaan untuk memprioritaskan kebutuhan gizi anak.

Karena itu, edukasi mengenai bahaya rokok perlu melampaui pesan tentang risiko penyakit. Masyarakat juga perlu memahami bagaimana pengeluaran rokok dapat memengaruhi ketahanan ekonomi keluarga, pemenuhan gizi, serta kesempatan anak memperoleh tumbuh kembang yang optimal.

Perubahan Harus Dimulai dari Lingkungan Terdekat

Yayi menilai upaya mengurangi ketergantungan terhadap rokok tidak cukup dilakukan melalui imbauan tenaga kesehatan. Diperlukan gerakan berbasis masyarakat (grassroots) dengan melibatkan tokoh lokal yang memiliki kedekatan dan kepercayaan dari warga.

Lurah, ketua RT/RW, tokoh agama, serta pemimpin komunitas dinilai memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya rumah tangga sehat dan pemenuhan gizi anak.

“Pesan edukasi mengenai pentingnya masa depan dan gizi anak harus disampaikan oleh pihak yang dipercaya masyarakat. Kami dari bidang promosi kesehatan dapat memfasilitasi materi edukasinya, namun tokoh masyarakatlah yang menjadi penggeraknya di lapangan,” jelasnya.

Pendekatan tersebut diharapkan dapat mengubah perilaku secara bertahap, bukan melalui tekanan atau stigma terhadap keluarga perokok, melainkan dengan membangun kesadaran bahwa kesehatan anak merupakan tanggung jawab bersama.

Kebijakan Rokok Masih Menghadapi Tantangan

Selain perilaku rumah tangga, Yayi juga menyoroti tantangan kebijakan pengendalian tembakau di tingkat nasional dan daerah.

Kenaikan cukai rokok, misalnya, tidak selalu secara otomatis menurunkan konsumsi. Sebagian konsumen dapat beralih ke produk dengan harga lebih murah atau rokok ilegal tanpa cukai. Fenomena ini dikenal sebagai downtrading.

Di sisi lain, perlindungan anak dan remaja dari paparan rokok masih membutuhkan penguatan. Aturan pembatasan usia pembelian rokok belum sepenuhnya berjalan efektif di seluruh saluran penjualan, khususnya warung-warung kecil yang berada dekat dengan lingkungan permukiman.

Yayi mendorong pengembangan gerakan desa dan rumah bebas asap rokok sebagai bagian dari upaya menciptakan lingkungan yang lebih sehat.

“Kami terus mendorong lahirnya gerakan desa atau rumah bebas asap rokok. Di beberapa daerah seperti di DIY, beberapa pengelola warung bahkan sudah berani membuat kesepakatan untuk menolak menjual rokok kepada anak-anak,” tambahnya.

Menurutnya, perlindungan anak tidak cukup hanya dengan aturan tertulis. Diperlukan kesadaran kolektif agar keluarga, sekolah, masyarakat, dan pelaku usaha ikut mengambil bagian dalam mencegah anak mengenal dan mencoba rokok sejak usia dini.

Sekolah Menjadi Benteng Pencegahan Perilaku Merokok

Upaya pencegahan juga diarahkan kepada kelompok remaja. Melalui penelitian kolaboratif, FK-KMK UGM mengembangkan program peer supporter atau dukungan sebaya di lingkungan sekolah.

Program ini melibatkan siswa sebagai agen perubahan yang membantu membangun kesadaran teman sebaya mengenai risiko merokok.

Pendekatan tersebut dinilai penting karena pengaruh lingkungan pertemanan memiliki peran dalam membentuk perilaku remaja. Dengan dukungan teman sebaya, edukasi kesehatan diharapkan lebih mudah diterima dan menjadi bagian dari budaya sekolah.

Sisihkan Uang Rokok untuk Masa Depan Anak

Di akhir keterangannya, Yayi menyampaikan pesan sederhana tetapi mendalam kepada para kepala keluarga yang masih merokok. Ia mengajak mereka melihat kembali prioritas pengeluaran rumah tangga dan menempatkan kesehatan keluarga sebagai investasi paling berharga.

“Sayangilah anak dan istri. Langkah paling minimal yang bisa dilakukan adalah tidak merokok di dalam rumah. Pikirkanlah untuk memberikan makanan yang terbaik bagi keluarga, dan pelan-pelan sisihkan anggaran hobi merokok itu untuk memenuhi kebutuhan gizi anak-anak kita,” pungkasnya.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa keputusan ekonomi dalam keluarga memiliki dampak yang jauh melampaui hari ini. Uang yang dikeluarkan untuk rokok bukan hanya persoalan konsumsi pribadi, tetapi juga berkaitan dengan kesempatan anak memperoleh makanan bergizi, lingkungan sehat, dan masa depan yang lebih baik.

Pada akhirnya, pencegahan stunting membutuhkan lebih dari sekadar program pemberian makanan tambahan atau intervensi kesehatan. Perubahan pola konsumsi, pemberdayaan keluarga, perlindungan anak dari asap rokok, dan kesadaran orang tua dalam mengelola keuangan merupakan bagian penting dari upaya membangun generasi yang sehat.

Sebab, investasi terbaik sebuah keluarga bukanlah pada kebiasaan yang menghabiskan uang, melainkan pada kesehatan, pertumbuhan, dan masa depan anak-anaknya. (***)

Editor: Arya Abisatya
Sumber: https://ugm.ac.id/
Copyright 2023 Bungopos.com

Alamat: Graha Pena Jambi Ekspres,
Jl. Kapt. Pattimura No. 35 KM. 08
Kenali Besar, Kec. Alam Barajo, Kota Jambi

Telpon: -

E-Mail: bungoposonline@gmail.com