RADIKALISME : Bahaya radikalisme mengancam generasi muda
BUNGO, bungopos.com — Ancaman terhadap generasi muda tidak selalu datang dalam bentuk kekerasan yang terlihat. Di era digital, gagasan dan ideologi dapat masuk melalui layar gawai, media sosial, maupun berbagai ruang informasi yang setiap hari diakses remaja.
Kesadaran inilah yang mendorong Tim Penyuluh Agama Islam dari Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Pelepat Ilir, Kabupaten Bungo, memberikan edukasi mengenai bahaya radikalisme kepada siswa MTsN 4 Bungo, Rabu (30/9/2026).
Kegiatan yang berlangsung di aula madrasah tersebut diikuti puluhan siswa. Mengangkat materi Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS), para penyuluh mengajak siswa memahami pentingnya keberagamaan yang inklusif, toleran, dan moderat sebagai bagian dari upaya membangun ketahanan diri terhadap paham ekstrem.
Masa remaja menjadi salah satu fase penting dalam pembentukan identitas. Rasa ingin tahu yang tinggi, pencarian jati diri, serta derasnya arus informasi membuat siswa perlu memiliki kemampuan untuk memilah informasi dan memahami ajaran agama secara utuh.
Karena itu, edukasi mengenai radikalisme tidak semata-mata berbicara tentang ancaman, tetapi juga tentang bagaimana anak muda membangun cara berpikir yang kritis, terbuka, toleran, dan tetap berpegang pada nilai agama serta kebangsaan.
Para penyuluh KUA Pelepat Ilir juga menekankan pentingnya menjaga persatuan dan menghargai perbedaan. Nilai-nilai tersebut dinilai menjadi fondasi penting bagi siswa dalam menghadapi berbagai informasi dan pandangan yang mereka temui, baik di lingkungan sekolah maupun di ruang digital.
Kepala MTsN 4 Bungo, Ahmad Syarif, S.Pd.I, menyambut positif kegiatan tersebut. Menurutnya, pembentukan karakter dan pemahaman moderasi beragama perlu dilakukan sejak bangku madrasah.
“Di era digitalisasi dan keterbukaan informasi saat ini, tantangan ideologi sangatlah besar. Oleh karena itu, pemahaman tentang bahaya radikalisme serta penanaman nilai moderasi beragama sangat krusial agar para siswa tidak mudah terpengaruh oleh paham-paham yang menyimpang,” ujar Ahmad Syarif.
Menurutnya, sekolah tidak cukup hanya membekali siswa dengan pengetahuan akademik. Mereka juga membutuhkan benteng moral, kemampuan berpikir kritis, dan pemahaman keagamaan yang seimbang agar mampu menghadapi kompleksitas kehidupan modern.
Para siswa mengikuti penyampaian materi melalui layar proyektor dengan antusias. Diskusi dan penyampaian materi menjadi ruang bagi mereka untuk memahami bahwa menjaga toleransi bukan berarti mengurangi keyakinan terhadap agama, melainkan membangun sikap saling menghormati dalam kehidupan bersama.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa membentengi generasi muda merupakan tanggung jawab bersama—madrasah, keluarga, masyarakat, tokoh agama, dan negara.
Di tengah derasnya arus informasi, ketahanan generasi muda tidak cukup dibangun dengan larangan. Ia membutuhkan pengetahuan, dialog, keteladanan, dan kemampuan membedakan antara ajaran agama yang utuh dengan narasi ekstrem yang mengatasnamakan agama.
Melalui kegiatan BRUS ini, MTsN 4 Bungo bersama KUA Kecamatan Pelepat Ilir berupaya memperkuat fondasi tersebut: melahirkan generasi muda yang religius, kritis, toleran, cinta tanah air, serta mampu menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan arah. (***)
Alamat: Graha Pena Jambi Ekspres,
Jl. Kapt. Pattimura No. 35 KM. 08
Kenali Besar, Kec. Alam Barajo, Kota Jambi
E-Mail: bungoposonline@gmail.com