ERUPSI : Letusan gunung anak krakatau

Abu Vulkanik Tak Sekadar Mengotori Udara, Ada Ancaman yang Mengintai Paru-Paru

Posted on 2026-09-18 18:27:04 dibaca 84 kali

YOGYAKARTA, bungopos.com - Erupsi gunung berapi selalu menyisakan lanskap yang berubah. Langit menggelap, jarak pandang menurun, dan lapisan abu menutupi jalan, rumah, pepohonan hingga lahan pertanian. Namun di balik pemandangan itu terdapat ancaman lain yang tidak selalu terlihat: partikel abu vulkanik yang melayang di udara dan masuk ke dalam sistem pernapasan manusia.

Abu vulkanik bukan sekadar debu biasa. Partikel yang dilepaskan saat gunung api meletus dapat berukuran sangat kecil sehingga mampu menembus jauh ke dalam saluran pernapasan. Bagi masyarakat yang tinggal atau beraktivitas di wilayah terdampak hujan abu, memahami risiko tersebut menjadi bagian penting dari upaya melindungi kesehatan.

Dokter Spesialis Paru dan Pernapasan Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM, dr. Ahmad Fikri Syadzali, Sp.P., menjelaskan bahwa komposisi abu vulkanik dapat beragam, termasuk mengandung silika dan kaca vulkanik. Ketika material tersebut bersentuhan dengan mukosa saluran pernapasan, tubuh dapat memberikan respons berupa iritasi dan peradangan.

“Material ini bisa mempengaruhi saluran napas. Ketika material ini kontak dengan mukosa saluran napas, dapat menyebabkan iritasi, inflamasi, batuk, peningkatan produksi mukus, dan bronkokonstriksi,” jelasnya saat diwawancarai, Jumat (18/9).

Seberapa besar dampaknya bergantung pada sejumlah faktor, antara lain ukuran partikel, komposisi mineral atau kaca vulkanik, konsentrasi abu di udara, serta lamanya seseorang terpapar.

Ukuran partikel menjadi salah satu persoalan utama. Partikel berdiameter kurang dari 10 mikrometer atau PM10 dapat melewati saluran pernapasan bagian atas dan mencapai bronkus. Sementara partikel yang jauh lebih kecil, yakni PM2,5, dapat masuk lebih dalam hingga bronkiolus dan alveolus—bagian paru-paru yang menjadi lokasi utama pertukaran oksigen.

“Semakin kecil partikelnya semakin dalam penetrasinya. Hal ini juga menyebabkan semakin sulit untuk dikeluarkan,” ujar Ahmad.

Di dalam tubuh, abu vulkanik dapat memicu rangkaian reaksi peradangan. Paparan tersebut dapat merusak epitel bronkus maupun alveolus, meningkatkan permeabilitas pembuluh darah, serta memicu edema atau pembengkakan pada jaringan saluran pernapasan. Produksi lendir juga dapat meningkat dan saluran napas mengalami penyempitan atau bronkokonstriksi.

Dalam jangka pendek, dampaknya bisa muncul dalam bentuk keluhan yang sering dianggap sepele: batuk, tenggorokan gatal atau perih, hidung berair maupun tersumbat, peningkatan produksi dahak, hingga sesak napas. Sebagian orang juga dapat mengalami napas berbunyi atau mengi.

Masalah menjadi lebih serius ketika paparan berlangsung berulang atau dalam konsentrasi tinggi. Peradangan pada saluran pernapasan dapat bertahan lebih lama dan, pada kondisi tertentu, paparan berkepanjangan dapat memengaruhi fungsi paru.

Salah satu perhatian khusus adalah kandungan silika dalam abu vulkanik. Menurut Ahmad, paparan jangka panjang atau peradangan yang terjadi berulang dapat meningkatkan risiko penyakit paru tertentu, termasuk silikosis paru dan kanker paru.

“Pada paparan jangka panjang atau inflamasi berulang dapat menyebabkan silikosis paru maupun kanker paru,” terangnya.

Risiko tersebut tidak sama bagi setiap orang. Anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta masyarakat yang telah memiliki penyakit pernapasan atau kardiovaskular perlu mendapat perhatian lebih karena kondisi mereka dapat membuat dampak paparan menjadi lebih berat.

Anak-anak, misalnya, masih berada dalam fase perkembangan fungsi paru. Sementara pada lansia, kapasitas dan fungsi paru dapat telah mengalami penurunan. Bagi seseorang yang sudah memiliki gangguan pernapasan atau penyakit kardiovaskular, paparan partikel dan gas vulkanik berpotensi memperburuk kondisi yang telah ada.

Karena itu, perlindungan terbaik tetap dimulai dari mengurangi paparan. Masyarakat di kawasan yang terdampak hujan abu dianjurkan mengurangi aktivitas di luar ruangan. Jika harus keluar rumah, penggunaan masker respirator yang sesuai, seperti N95, dapat membantu mengurangi jumlah partikel yang terhirup. Kacamata pelindung juga dapat digunakan untuk melindungi mata dari abu.

Ketika hujan abu berlangsung berat, masyarakat juga dianjurkan menghindari aktivitas berkendara. Selain meningkatkan risiko gangguan pernapasan, abu dapat mengurangi jarak pandang dan mengganggu keselamatan perjalanan.

Perlindungan tidak berhenti ketika seseorang masuk ke rumah. Pintu dan jendela perlu ditutup untuk mengurangi masuknya abu dari luar. Infiltrasi udara dari luar juga perlu diminimalkan. Setelah berada di lingkungan yang penuh abu, tubuh dan pakaian sebaiknya segera dibersihkan.

Makanan dan sumber air pun harus dilindungi dari kontaminasi. Abu vulkanik yang menempel pada permukaan makanan atau masuk ke sumber air dapat menjadi persoalan tersendiri sehingga kebersihan lingkungan dan perlindungan sumber konsumsi perlu diperhatikan.

Namun, kewaspadaan menjadi semakin penting ketika seseorang telah mengalami paparan dan mulai menunjukkan gejala yang lebih berat. Sesak napas yang berat atau semakin memburuk merupakan salah satu tanda yang tidak boleh diabaikan. Demikian pula ketika saturasi oksigen menurun, terutama apabila berada di bawah 92 persen, atau muncul sianosis yang ditandai perubahan warna kebiruan pada kulit dan bibir.

“Apabila sudah mengalami tanda-tanda tersebut, perlu segera mendapatkan pertolongan medis. Penanganan cepat dalam hal ini penting untuk mencegah kondisi pernapasan semakin buruk,” pungkas Ahmad.

Hujan abu mungkin hanya berlangsung sementara. Tetapi partikel yang masuk ke dalam paru-paru dapat meninggalkan dampak yang jauh lebih panjang. Di tengah situasi erupsi, kewaspadaan bukan berarti panik. Ia adalah cara sederhana untuk menjaga agar udara yang dihirup hari ini tidak berubah menjadi persoalan kesehatan di kemudian hari. (***)

Editor: Arya Abisatya
Sumber: https://ugm.ac.id/
Copyright 2023 Bungopos.com

Alamat: Graha Pena Jambi Ekspres,
Jl. Kapt. Pattimura No. 35 KM. 08
Kenali Besar, Kec. Alam Barajo, Kota Jambi

Telpon: -

E-Mail: bungoposonline@gmail.com