KETIMPANGAN : Ketimpangan antara kaya dan miskin makin mengangga
JAMBI, bungopos.com - Indonesia sedang memasuki fase baru dalam peta kekayaan global. Jumlah orang super kaya diproyeksikan melonjak tajam dalam lima tahun ke depan, menjadikan Indonesia salah satu negara dengan pertumbuhan populasi ultra-kaya paling cepat di dunia.
Laporan konsultan properti asal Inggris, Knight Frank, menempatkan Indonesia di posisi teratas dalam proyeksi pertumbuhan populasi orang super kaya. Kelompok ini merujuk pada individu dengan kekayaan sekitar Rp500 miliar atau lebih.
Pada 2026, jumlah orang super kaya di Indonesia diperkirakan mencapai 3.833 orang. Dalam lima tahun, jumlah tersebut diproyeksikan meningkat 82 persen menjadi 6.966 orang pada 2031.
Artinya, dalam periode tersebut Indonesia berpotensi menambah sekitar 3.133 orang super kaya baru.
Lonjakan ini bukan sekadar statistik kekayaan. Pertumbuhan populasi super kaya akan ikut mengubah wajah ekonomi Indonesia—mulai dari pola investasi, kepemilikan aset, pasar properti, konsumsi barang mewah hingga distribusi kekayaan.
Namun, pertumbuhan kekayaan di lapisan paling atas tersebut terjadi ketika Indonesia menghadapi persoalan lain: kelas menengah terus tertekan dan pertumbuhan ekonomi berisiko melambat.
Direktur Kebijakan Fiskal CELIOS (Center of Economic and Law Studies), Dr. Media Wahyudi Askar, mengatakan fenomena tersebut memperlihatkan semakin lebarnya jurang ekonomi di Indonesia.
Studi CELIOS menggambarkan Indonesia sebagai negara dengan dua wajah ekstrem. Di satu sisi, terdapat sekitar 1.700 orang super kaya. Bahkan, kekayaan 50 orang terkaya disebut telah setara dengan total kekayaan sekitar 55 juta penduduk Indonesia.
Pertumbuhan jumlah orang super kaya juga berpotensi memperbesar konsentrasi kepemilikan aset. Kelompok dengan kekayaan sangat besar memiliki daya beli, kemampuan investasi dan pengaruh ekonomi yang jauh lebih kuat dibandingkan mayoritas masyarakat.
CELIOS menilai konsentrasi kekayaan tersebut bahkan dapat berpengaruh terhadap pembentukan harga di sejumlah sektor, seperti transportasi daring, LPG dan properti. Pengaruh kelompok kaya juga dinilai dapat merambah ranah politik melalui pendanaan partai.
Di tengah ledakan jumlah super kaya, jutaan masyarakat Indonesia justru menghadapi tekanan biaya hidup dan menyusutnya ruang ekonomi kelas menengah.
Kontras inilah yang menjadi persoalan utama.
Indonesia mungkin akan memiliki hampir 7.000 orang super kaya pada 2031. Tetapi pertanyaan yang lebih penting bukan hanya berapa banyak orang yang menjadi kaya.
Pertanyaannya: seberapa banyak masyarakat Indonesia yang ikut naik kelas bersama mereka?
CELIOS menawarkan salah satu instrumen untuk menjawab persoalan tersebut melalui penerapan wealth tax sebesar 2 persen terhadap aset di atas Rp84 miliar.
Kebijakan tersebut diperkirakan berpotensi menghasilkan sekitar Rp142 triliun per tahun yang dapat dialokasikan untuk membiayai layanan kesehatan, transportasi publik, beasiswa pendidikan hingga pembangunan rumah layak bagi masyarakat rentan.
Dengan demikian, ledakan jumlah orang super kaya bukan semata kabar baik atau buruk. Ia menjadi indikator penting tentang ke mana arah distribusi pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Jika kekayaan tumbuh cepat hanya di puncak piramida, Indonesia berisiko memiliki ekonomi yang semakin besar tetapi kesenjangan yang juga semakin lebar.
Sebaliknya, jika pertumbuhan kekayaan kelompok elite diikuti kebijakan redistribusi yang efektif, bertambahnya orang super kaya dapat menjadi salah satu sumber pembiayaan pembangunan yang lebih besar.
Indonesia sedang menuju era 7.000 super kaya. Tantangannya bukan menghentikan orang menjadi kaya, melainkan memastikan kemakmuran tidak berhenti di puncak piramida. (***)
Alamat: Graha Pena Jambi Ekspres,
Jl. Kapt. Pattimura No. 35 KM. 08
Kenali Besar, Kec. Alam Barajo, Kota Jambi
E-Mail: bungoposonline@gmail.com