SUAMI ISTRI : Sama-sama berjuang di cabang Tafsir, MTQ tingkat Nasional di Semarang

Satu Rumah, Dua Hafiz, Satu Perjalanan Bersama Al-Qur’an

Posted on 2026-09-19 21:34:20 dibaca 202 kali

SEMARANG, bungopos.com — Di antara para peserta yang datang dari berbagai penjuru Indonesia untuk mengikuti Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI 2026 di Semarang, Muhammad Sauqi dan Amnah Abdullah membawa cerita yang berbeda.

Keduanya datang bersama Kafilah Kalimantan Selatan. Sama-sama hafiz 30 juz, sama-sama mendalami tafsir, dan sama-sama tampil pada cabang Tafsir Bahasa Inggris.

Namun ada satu hal yang membedakan mereka dari peserta lainnya. Sauqi dan Amnah adalah pasangan suami istri.

Di arena MTQ, keduanya berdiri sebagai peserta dengan tanggung jawab masing-masing. Mereka harus berkonsentrasi, menguasai materi, dan memberikan penampilan terbaik. Tetapi jauh sebelum sampai di panggung nasional, perjuangan itu telah berlangsung di rumah.

Di sanalah keduanya terbiasa bergantian membaca dan menyimak hafalan, mengulang ayat-ayat yang mulai samar, berdiskusi tentang tafsir, hingga berlatih menyampaikan pemahaman Al-Qur’an dalam Bahasa Inggris.

Karena itu, ketika Sauqi melihat Amnah berdiri di arena MTQ Nasional, yang dilihatnya bukan sekadar peserta lain dari Kalimantan Selatan. Ia melihat bagian dari perjalanan rumah tangga mereka.

“Ada rasa haru ketika melihat pasangan juga berdiri di arena yang sama, berjuang dengan hafalan Al-Qur’an dan kemampuan yang dimilikinya. Rasanya seperti melihat sebagian dari perjuangan rumah tangga kami hadir di atas panggung MTQ,” ungkap Sauqi.

Perjalanan mereka bersama Al-Qur’an sebenarnya dimulai jauh sebelum keduanya menjadi pasangan. Sauqi mulai menghafal Al-Qur’an pada usia 12 tahun, sementara Amnah telah memulainya sejak usia 10 tahun.

“Sejak kecil saya sudah diperkenalkan dengan membaca Al-Qur’an. Kemudian tumbuh keinginan untuk tidak hanya membacanya, tetapi juga menghafal dan memahami kandungannya,” tutur Sauqi.

Perjalanan menghafal 30 juz tidak selalu mudah. Ada ayat yang cepat melekat dalam ingatan, tetapi ada pula yang harus diulang berkali-kali. Ada masa ketika semangat begitu kuat, tetapi ada pula saat lelah datang dan konsentrasi tidak selalu mudah dijaga.

Namun ketika 30 juz berhasil diselesaikan, perjalanan itu ternyata belum berakhir. Justru muncul tanggung jawab yang lebih panjang: menjaga hafalan agar tetap hidup dalam ingatan dan dekat dengan kehidupan.

“Menghafal 30 juz bagi kami bukan perjalanan yang singkat. Menyelesaikan hafalan bukan berarti perjalanan selesai. Justru setelah 30 juz selesai, tantangan berikutnya adalah bagaimana mempertahankannya,” ujar mereka.

Pernikahan kemudian memberi keduanya teman dalam perjalanan tersebut. Ketika salah seorang membaca, yang lain menyimak. Ketika hafalan tersendat, pasangan membantu mengingatkan. Ketika salah seorang mulai lelah, yang lain berusaha memberikan semangat.

“Kalau soal mengingatkan, sebenarnya kami saling mengingatkan. Kadang saya yang mengingatkan, kadang Amnah,” ujar Sauqi.

“Kami berusaha saling menguatkan, bukan saling membebani. Karena kami sama-sama tahu bahwa menjaga hafalan itu membutuhkan proses yang panjang,” lanjutnya.

Rumah bagi mereka bukan hanya tempat berbagi kehidupan sebagai suami istri. Rumah juga menjadi ruang untuk merawat hubungan dengan Al-Qur’an.

Di sela aktivitas sehari-hari, keduanya melakukan murajaah, membahas ayat dan tafsir, serta berlatih Bahasa Inggris sebagai persiapan mengikuti MTQ. Bagi mereka, membaca Al-Qur’an tidak seharusnya menunggu datangnya waktu luang.

Waktu untuk Al-Qur’an justru harus disediakan.

“Di rumah bukan hanya berbagi kehidupan sebagai suami istri, tetapi juga berbagi perjuangan bersama Al-Qur’an,” tutur mereka.

Di MTQ Nasional XXXI 2026, perjalanan panjang tersebut diuji melalui cabang Tafsir Bahasa Inggris. Cabang ini tidak hanya membutuhkan hafalan 30 juz yang kuat. Peserta juga dituntut memahami kandungan ayat dan mampu menjelaskan tafsirnya dalam Bahasa Inggris.

“Tidak cukup hanya hafal ayat kalau tidak memahami kandungannya. Sebaliknya, memahami tafsir juga harus didukung kemampuan menyampaikan dengan bahasa yang baik,” jelas mereka.

Karena itu, persiapan Sauqi dan Amnah dilakukan secara beriringan. Murajaah terus dijaga, kajian tafsir diperdalam, sementara kemampuan Bahasa Inggris terus dilatih.

Bagi keduanya, kemampuan menyampaikan pesan Al-Qur’an dalam Bahasa Inggris juga memiliki makna yang lebih luas. Bahasa hanyalah jembatan. Pesan Al-Qur’an dapat disampaikan kepada siapa saja, melintasi daerah, bangsa dan latar belakang.

MTQ memang sebuah perlombaan. Ada penilaian, ada hasil, dan ada peserta yang mendapatkan penghargaan. Sauqi dan Amnah tentu ingin memberikan penampilan terbaik dan membawa nama Kalimantan Selatan.

Tetapi bagi keduanya, berdiri bersama di arena MTQ menghadirkan makna yang lebih dalam.

Orang yang berada di sisi mereka bukan sekadar peserta lain. Ia adalah pasangan yang mengetahui bagaimana panjangnya perjalanan sebelum sampai ke panggung tersebut. Ia tahu ayat mana yang harus diulang berkali-kali. Ia tahu bagaimana rasanya belajar ketika tubuh mulai lelah. Ia juga mengetahui doa, kegigihan dan pengorbanan yang tidak selalu terlihat oleh orang lain.

Karena itu, kemenangan bagi mereka tidak berhenti pada hasil perlombaan.

“Kemenangan yang paling utama adalah ketika Al-Qur’an semakin dekat dengan kehidupan kami dan perjalanan ini membuat kami semakin bersyukur kepada Allah,” tutur mereka.

MTQ Nasional XXXI 2026 di Semarang pada akhirnya akan selesai. Para peserta akan kembali ke daerah masing-masing. Arena perlombaan akan kembali sunyi dan cerita tentang panggung nasional perlahan menjadi kenangan.

Sauqi dan Amnah pun akan kembali ke Kalimantan Selatan.

Namun ada sesuatu yang tidak ikut selesai ketika MTQ ditutup. Masih ada 30 juz yang harus dijaga. Masih ada tafsir yang ingin terus dipahami. Masih ada ayat yang perlu kembali diulang ketika mulai samar.

Setelah panggung MTQ ditinggalkan, keduanya akan kembali pada keseharian. Membuka mushaf, membaca, menyimak, saling mengingatkan dan saling menguatkan.

Kepada pasangan muda, Sauqi dan Amnah berpesan agar Al-Qur’an tidak hanya hadir ketika rumah tangga menghadapi persoalan.

“Yang terpenting adalah menjadikan Al-Qur’an sebagai bagian dari kehidupan rumah tangga, bukan hanya dibaca ketika ada masalah,” pesan mereka.

Panggung MTQ mungkin hanya mempertemukan Sauqi dan Amnah dalam satu arena. Tetapi perjalanan menjaga 30 juz adalah perjalanan yang akan terus mereka jalani bersama.

Sebab bagi mereka, Al-Qur’an bukan hanya sesuatu yang dihafalkan untuk sebuah perlombaan. Ia adalah teman perjalanan, pengingat ketika lalai, sumber kekuatan ketika lelah, dan cahaya yang ingin terus mereka bawa pulang ke dalam rumah.

Dan mungkin, di situlah makna paling sederhana dari perjalanan dua hafiz ini: bukan sekadar menjadi pasangan hidup, tetapi menjadi dua orang yang saling menjaga agar tetap dekat dengan Kalam Allah. (***)

Editor: Arya Abisatya
Sumber: https://kemenag.go.id/
Copyright 2023 Bungopos.com

Alamat: Graha Pena Jambi Ekspres,
Jl. Kapt. Pattimura No. 35 KM. 08
Kenali Besar, Kec. Alam Barajo, Kota Jambi

Telpon: -

E-Mail: bungoposonline@gmail.com