PERTUMBUHAN : Ekonomi Bungo ditopang oleh konsumsi rumah tangga
MUARA BUNGO, bungopos.com - Kabupaten Bungo sedang memperlihatkan wajah ekonomi yang menarik. Di satu sisi, konsumsi rumah tangga tetap menjadi tulang punggung perekonomian. Di sisi lain, struktur pertumbuhan menunjukkan pergeseran penting: kontribusi investasi belum kembali ke posisi awal periode, sementara ekspor neto justru menjadi salah satu komponen yang semakin menonjol.
Data Badan Pusat Statistik Kabupaten Bungo mengenai distribusi PDRB atas dasar harga berlaku menurut pengeluaran memperlihatkan dinamika tersebut sepanjang 2021–2025. Pada 2025, pengeluaran konsumsi rumah tangga menyumbang 49,83 persen terhadap struktur PDRB Bungo. Angka ini nyaris separuh dari keseluruhan aktivitas ekonomi daerah.
Namun dominasi konsumsi rumah tangga bukan berarti struktur ekonomi Bungo tidak berubah.
Pada 2021, konsumsi rumah tangga berada pada 52,99 persen. Setahun kemudian turun menjadi 47,30 persen, sebelum kembali naik menjadi 48,37 persen pada 2023, 49,97 persen pada 2024, dan 49,83 persen pada 2025.
Dengan kata lain, masyarakat tetap menjadi mesin terbesar ekonomi Bungo, tetapi porsinya tidak lagi sebesar pada awal periode pengamatan.
Di saat yang sama, komponen pembentukan modal tetap bruto—yang merefleksikan aktivitas investasi—menunjukkan perjalanan yang patut diperhatikan.
Kontribusinya mencapai 30,12 persen pada 2021, kemudian turun menjadi 25,60 persen pada 2022. Pada 2023 porsinya naik menjadi 26,73 persen dan kembali meningkat tipis menjadi 27,07 persen pada 2024. Namun pada 2025 kembali turun menjadi 25,43 persen.
Angka tersebut menyimpan pesan penting. Investasi tetap memiliki bobot besar dalam perekonomian Bungo, tetapi kontribusinya pada 2025 masih sekitar 4,69 poin persentase di bawah posisi 2021.
Justru komponen yang mengalami perubahan mencolok adalah net ekspor barang dan jasa.
Pada 2021, kontribusinya tercatat 9,52 persen. Angka tersebut melonjak menjadi 20,96 persen pada 2022, kemudian berada di 18,77 persen pada 2023, 16,66 persen pada 2024, dan 18,79 persen pada 2025.
Artinya, dalam lima tahun terakhir, ekspor neto telah menjadi komponen yang jauh lebih besar dalam struktur PDRB menurut pengeluaran dibandingkan pada 2021.
Jika ekonomi daerah diibaratkan sebuah mesin, data tersebut memperlihatkan bahwa mesin Bungo tidak hanya digerakkan oleh belanja masyarakat. Perdagangan eksternal juga memainkan peran yang semakin besar.
Sementara itu, pengeluaran konsumsi pemerintah relatif kecil, yakni 0,55 persen pada 2021, 0,49 persen pada 2022, 0,53 persen pada 2023, 0,59 persen pada 2024, dan 0,58 persen pada 2025.
Komponen konsumsi Lembaga Nonprofit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT) juga bergerak dalam porsi yang terbatas, dari 6,09 persen pada 2021 menjadi 4,53 persen pada 2025.
Perubahan struktur tersebut menjadi semakin menarik ketika dibandingkan dengan sebuah penelitian akademik mengenai faktor penentu pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bungo.
Penelitian Eva Riani, Haryadi dan Amril yang diterbitkan dalam Jurnal Perspektif Pembiayaan dan Pembangunan Daerah Universitas Jambi menemukan bahwa belanja modal pemerintah, tenaga kerja dan investasi merupakan faktor yang berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Bungo. Penelitian itu menggunakan data 2000–2010 dan model regresi berganda Ordinary Least Square (OLS).
Penelitian tersebut menemukan koefisien tenaga kerja sebesar 0,8538, investasi 0,0598 dan belanja modal pemerintah 0,0525. Ketiganya memiliki hubungan positif dengan pertumbuhan PDRB dalam model yang digunakan. Sebaliknya, inflasi dan tingkat suku bunga tidak menunjukkan pengaruh signifikan.
Temuan lama itu memberikan perspektif penting ketika dibaca berdampingan dengan struktur ekonomi Bungo 2021–2025.
Ada satu benang merah yang jelas: investasi tetap merupakan bagian penting dari kapasitas ekonomi daerah. Namun data terbaru menunjukkan tantangan yang lebih besar, yakni bagaimana memastikan investasi tidak berhenti sebagai angka dalam statistik, melainkan benar-benar menciptakan produksi, lapangan kerja, nilai tambah dan daya saing.
Sebab investasi bukan hanya soal berapa besar modal yang ditanam. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: ke mana modal itu mengalir, sektor apa yang tumbuh, berapa banyak tenaga kerja yang terserap, dan seberapa besar nilai tambah yang tinggal di Bungo?
Pertanyaan yang sama berlaku terhadap konsumsi rumah tangga.
Besarnya kontribusi konsumsi—49,83 persen pada 2025—menunjukkan betapa kuatnya peran masyarakat dalam menjaga denyut ekonomi daerah. Tetapi ekonomi yang terlalu bertumpu pada konsumsi juga menghadapi tantangan. Pertumbuhan yang lebih kokoh membutuhkan penguatan sisi produksi agar konsumsi masyarakat ditopang oleh pendapatan yang meningkat, pekerjaan yang produktif dan dunia usaha yang berkembang.
Di sinilah temuan penelitian terdahulu mengenai tenaga kerja menjadi relevan. Dalam penelitian tersebut, tenaga kerja menjadi variabel dengan koefisien paling besar di antara tiga faktor yang terbukti signifikan. Peningkatan tenaga kerja dikaitkan dengan peningkatan PDRB Bungo secara signifikan.
Dengan demikian, tantangan Bungo bukan sekadar meningkatkan aktivitas ekonomi, tetapi mengubah aktivitas ekonomi menjadi produktivitas.
Investasi harus menghasilkan pekerjaan. Pekerjaan harus menghasilkan pendapatan. Pendapatan kemudian mendorong konsumsi. Konsumsi menciptakan permintaan, sementara dunia usaha merespons dengan meningkatkan produksi dan investasi.
Siklus inilah yang membuat pertumbuhan ekonomi menjadi lebih sehat.
Data 2021–2025 juga memperlihatkan bahwa Bungo memiliki peluang lain: menguatnya peran ekspor neto. Kontribusinya pada 2025 mencapai 18,79 persen, hampir dua kali lipat dibandingkan 2021.
Namun angka tersebut perlu dibaca secara hati-hati. Distribusi PDRB menurut pengeluaran menunjukkan besarnya kontribusi net ekspor, tetapi tidak dengan sendirinya menjelaskan komoditas apa yang menjadi penyumbang utama, negara atau wilayah tujuan, maupun apakah peningkatan tersebut berasal dari kenaikan ekspor, perubahan impor, atau kombinasi keduanya. Karena itu, angka ini lebih tepat dibaca sebagai sinyal penting tentang perubahan struktur permintaan dan perdagangan ekonomi Bungo.
Pada akhirnya, data tersebut menghadirkan sebuah gambaran yang jauh lebih kompleks daripada sekadar pertanyaan apakah ekonomi Bungo tumbuh atau tidak.
Hampir separuh ekonomi Bungo pada 2025 masih ditopang konsumsi rumah tangga. Investasi menyumbang 25,43 persen. Ekspor neto mencapai 18,79 persen. Sementara konsumsi pemerintah berada di bawah satu persen.
Inilah wajah ekonomi Bungo yang sedang bergerak.
Penelitian akademik lebih dari satu dekade lalu telah mengingatkan bahwa pertumbuhan membutuhkan pemerintah yang produktif, tenaga kerja yang terserap dan investasi yang bergerak. Data terbaru menunjukkan satu dimensi tambahan yang semakin penting: kemampuan ekonomi daerah menembus pasar melalui perdagangan.
Maka pekerjaan rumah Bungo ke depan bukan hanya mengejar pertumbuhan yang tinggi, tetapi memastikan pertumbuhan itu memiliki kualitas: lebih banyak investasi produktif, lebih banyak pekerjaan, lebih tinggi produktivitas, lebih kuat dunia usaha, dan semakin besar nilai tambah yang tercipta di daerah.
Sebab ukuran keberhasilan ekonomi pada akhirnya bukan hanya seberapa besar PDRB bertambah.
Pertanyaan terpentingnya adalah: berapa banyak kehidupan masyarakat yang benar-benar ikut membaik ketika angka itu tumbuh? (***)
Alamat: Graha Pena Jambi Ekspres,
Jl. Kapt. Pattimura No. 35 KM. 08
Kenali Besar, Kec. Alam Barajo, Kota Jambi
E-Mail: bungoposonline@gmail.com