AGRIBISNIS : Universitas Jambi tawarkan gagasan penguatan agribisnis sawit swadaya melalui adopsi FEROTRAP.

Saat Sawit Diremajakan, Bagaimana Petani Bertahan? UNJA Tawarkan FEROTRAP

Posted on 2026-08-12 23:13:55 dibaca 105 kali

MUARO JAMBI, bungopos.com — Bagi petani sawit swadaya, replanting bukan sekadar mengganti tanaman tua dengan bibit baru. Di balik proses peremajaan itu ada persoalan yang jauh lebih besar: bagaimana menjaga kebun tetap menjadi sumber penghidupan ketika tanaman belum kembali menghasilkan.

Persoalan inilah yang menjadi perhatian Tim Pengabdian Fakultas Pertanian Universitas Jambi (FAPERTA UNJA). Senin, 10 Agustus 2026, tim tersebut turun langsung ke Desa Bukit Baling, Kecamatan Sekernan, Kabupaten Muaro Jambi, membawa gagasan penguatan agribisnis sawit swadaya melalui adopsi FEROTRAP.

Kegiatan bertajuk “Model Penguatan Agribisnis Sawit Swadaya Melalui Adopsi FEROTRAP untuk Ketahanan dan Keberlanjutan Ekonomi Petani pada Masa Replanting di Muaro Jambi” itu diarahkan bukan hanya untuk memperkenalkan inovasi, tetapi juga memperkuat kesiapan petani menghadapi fase paling rentan dalam siklus perkebunan sawit.

Replanting memiliki konsekuensi ekonomi yang nyata. Ketika tanaman lama ditebang dan tanaman baru belum menghasilkan, petani menghadapi jeda produksi. Pada fase inilah kemampuan mengelola kebun, mengadopsi inovasi, sekaligus menjaga sumber pendapatan menjadi sangat menentukan.

Ketua Tim Pengabdian, Karina Rahmah, S.P., M.Si., mengatakan pendampingan tersebut dirancang untuk membantu petani memahami tantangan replanting sekaligus menyiapkan strategi agar usaha perkebunan tetap berkelanjutan.

“Kegiatan ini kami laksanakan untuk mendampingi petani sawit swadaya agar memiliki pemahaman dan kesiapan dalam menghadapi masa replanting. Melalui pengenalan dan adopsi FEROTRAP, kami berharap petani dapat memperoleh alternatif inovasi yang mendukung pengelolaan perkebunan sekaligus memperkuat keberlanjutan ekonomi mereka,” ujar Karina.

Menurut dia, penguatan kapasitas petani tidak cukup berhenti pada persoalan teknis budidaya. Yang tidak kalah penting adalah memastikan petani memiliki kemampuan mempertahankan keberlangsungan usaha dan sumber pendapatan ketika kebun memasuki masa peremajaan.

Tim pengabdian FAPERTA UNJA yang dipimpin Karina Rahmah melibatkan Dr. Mirawati Yanita, S.P., M.M.; Ulidesi Siadari, S.P., M.Sc.; Sri Utami Lestari, S.P., M.Si.; Ir. M. Farandika Akbar, S.P., M.Si.; serta Muhammad Abdurokhim, S.P., M.P.

Di hadapan para petani, tim membahas penguatan agribisnis sawit swadaya, tantangan replanting, serta peluang penerapan inovasi untuk mendukung pengelolaan perkebunan yang lebih efektif. Petani juga mendapatkan pengenalan mengenai penerapan FEROTRAP di lingkungan perkebunan.

Bagi Poniran, salah seorang petani yang mengikuti kegiatan, pendampingan tersebut memberikan perspektif baru mengenai pengelolaan kebun sawit.

“Kami mendapatkan pengetahuan baru mengenai pengelolaan kebun dan penggunaan FEROTRAP. Pendampingan seperti ini sangat membantu kami sebagai petani, terutama dalam menghadapi masa replanting,” katanya.

Ia berharap inovasi yang diperkenalkan dapat diterapkan secara optimal dan memberikan manfaat nyata bagi keberlanjutan usaha perkebunan petani.

Kegiatan tidak berlangsung satu arah. Materi, diskusi, dan pengenalan penerapan FEROTRAP menjadi ruang bagi petani untuk menyampaikan kondisi serta persoalan yang mereka hadapi langsung di lapangan. Dari interaksi itu, perguruan tinggi memperoleh gambaran lebih dekat mengenai kebutuhan petani, sementara petani mendapatkan akses terhadap pengetahuan dan inovasi.

Langkah UNJA ini memperlihatkan bahwa persoalan sawit tidak semata-mata tentang produksi dan harga. Di tingkat petani, keberlanjutan juga ditentukan oleh kemampuan melewati masa transisi ketika kebun belum kembali menghasilkan.

Karena itu, replanting harus dipandang bukan hanya sebagai agenda peremajaan tanaman, tetapi juga sebagai ujian ketahanan ekonomi petani.

Melalui pendampingan dan adopsi inovasi, UNJA berharap petani sawit swadaya di Muaro Jambi semakin siap menghadapi fase tersebut. Tujuan akhirnya bukan sekadar membuat tanaman baru kembali produktif, melainkan memastikan petani tetap memiliki masa depan ketika kebunnya sedang dibangun kembali.

Dari kebun yang diremajakan, UNJA ingin memastikan satu hal: produktivitas boleh berhenti sementara, tetapi harapan dan ketahanan ekonomi petani tidak boleh ikut berhenti. (***)

Editor: Arya Abisatya
Sumber: https://www.unja.ac.id/
Copyright 2023 Bungopos.com

Alamat: Graha Pena Jambi Ekspres,
Jl. Kapt. Pattimura No. 35 KM. 08
Kenali Besar, Kec. Alam Barajo, Kota Jambi

Telpon: -

E-Mail: bungoposonline@gmail.com