Walikota Jambi, dr. Maulana

Kemarau Melanda, Pemkot Jambi Pertimbangkan Kolam Retensi Jadi Sumber Air Baku

Posted on 2026-08-10 13:43:25 dibaca 138 kali

JAMBI, BungoPos.com – Kemarau berkepanjangan mulai menekan ketersediaan air baku Perumdam Tirta Mayang Kota Jambi. Turunnya debit Sungai Batanghari membuat tingkat kekeruhan air meningkat dan memaksa perusahaan daerah mengurangi produksi air bersih hingga sekitar 20 persen.

Kondisi tersebut berdampak pada pelayanan kepada sebagian pelanggan. Di sisi lain, warga yang tidak terlayani jaringan PDAM mulai menghadapi persoalan lain karena sumber air sumur di sejumlah wilayah ikut menyusut akibat kemarau.

Wali Kota Jambi, Maulana mengatakan kondisi tersebut harus dihadapi dengan langkah darurat sekaligus mulai menyiapkan solusi jangka panjang. Ia meminta Perumdam Tirta Mayang memaksimalkan distribusi air bersih kepada masyarakat yang terdampak berkurangnya pasokan.

“Memang kondisi kemarau menyebabkan debit air Batanghari turun dan kekeruhan meningkat. Akibatnya produksi harus dikurangi. Di sisi lain, masyarakat yang tidak menggunakan PDAM juga mulai mengalami sumurnya kering,” ujar Maulana.

Menurutnya, pengurangan produksi bukan semata-mata persoalan kapasitas Perumdam Tirta Mayang. Langkah tersebut diperlukan karena kondisi air baku yang semakin keruh membutuhkan penyesuaian dalam proses pengolahan agar kualitas air yang didistribusikan kepada pelanggan tetap memenuhi standar.

Namun, Maulana menilai persoalan tersebut tidak boleh hanya diselesaikan setiap kali musim kemarau datang. Pemerintah Kota Jambi perlu mulai memikirkan sumber air baku alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap kondisi Sungai Batanghari.

Salah satu opsi yang akan dipertimbangkan adalah pemanfaatan kolam retensi sebagai sumber air baku tambahan bagi Perumdam Tirta Mayang.

“Kita juga harus berpikir soal ketersediaan air baku. Bisa kita pertimbangkan nanti apakah kolam-kolam retensi ini bisa menjadi sumber air baku bagi PDAM. Dengan debit yang cukup, ini bisa menjadi salah satu sumber air karena tidak berhubungan langsung dengan Sungai Batanghari,” katanya.

Menurut Maulana, gagasan tersebut perlu dikaji secara serius, terutama dari sisi ketersediaan debit, kualitas air, kapasitas tampungan, hingga kelayakan pengolahan sebelum air dimanfaatkan sebagai sumber air minum.

Ia menilai diversifikasi sumber air baku penting karena persoalan penurunan debit dan perubahan kualitas air sungai berpotensi kembali terjadi setiap tahun ketika musim kemarau berlangsung panjang.

“Ke depan ini harus dipikirkan karena masalah seperti ini memang terjadi setiap tahun,” tegasnya.

Sementara untuk menghadapi kondisi saat ini, Maulana meminta Perumdam Tirta Mayang memperluas pelayanan distribusi air bersih menggunakan mobil tangki. Bantuan tersebut terutama diarahkan ke kawasan yang mengalami penurunan pasokan atau masyarakat yang sumber airnya mulai mengering.

Ia meminta distribusi dilakukan secara maksimal dengan memprioritaskan wilayah yang paling terdampak.

“Kami sudah perintahkan PDAM untuk mengantarkan kebutuhan air bersih semaksimal mungkin ke daerah-daerah yang memang terdampak kekeringan,” ujarnya.

Maulana juga mengimbau masyarakat menggunakan air secara hemat selama musim kemarau. Menurutnya, keterbatasan air saat ini merupakan dampak kondisi alam yang membutuhkan penyesuaian dari seluruh pihak.

Di sisi lain, Perumdam Tirta Mayang sebelumnya menyampaikan pengurangan produksi air bersih sekitar 20 persen akibat meningkatnya kekeruhan air baku Sungai Batanghari.

Direktur Utama Perumdam Tirta Mayang Kota Jambi Arianto mengatakan penyesuaian produksi dilakukan untuk menjaga kualitas air yang diterima pelanggan. Menurut dia, semakin tinggi tingkat kekeruhan air baku, semakin besar penyesuaian yang diperlukan dalam proses pengolahan.

Sebelumnya, pengurangan produksi berada di kisaran 10 persen. Namun, kondisi air baku yang semakin keruh membuat penyesuaian ditingkatkan menjadi sekitar 20 persen.

Dampaknya mulai dirasakan pelanggan, terutama yang mendapat pasokan dari Instalasi Pengolahan Air (IPA) Broni dan IPA Tanjung Sari. Sekitar 5.300 sambungan rumah (SR) disebut terdampak akibat berkurangnya jam pelayanan.

Perumdam memperkirakan kondisi tersebut dapat berlangsung hingga September 2026, tergantung perkembangan musim kemarau dan kondisi Sungai Batanghari.

Untuk mengurangi dampak terhadap masyarakat, Perumdam menyiapkan distribusi air bersih menggunakan mobil tangki secara gratis bagi wilayah yang mengalami gangguan. Perusahaan juga menyiapkan pompa bergerak serta melakukan pemasangan pipa intake untuk menjaga keberlangsungan pengambilan air baku.

Arianto mengatakan proses pengolahan tetap dilakukan sesuai standar operasional dan kualitas air tetap menjadi prioritas meskipun produksi harus dikurangi.

“Kami memohon maaf atas ketidaknyamanan yang dirasakan pelanggan. Langkah ini kami lakukan agar kualitas air yang diterima masyarakat tetap terjaga,” katanya.

Bagi Pemkot Jambi, persoalan air baku menjadi pekerjaan yang tidak bisa hanya mengandalkan penanganan ketika kemarau tiba. Pemerintah perlu mulai menyiapkan sistem cadangan dan sumber air alternatif agar pelayanan air bersih lebih tahan terhadap perubahan kondisi alam.

Kajian pemanfaatan kolam retensi menjadi salah satu opsi yang akan dipertimbangkan. Jika secara teknis dan kualitas air memungkinkan, keberadaan sumber air yang tidak bergantung langsung pada debit Sungai Batanghari dapat menjadi salah satu alternatif untuk memperkuat ketahanan air Kota Jambi.

Sementara itu, masyarakat diminta tetap menggunakan air secara bijak hingga kondisi sumber air kembali membaik. Pemkot Jambi juga memastikan penanganan di lapangan akan terus dilakukan, terutama untuk memastikan kebutuhan dasar air masyarakat di kawasan terdampak tetap terpenuhi.(*)

Penulis: Linnaliska
Editor: Linnaliska
Copyright 2023 Bungopos.com

Alamat: Graha Pena Jambi Ekspres,
Jl. Kapt. Pattimura No. 35 KM. 08
Kenali Besar, Kec. Alam Barajo, Kota Jambi

Telpon: -

E-Mail: bungoposonline@gmail.com